JAKARTA — IHSG hari ini, Jumat 18 September 2026, ditutup melemah 0,33 persen ke level 6.441,16.
Indeks Harga Saham Gabungan turun 21,27 poin dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya di level 6.462,43.
IHSG sempat bergerak positif pada awal perdagangan. Indeks dibuka di level 6.512,57 dan mencapai posisi tertinggi 6.521,02.
Namun, tekanan jual kemudian membawa indeks turun. IHSG bahkan sempat menyentuh level terendah 6.419,49.
Berdasarkan data perdagangan, sebanyak 212 saham menguat. Sebaliknya, 464 saham melemah dan 287 saham tidak berubah.
Nilai transaksi saham mencapai Rp19,06 triliun. Sementara volume perdagangan tercatat 30,38 miliar saham dengan frekuensi sekitar 1,90 juta transaksi.
Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia berada di kisaran Rp11.266 triliun. Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan tetap besar meski IHSG berakhir di zona merah.
The Fed Naikkan Suku Bunga
Salah satu perhatian utama investor datang dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat. Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 3,75-4,00 persen.
Kebijakan tersebut meningkatkan perhatian terhadap arah aliran modal global. Suku bunga AS yang lebih tinggi dapat memengaruhi daya tarik aset berbasis dolar dan pasar negara berkembang.
Proyeksi terbaru juga menunjukkan 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan masih ada sedikitnya satu kenaikan suku bunga pada 2026.
Karena itu, investor kini tidak hanya memperhatikan keputusan suku bunga. Pasar juga akan mencermati pernyataan pejabat The Fed dan data ekonomi Amerika Serikat berikutnya.
Rupiah Kembali Tertekan
Tekanan terhadap pasar saham juga berlangsung bersamaan dengan pelemahan rupiah.
Rupiah di pasar spot ditutup pada Rp17.758 per dolar AS pada Jumat, melemah sekitar 0,03 persen. Penurunan tersebut menjadi pelemahan selama tujuh hari perdagangan berturut-turut.
Bank Indonesia juga mencatat kurs transaksi USD pada 18 September berada pada kisaran Rp17.841,76 untuk kurs jual dan Rp17.664,24 untuk kurs beli.
Pergerakan rupiah menjadi perhatian investor karena perubahan nilai tukar dapat memengaruhi perusahaan yang memiliki eksposur terhadap dolar AS.
Apa Dampaknya bagi Investor?
Kombinasi suku bunga AS, rupiah, harga minyak dan arus modal menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam perdagangan saham berikutnya.
Pasar global juga menghadapi tekanan dari kebijakan moneter sejumlah bank sentral. Reuters melaporkan pasar saham dan obligasi global mengalami tekanan pada akhir pekan perdagangan setelah sejumlah bank sentral memperketat kebijakan untuk merespons inflasi.
Harga minyak juga menjadi perhatian karena harga yang tinggi dapat meningkatkan tekanan inflasi. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga.
Di dalam negeri, investor juga akan mencermati kebijakan fiskal pemerintah serta agenda Bank Indonesia pada pekan berikutnya.
Karena itu, investor perlu melihat pergerakan IHSG bersama fundamental perusahaan, kondisi sektor, nilai tukar, suku bunga dan risiko pasar.
Pelemahan IHSG pada satu hari perdagangan juga tidak berarti seluruh saham mengalami penurunan. Data Jumat menunjukkan masih ada 212 saham yang ditutup menguat.
Dengan kondisi pasar yang sensitif terhadap suku bunga, investor perlu memperhatikan perkembangan terbaru sebelum mengambil keputusan investasi.
Data IHSG 18 September 2026:
| Indikator | Nilai |
|---|---|
| IHSG | 6.441,16 |
| Perubahan | -0,33% |
| Perubahan poin | -21,27 |
| Pembukaan | 6.512,57 |
| Tertinggi | 6.521,02 |
| Terendah | 6.419,49 |
| Saham menguat | 212 |
| Saham melemah | 464 |
| Saham stagnan | 287 |
| Nilai transaksi | Rp19,06 triliun |
| Volume | 30,38 miliar saham |
| Frekuensi | 1,90 juta transaksi |
| Kapitalisasi pasar | Rp11.266 triliun |
(*)
Editor : Fanda Yosephta









