SUNGAIPENUH – Sungai Batang Merao kembali meluap setelah hujan deras mengguyur kawasan hulu dalam dua hari terakhir. Luapan air yang melintasi Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh ini kembali menimbulkan banjir di sejumlah titik di Kerinci, sementara Kota Sungai Penuh mulai menunjukkan perbaikan signifikan dari ancaman banjir tahunan.
Di Kabupaten Kerinci, banjir masih merendam wilayah langganan, terutama di Kecamatan Depati Tujuh, Siulak, dan Lubuk Suli. Ketinggian air di beberapa titik meningkat sejak Kamis malam, memaksa sebagian warga mengevakuasi barang berharga ke tempat yang lebih tinggi. Kondisi ini kembali menegaskan bahwa kawasan hulu sungai menjadi wilayah yang paling rentan setiap terjadi intensitas hujan tinggi.
Situasi berbanding terbalik tampak di Kota Sungai Penuh. Meski sama-sama berada di lintasan Sungai Batang Merao, wilayah kota mulai aman dari banjir yang sebelumnya selalu menjadi ancaman tahunan. Sejak awal 2025, sejumlah program normalisasi sungai yang dikerjakan melalui APBN dan APBD mulai menunjukkan hasil nyata bagi pengendalian arus sungai.
Tak hanya normalisasi sungai, Pemerintah Kota Sungai Penuh juga melakukan pembersihan drainase secara masif, termasuk pengerukan sedimentasi dan pengangkatan sampah dari saluran air. Upaya tersebut disertai kampanye intensif kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke drainase maupun sungai, yang kini mulai terlihat dampaknya.
Sementara di Kerinci, kurangnya upaya normalisasi sungai disebut menjadi salah satu penyebab banjir berulang. Sejumlah warga menilai pemerintah daerah belum menunjukkan langkah nyata untuk pengendalian banjir, terutama di kawasan hulu yang memiliki dampak besar terhadap wilayah di bawahnya. Tumpukan sampah di sejumlah aliran air juga memperburuk kondisi banjir yang kembali terjadi.
“Kami sangat prihatin karena masyarakat Kerinci masih harus menghadapi banjir. Harusnya dari awal dilakukan normalisasi dan penanganan serius,” ujar Hendri, warga Kerinci. Ia menyebut bahwa upaya jangka panjang sangat dibutuhkan agar banjir tidak terus menjadi masalah musiman tanpa solusi.
Hendri menambahkan bahwa kebutuhan masyarakat saat ini bukan sekadar kunjungan pejabat saat banjir berlangsung, tetapi langkah konkret yang memberikan perubahan nyata. “Yang dibutuhkan masyarakat adalah tindakan dan solusi. Bukan hanya turun meninjau, tapi menghadirkan upaya pengendalian banjir yang benar-benar dirasakan,” tegasnya.
Perbandingan antara kondisi Sungai Penuh dan Kerinci di tahun ini memperlihatkan bahwa intervensi pemerintah pada sisi pengendalian sungai dan manajemen drainase memiliki dampak besar. Meski demikian, risiko banjir tetap perlu diwaspadai mengingat intensitas hujan di kawasan pegunungan masih tinggi dan potensi luapan sungai bisa terjadi sewaktu-waktu.
Penulis : Fanda Yosephta