SUNGAIPENUH— Di sebuah bengkel las sederhana di sudut Kota Sungai Penuh, terdengar dentuman besi beradu api las. Di balik percikan api itu, berdiri sosok pria berambut gondrong dengan syal melilit kepala.
Hen Madura, tukang las rumahan yang kisah hidupnya menginspirasi banyak orang.
Dua puluh tahun lalu, hidup Hen berubah drastis. Istri tercintanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas. Saat itu, anak bungsunya baru berusia tiga bulan, sementara si sulung baru tiga tahun.
“Saya sempat hilang arah. Tapi kalau saya jatuh, siapa yang akan membesarkan anak-anak ini?” kenang Hen dengan mata berkaca-kaca.
Sejak saat itu, Hen berjuang sendirian. Ia sempat menjadi sopir truk lintas pulau, berpindah dari satu daerah ke daerah lain demi sesuap nasi.
Namun, nasib membawanya kembali ke kampung halaman. Ia pun memutuskan membuka bengkel las kecil di rumahnya.
Dengan tangan terampil, ia merangkai besi menjadi pintu, pagar, hingga rak. Meski tampil sederhana, hasil karyanya dikenal rapi dan kuat. Perlahan, pelanggan pun berdatangan.
“Kalau kerja, saya selalu niatkan buat anak-anak. Besi keras pun bisa lunak kalau ingat mereka,” ujarnya sambil tersenyum tipis.
Kerja kerasnya tak sia-sia. Kini, kedua anak Hen telah tumbuh menjadi kebanggaannya. Anak sulungnya berhasil lulus dari Universitas Andalas, Sumatera Barat, dan kini tengah melanjutkan studi S2 di Belanda.
Sementara anak bungsunya lulus sebagai PNS guru SD dan bertugas di Kota Sungai Penuh.
“Yang penting bukan besar kecilnya pekerjaan, tapi keikhlasan dan tanggung jawabnya,” kata Hen, menatap bengkel kecil yang menjadi saksi perjuangannya.
Bagi Hen Madura, besi mungkin keras, tapi hati seorang ayah jauh lebih kuat.
Dari bengkel las di pinggir kota kecil, ia membuktikan bahwa cinta dan keteguhan bisa mengantarkan anak-anaknya menembus batas dunia, bahkan sampai ke negeri kincir angin.(fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Dedi Dora









