Viral Kisah Shanaz Bertahan 4 Hari di Longsor Aceh: Dari Ketakutan Hingga Akhirnya Diselamatkan

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Desember 2025 - 21:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

ACEH — Perjalanan dinas seorang wanita asal Medan berubah menjadi kisah menyentuh tentang ketabahan dan harapan. Shanaz, pengguna TikTok @shanazalzamru, membagikan pengalaman pahit namun penuh hikmah ketika dirinya bertahan hidup selama empat hari setelah terjebak longsor besar di kawasan Bireuen, Aceh, akhir November lalu. Perjalanannya yang semula hanya urusan pekerjaan mendadak menjelma menjadi perjuangan panjang di tengah gelap malam, hujan deras, dan rasa takut yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Dalam unggahan yang viral, Shanaz menuliskan bahwa seluruh pengalaman ini ia bagikan bukan untuk drama, tetapi untuk menjawab doa, dukungan, dan kekhawatiran banyak orang. “InsyaAllah aku sudah baik-baik saja sekarang. Terima kasih untuk semua doa yang tak pernah berhenti,” tulisnya, menggambarkan betapa besar dukungan yang ia rasakan dari orang-orang yang bahkan belum pernah ia temui.

Shanaz berangkat ke Banda Aceh pada 25 November 2025 untuk urusan perizinan perusahaan tempatnya bekerja. Namun dini hari keesokan harinya, mobil travel yang ia tumpangi terjebak longsor di Cót Panglima, Bireuen. Jalan di depan dan belakang tertutup total. Mereka terperangkap dalam kegelapan tanpa makanan, tanpa sinyal, hanya ditemani suara hujan dan kekhawatiran yang kian menebal.

Baca Juga :  Putusan MKD DPR RI : Uya Kuya dan Adies Kembali Aktif, Tiga Lainnya Non Aktif

Tak ingin pasrah, Shanaz dan dua pejabat kecamatan dari Gayo Lues memutuskan berjalan kaki menembus hujan. Mereka melawan dinginnya malam, melewati tujuh titik longsor, merangkak di sela-sela tanah yang masih bergerak, dan berpegangan pada dahan serta batu agar tidak terpeleset. Lumpur bahkan mencapai paha. Setiap langkah terasa berat, tapi Shanaz terus menguatkan dirinya—bukan hanya untuk selamat, tetapi juga agar ia bisa kembali pada keluarganya.

Setelah perjalanan panjang, mereka bertemu seorang Babinsa yang berusaha menuntun ke jalur lebih aman. Namun malam kian pekat. Kondisi memburuk dan medan tak memungkinkan, memaksa mereka bermalam di sebuah menasah kecil di Tipeun Mane. Listrik padam, air sulit, bangunan berada di tepi sungai yang sedang meluap. Dalam ketidakpastian itu, Shanaz mengaku hanya bisa berdoa agar malam itu bukan malam terakhirnya.

Keesokan hari menjadi titik balik. Warga memberi informasi tentang jalur alternatif—jalur darurat yang hanya berupa tangga tanah dan sisa jembatan yang hampir ambruk. Dengan napas tersengal, tubuh lemah, dan rasa takut yang terus menghantui, Shanaz melanjutkan perjalanan. Mereka menyeberangi sungai, melewati tebing terjal, lalu berjalan lebih dari 20 kilometer hingga akhirnya menemukan sebuah kampung. Di sana, Shanaz mendapat tumpangan menuju Bireuen Kota.

Baca Juga :  Bencana Sumatera Kian Mengguncang: Korban Tewas Tembus 303 Orang

Sore itu, Jumat (28/11), ia tiba di kota dengan tubuh lelah namun selamat. Tangis keluarga pecah saat mereka bertemu. Empat hari penuh ketidakpastian berakhir dengan pelukan yang selama ini hanya bisa ia bayangkan dalam doanya.

Dalam keterangannya kepada Wolipop, Shanaz mengungkapkan kritik atas lambatnya penanganan di beberapa titik, termasuk di Jembatan Tipeun Mane. Namun ia memilih untuk fokus pada pelajaran berharga di balik ujian itu. “Allah tidak akan membebani seseorang di luar batas kemampuannya. Mungkin ini cara Allah membersihkan dosa-dosa kita,” ucapnya dengan suara penuh syukur.

Shanaz berharap kisah ini membuka mata banyak pihak tentang pentingnya penanganan bencana yang lebih cepat dan terkoordinasi. Ia juga berharap wilayah Aceh dan Sumatera yang rentan bencana mendapatkan perhatian lebih agar tidak ada lagi perjalanan yang berubah menjadi perjuangan hidup seperti yang ia alami.

Kisahnya bukan hanya tentang bertahan hidup, tetapi tentang tekad, doa, dan keyakinan bahwa selalu ada cahaya meski jalan di depan tertutup tanah dan batu.(***)

Berita Terkait

Trailer Avengers: Endgame Encore Rilis, Apa Bedanya dengan Versi 2019?
Destry Damayanti Jadi Gubernur BI 2026-2031, Ini Keputusan DPR dan Dampaknya
Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf
RAPBN 2027: MBG Rp240 Triliun, Kopdes Rp3 Miliar, Dana Desa Naik Jadi Rp77 Triliun
BMKG Catat 2.610 Hotspot di Sumatra, Riau 355 Titik: Karhutla Makin Mengkhawatirkan
WhatsApp Diretas Lalu Kena Suspend, Komdigi Desak Meta Beri Klarifikasi 24 Agustus 2026
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Film Horor Terbaru 2026
BMKG Ungkap Kondisi Kekeringan Agustus 2026, Bagaimana Jambi, Sumbar dan Riau?
Berita ini 35 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Trailer Avengers: Endgame Encore Rilis, Apa Bedanya dengan Versi 2019?

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:36 WIB

Destry Damayanti Jadi Gubernur BI 2026-2031, Ini Keputusan DPR dan Dampaknya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:00 WIB

RAPBN 2027: MBG Rp240 Triliun, Kopdes Rp3 Miliar, Dana Desa Naik Jadi Rp77 Triliun

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:00 WIB

BMKG Catat 2.610 Hotspot di Sumatra, Riau 355 Titik: Karhutla Makin Mengkhawatirkan

Berita Terbaru

Teknologi

5 Laptop Ringan untuk Kuliah 2026, Harga Mulai Rp5 Jutaan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 11:07 WIB