Kurs Dolar AS Makin Mahal, Rupiah Ditutup Melemah di Tengah Sentimen The Fed

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 26 Mei 2026 - 02:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI-Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada penutupan perdagangan Senin, 25 Mei 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pelemahan rupiah terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve System yang diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga tinggi hingga akhir tahun.

Kondisi ini membuat dolar AS kembali menguat terhadap mayoritas mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

The Fed Jadi Pemicu Utama Pelemahan Rupiah

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan rupiah dipicu oleh pernyataan sejumlah pejabat The Fed yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga apabila inflasi AS belum terkendali.

Salah satu pejabat The Fed, Christopher Waller, disebut menegaskan bahwa bank sentral AS tidak akan ragu menaikkan suku bunga bila inflasi bergerak di atas target.

Pasar juga menilai Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, berpotensi mempertahankan kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas inflasi di Amerika Serikat.

“Kemungkinan besar suku bunga tetap tinggi hingga akhir tahun 2026,” ujar Ibrahim.

Tingginya suku bunga AS membuat investor global cenderung menempatkan dana mereka di aset berbasis dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.

Akibatnya, aliran modal asing dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, berpotensi meningkat.

Investor Menanti Data Ekonomi Amerika Serikat

Selain faktor suku bunga, pasar juga tengah menunggu sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Beberapa data yang menjadi perhatian investor antara lain:

  • Produk Domestik Bruto (PDB) AS kuartal I-2026
  • Data sektor perumahan
  • Indeks inflasi pilihan The Fed
  • Core Personal Consumption Expenditures (PCE)
Baca Juga :  Pemerintah Longgarkan Aturan DHE SDA, Berlaku Mulai 1 September 2026

Data-data tersebut akan menjadi indikator penting bagi arah kebijakan suku bunga AS ke depan.

Jika inflasi masih tinggi, peluang kenaikan suku bunga The Fed akan semakin besar dan dapat memberikan tekanan tambahan terhadap mata uang negara berkembang.

Konflik Timur Tengah Masih Membayangi Pasar

Selain sentimen ekonomi, kondisi geopolitik global juga ikut mempengaruhi pergerakan rupiah.

Pasar saat ini masih memantau perkembangan hubungan Amerika Serikat dengan Iran, terutama terkait pembahasan perdamaian dan ketegangan di Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan minyak dunia sehingga setiap ketegangan di kawasan tersebut dapat mempengaruhi harga energi global dan stabilitas pasar keuangan.

Ibrahim menilai peluang tercapainya kesepakatan damai masih penuh tantangan.

“Yang lebih penting itu masalah uranium dan dana Iran yang dibekukan sejak lama. Perdamaian ini kemungkinan besar bisa gagal,” katanya.

Ketidakpastian geopolitik biasanya membuat investor global mencari aset aman seperti dolar AS dan emas, yang pada akhirnya menekan mata uang negara berkembang.

Defisit Anggaran Jadi Tekanan dari Dalam Negeri

Dari sisi domestik, pasar juga masih mencermati kondisi defisit anggaran pemerintah yang dinilai menjadi salah satu faktor pelemahan rupiah.

Meski harga minyak dunia mengalami penurunan, sentimen tersebut belum mampu mengangkat kepercayaan pasar terhadap mata uang rupiah.

“Negara tetangga mayoritas menguat, tetapi rupiah justru melemah,” ujar Ibrahim.

Investor juga masih menunggu langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang meningkat.

Baca Juga :  Rupiah Melemah ke Rp18.029 per Dollar AS, Ini Daftar Barang yang Berpotensi Mahal

JISDOR Ikut Bergerak Melemah

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, kurs rupiah juga melemah ke level Rp17.743 per dolar AS.

Angka tersebut lebih rendah dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.717 per dolar AS.

Pelemahan ini menunjukkan tekanan terhadap rupiah masih cukup besar meski pemerintah sebelumnya optimistis nilai tukar akan kembali menguat melalui kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA).

Pasar Menunggu Langkah Pemerintah dan BI

Pelaku pasar kini menanti langkah konkret pemerintah dan Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas rupiah dan mengendalikan arus modal keluar.

Beberapa langkah yang diperkirakan akan dilakukan antara lain:

  • Intervensi pasar valuta asing
  • Stabilitas pasar obligasi negara
  • Penguatan cadangan devisa
  • Pengetatan kebijakan moneter jika diperlukan

Stabilitas nilai tukar rupiah dinilai sangat penting karena berpengaruh terhadap inflasi, harga pangan, biaya impor, hingga iklim investasi nasional.

FAQ

Mengapa rupiah melemah terhadap dolar AS?

Rupiah melemah akibat ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, ketidakpastian global, dan sentimen defisit anggaran domestik.

Berapa kurs rupiah hari ini?

Rupiah ditutup di level Rp17.744 per dolar AS pada perdagangan Senin, 25 Mei 2026.

Apa pengaruh suku bunga The Fed terhadap rupiah?

Suku bunga AS yang tinggi membuat investor lebih memilih aset dolar AS sehingga mata uang negara berkembang seperti rupiah tertekan.

Apa itu JISDOR?

JISDOR adalah kurs referensi rupiah terhadap dolar AS yang diterbitkan Bank Indonesia.

Apa dampak rupiah melemah?

Pelemahan rupiah dapat mempengaruhi harga impor, inflasi, biaya produksi, hingga daya beli masyarakat.

Berita Terkait

Komdigi Atur Tarif Ojol Antar Makanan dan Barang, Ini Perinciannya
BPOM Terbitkan Aturan Baru Kemasan Pangan 2026, Ini Perubahan Pentingnya
Joki Baca Buku Makin Ramai, Tarifnya Tembus Rp 700.000 per Buku
Rupiah Menguat ke Rp17.900 per Dolar AS, Ini 3 Faktor Pendorongnya
Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi
Harga BBM Jambi, Sumbar, Sumut 13 Oktober 2026: Cek Pertamax dan Solar Terbaru
Bunga Deposito Bank Digital Tembus 9%, Apakah Uang Nasabah Dijamin LPS?
Daftar Perusahaan Asuransi Terbaik 2026, Prudential hingga BRI Life Raih Penghargaan BIFA
Berita ini 44 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:05 WIB

Komdigi Atur Tarif Ojol Antar Makanan dan Barang, Ini Perinciannya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 21:00 WIB

BPOM Terbitkan Aturan Baru Kemasan Pangan 2026, Ini Perubahan Pentingnya

Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Joki Baca Buku Makin Ramai, Tarifnya Tembus Rp 700.000 per Buku

Selasa, 13 Oktober 2026 - 10:00 WIB

Pertamina Kembangkan Biogasoline Sawit dan Bioetanol Sorgum untuk Ketahanan Energi

Selasa, 13 Oktober 2026 - 07:10 WIB

Harga BBM Jambi, Sumbar, Sumut 13 Oktober 2026: Cek Pertamax dan Solar Terbaru

Berita Terbaru