Virus Nipah Berasal dari Alam, Kelelawar Buah Jadi Inang Utama

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 30 Januari 2026 - 20:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Ancaman Virus Nipah kembali menjadi sorotan seiring meningkatnya kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis yang berpotensi mematikan. Virus ini diketahui berasal dari alam dan menjadikan kelelawar buah sebagai inang alaminya, sebelum akhirnya dapat berpindah ke manusia melalui berbagai jalur paparan.

Virus Nipah dikenal berbahaya karena mampu menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan radang otak akut. Tingkat kematian akibat infeksi ini tergolong tinggi, terutama jika tidak terdeteksi sejak dini.

Guru Besar Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis IPB University, Prof. Agus Setiyono, menjelaskan bahwa risiko penularan sering kali tidak disadari karena kelelawar pembawa virus tidak menunjukkan tanda-tanda sakit.

“Kelelawar tetap terlihat normal, padahal dapat membawa virus berbahaya. Ini yang membuat masyarakat sering lengah,” ujarnya, Jumat (30/1/2026).

Lingkungan Jadi Faktor Kunci Penularan

Kelelawar buah banyak ditemukan hidup di sekitar pepohonan, kebun, hingga bangunan rumah. Dalam aktivitas sehari-hari, hewan ini meninggalkan urine, kotoran, air liur, serta sisa buah yang berpotensi membawa virus Nipah.

Ketika cairan tersebut mencemari makanan atau lingkungan sekitar, risiko penularan ke manusia pun meningkat. Kondisi ini diperparah oleh rusaknya habitat alami akibat alih fungsi hutan.

Baca Juga :  Wabah Nipah di India, Negara Asia Tingkatkan Kewaspadaan

“Hilangnya hutan memaksa kelelawar mencari makan di kebun warga. Interaksi inilah yang membuka peluang penularan,” kata Prof. Agus.

Penularan Tidak Hanya dari Hewan

Epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan bahwa Virus Nipah tidak hanya menular dari hewan ke manusia, tetapi juga dapat menyebar antar manusia dalam kondisi tertentu.

“Kontak erat dengan pasien, terutama melalui cairan tubuh saat perawatan, dapat menjadi jalur penularan,” jelas Dicky.

Karena itu, penanganan pasien dan penerapan protokol kesehatan yang ketat menjadi faktor penting dalam mencegah penyebaran lebih luas.

Karakteristik Kelelawar Buah

Kelelawar buah memiliki adaptasi biologis yang unik. Rahang dan giginya kuat untuk menghancurkan buah, sementara lidahnya panjang untuk menjangkau nektar. Sistem pencernaannya memungkinkan hewan ini mengonsumsi banyak buah dalam waktu singkat.

Kemampuan terbang jauh membuat kelelawar buah berperan dalam penyebaran biji tanaman, namun sekaligus meningkatkan potensi penyebaran virus ke wilayah yang lebih luas.

Baca Juga :  Waspada Pusing Tiba-tiba! Ini Penyebab, Cara Mengatasi, dan Tanda Berbahaya yang Sering Diabaikan

Lembaga The Institute for Environmental Research and Education (IERE) mencatat bahwa makanan kelelawar buah meliputi berbagai jenis buah tropis, seperti pisang, pepaya, mangga, ara, durian, hingga nangka.

Gejala Virus Nipah pada Manusia

Infeksi Virus Nipah dapat dimulai dengan keluhan ringan seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan batuk. Namun pada sebagian kasus, kondisi dapat memburuk menjadi gangguan pernapasan hingga ensefalitis.

Gejala ensefalitis meliputi mengantuk berlebihan, kebingungan, penurunan kesadaran, hingga koma. Masa inkubasi virus berkisar antara 4–14 hari, dan dalam kasus tertentu dapat lebih panjang.

Imbauan Pencegahan

Para ahli menekankan pentingnya langkah pencegahan sederhana namun efektif, seperti tidak mengonsumsi buah yang jatuh atau tampak rusak, mencuci buah sebelum dimakan, serta menghindari kontak langsung dengan kelelawar.

“Kesadaran masyarakat adalah kunci utama untuk mencegah penularan penyakit dari satwa liar,” tegas Prof. Agus.

Pemahaman terhadap peran kelelawar buah dalam rantai penularan Virus Nipah diharapkan dapat membantu masyarakat lebih waspada dan melindungi diri dari ancaman penyakit serius ini.

Berita Terkait

Jadwal Libur Nasional Juni 2026 Resmi, Ini Daftar Tanggal Merah dan Long Weekend yang Wajib Dicatat
Kabar Baik untuk Pemda! Dana DBH dan DAU Mulai Cair Sejak Januari 2026
Kontroversi Film Pesta Babi Berlanjut, Tokoh Adat Papua Tempuh Jalur Hukum
CFD Rasuna Said Resmi Digelar Setiap Minggu Mulai 7 Juni 2026, Simak Jadwal dan Aturannya
Update Tarif SIM A dan SIM C 2026, Ini Biaya Resmi serta Syarat Lengkapnya
Purbaya Mengaku Belum Tahu Detail Anggaran Sapi Kurban Presiden Rp 100 Miliar
WHO Ungkap Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Naik Jadi 13 Orang
Rupiah Melemah ke Rp17.830, Pemerintah Pastikan APBN Masih Terkendali
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 09:00 WIB

Jadwal Libur Nasional Juni 2026 Resmi, Ini Daftar Tanggal Merah dan Long Weekend yang Wajib Dicatat

Sabtu, 30 Mei 2026 - 05:01 WIB

Kabar Baik untuk Pemda! Dana DBH dan DAU Mulai Cair Sejak Januari 2026

Sabtu, 30 Mei 2026 - 00:05 WIB

Kontroversi Film Pesta Babi Berlanjut, Tokoh Adat Papua Tempuh Jalur Hukum

Jumat, 29 Mei 2026 - 15:39 WIB

CFD Rasuna Said Resmi Digelar Setiap Minggu Mulai 7 Juni 2026, Simak Jadwal dan Aturannya

Kamis, 28 Mei 2026 - 16:06 WIB

Update Tarif SIM A dan SIM C 2026, Ini Biaya Resmi serta Syarat Lengkapnya

Berita Terbaru