BI Rate Naik 100 Basis Poin, Dana Asing Serbu SBN dan SRBI

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 16 Juli 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KAYONEWS.CO.ID – Bank Indonesia (BI) mencatat arus modal asing kembali mengalir ke pasar keuangan domestik setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin. Kebijakan tersebut dinilai berhasil meningkatkan daya tarik instrumen keuangan Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan arus dana asing mulai kembali masuk ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sepanjang Juni hingga awal Juli 2026.

Dana Asing Masuk Rp33 Triliun ke SBN

Menurut Destry, aliran modal asing ke pasar obligasi pemerintah menunjukkan tren positif setelah sebelumnya mengalami tekanan pada kuartal pertama 2026.

“Sepanjang Juni hingga awal Juli, inflow di Surat Berharga Negara sudah mencapai sekitar Rp33 triliun. Padahal pada kuartal I, SBN masih mengalami arus keluar (outflow),” ujarnya dalam Investment Forum di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (15/7/2026).

Secara kumulatif, setelah memperhitungkan arus keluar pada awal tahun, investasi asing di pasar SBN masih mencatat arus masuk bersih sebesar Rp17,7 triliun.

SRBI Catat Inflow Rp174 Triliun

Selain SBN, instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga mencatat peningkatan minat investor.

Baca Juga :  Bank Global Mulai Pangkas Bunga Kredit, Kapan Indonesia Menyusul

Bank Indonesia mencatat arus dana asing yang masuk ke SRBI sepanjang Juni hingga awal Juli mencapai Rp72 triliun. Secara kumulatif selama 2026, nilai inflow pada instrumen tersebut telah mencapai sekitar Rp174 triliun.

Peningkatan tersebut menunjukkan respons positif investor terhadap kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia.

BI Rate Naik untuk Jaga Stabilitas Ekonomi

Destry menjelaskan, kenaikan BI Rate dilakukan sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan inflasi, sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Selain itu, kebijakan tersebut bertujuan menciptakan penyesuaian tingkat imbal hasil (repricing) pada instrumen SRBI dan SBN agar tetap kompetitif dibandingkan negara lain.

Menurutnya, langkah tersebut juga menjadi sinyal kuat bahwa Bank Indonesia siap menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah meningkatnya risiko global.

Investor Masih Waspadai Risiko Pasar Saham

Meski aliran dana asing mulai kembali masuk ke pasar obligasi, Bank Indonesia mengakui tekanan masih terjadi di pasar saham.

Destry menyebut ketidakpastian ekonomi global dan meningkatnya persepsi risiko terhadap Indonesia membuat sebagian investor masih memilih menarik dananya dari pasar saham.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan risk premium Indonesia, sehingga investor meminta tingkat imbal hasil yang lebih tinggi sebelum menempatkan investasi di dalam negeri.

Baca Juga :  Cara Cicilan HP Tanpa DP di Tokopedia 2026, Mudah Tanpa Kartu Kredit

BI Optimistis Kebijakan Mulai Membuahkan Hasil

Bank Indonesia menilai kenaikan BI Rate merupakan kebijakan yang bersifat sementara (front loading) untuk meredam gejolak pasar dan mengantisipasi tekanan inflasi, termasuk yang dipicu kenaikan harga pangan akibat faktor cuaca.

Dengan mulai pulihnya arus modal asing ke instrumen SBN dan SRBI, BI optimistis stabilitas sektor keuangan nasional akan semakin terjaga dan mampu mendukung pemulihan ekonomi ke depan.


FAQ

Mengapa BI menaikkan BI Rate?
Untuk menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, meredam arus modal keluar, dan meningkatkan daya tarik investasi di Indonesia.

Berapa dana asing yang masuk ke SBN?
Sepanjang Juni hingga awal Juli 2026, dana asing yang masuk ke Surat Berharga Negara mencapai sekitar Rp33 triliun.

Berapa inflow ke SRBI?
Arus masuk dana asing ke SRBI mencapai Rp72 triliun pada Juni-awal Juli, dengan total kumulatif sekitar Rp174 triliun sepanjang 2026.

Mengapa pasar saham masih mengalami outflow?
Investor masih mempertimbangkan tingginya ketidakpastian global dan persepsi risiko investasi di Indonesia.

Berita Terkait

BNI Tawarkan KPR Cermat, Saldo Tabungan Bisa Bikin Cicilan Rumah Lebih Ringan
Purbaya Siapkan Teknologi Track and Trace untuk Cegah Pemalsuan Pita Cukai
Bidik Pasar BSD, Bank Sinarmas Buka Priority Lounge
Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf
Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Kategori, Bansos, dan Cara Mengetahui Statusnya
BCA Bagikan Dividen Interim Rp3,07 Triliun
Bank Mandiri Minta Maaf Terkait Rekening Koordinator AMPB, Ini Penjelasannya
PPh Final UMKM Dibatasi, Ini 3 Wajib Pajak yang Masih Bisa Menggunakannya
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 30 Agustus 2026 - 18:00 WIB

BNI Tawarkan KPR Cermat, Saldo Tabungan Bisa Bikin Cicilan Rumah Lebih Ringan

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Bidik Pasar BSD, Bank Sinarmas Buka Priority Lounge

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:00 WIB

Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Kategori, Bansos, dan Cara Mengetahui Statusnya

Selasa, 25 Agustus 2026 - 02:00 WIB

BCA Bagikan Dividen Interim Rp3,07 Triliun

Berita Terbaru

Pemerintahan

Kuota Internet Tak Boleh Hangus Lagi, Ini Aturan Baru Komdigi

Minggu, 30 Agu 2026 - 22:00 WIB