EKONOMI – Kisah kejatuhan Hui Ka Yan menjadi salah satu gambaran paling dramatis dari runtuhnya kerajaan properti di China. Pendiri China Evergrande Group tersebut pernah menjadi salah satu orang terkaya di Asia dengan kekayaan mencapai sekitar US$45,3 miliar pada 2017.
Namun, ekspansi bisnis yang agresif dan beban utang yang sangat besar akhirnya membawa perusahaan ke dalam krisis. Kekayaan Hui merosot tajam, sementara bisnis yang dibangunnya selama puluhan tahun berakhir dalam proses likuidasi.
Pada 20 Agustus 2026, pengadilan di Shenzhen menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Hui Ka Yan setelah ia dinyatakan bersalah atas sejumlah tindak pidana keuangan. Sebelumnya, Hui telah mengakui kesalahannya pada April 2026 setelah menjalani penahanan selama sekitar tiga tahun.
Dari Teknisi Baja hingga Membangun Kerajaan Properti
Hui Ka Yan berasal dari Provinsi Henan, China. Ia dibesarkan oleh neneknya dan mengawali karier sebagai teknisi di industri baja.
Perjalanan hidupnya kemudian berubah ketika memasuki bisnis properti. Hui membangun Evergrande dengan strategi ekspansi yang agresif, termasuk membeli lahan menggunakan pembiayaan utang, membangun proyek dalam jumlah besar, kemudian menjual hunian dengan harga yang relatif kompetitif.
Strategi tersebut membuat bisnis Evergrande berkembang pesat.
Pada 2020, penjualan tahunan perusahaan dilaporkan mencapai sekitar 700 miliar yuan, atau setara dengan sekitar US$100 miliar pada saat itu.
Pertumbuhan tersebut membuat Hui Ka Yan masuk jajaran orang terkaya dunia. Pada 2017, kekayaannya bahkan diperkirakan mencapai US$45,3 miliar.
Namun, di balik pertumbuhan tersebut terdapat persoalan besar: utang yang terus menumpuk.
Beban Utang Menjadi Awal Kejatuhan Evergrande
Masalah Evergrande semakin serius ketika pemerintah China memperketat pembiayaan sektor properti.
Pada 2021, Evergrande gagal memenuhi kewajiban utang luar negerinya. Peristiwa tersebut menjadi salah satu simbol terbesar krisis properti China dan memicu kekhawatiran terhadap perusahaan-perusahaan properti lain yang memiliki tingkat utang tinggi.
Kewajiban Evergrande ketika itu telah mencapai lebih dari US$300 miliar.
Perusahaan kemudian menghadapi kesulitan membayar kreditur, sementara proyek-proyek properti yang belum selesai juga menjadi persoalan bagi konsumen dan pemangku kepentingan lainnya.
Setelah berbagai upaya penyelamatan bisnis tidak berhasil, Evergrande akhirnya masuk proses likuidasi.
Kekayaan Hui Ka Yan Anjlok Drastis
Krisis Evergrande berdampak langsung terhadap kekayaan pendirinya.
Dari sekitar US$45,3 miliar pada 2017, kekayaan Hui Ka Yan dilaporkan turun menjadi sekitar US$3 miliar pada 2023.
Penurunan tersebut menunjukkan betapa cepat kekayaan seorang miliarder dapat menyusut ketika sebagian besar asetnya berkaitan erat dengan perusahaan yang mengalami krisis.
Kini, setelah putusan pengadilan Shenzhen, seluruh harta pribadi Hui juga diperintahkan untuk disita.
Dengan demikian, perjalanan Hui Ka Yan berubah drastis: dari pengusaha properti dengan kekayaan puluhan miliar dolar menjadi narapidana yang harus menjalani hukuman seumur hidup.
Delapan Dakwaan yang Dihadapi Hui Ka Yan
Dalam perkara tersebut, Hui menghadapi sejumlah dakwaan terkait kejahatan keuangan.
Beberapa di antaranya meliputi:
- Penyalahgunaan dana
- Penipuan dalam penggalangan dana
- Penghimpunan simpanan publik secara ilegal
- Pemberian pinjaman ilegal
- Penerbitan surat berharga secara curang
- Suap
- Pelanggaran keuangan lainnya yang berkaitan dengan aktivitas bisnisnya.
Hui sebelumnya mengaku bersalah pada April 2026 setelah menjalani penahanan selama sekitar tiga tahun.
Mengapa Kasus Hui Ka Yan Menjadi Sorotan?
Kasus Hui Ka Yan bukan hanya tentang jatuhnya seorang miliarder. Perkara tersebut juga menggambarkan risiko besar dari strategi ekspansi bisnis yang sangat bergantung pada utang.
Model bisnis dengan pembiayaan utang dapat mempercepat pertumbuhan ketika kondisi pasar sedang positif. Namun, ketika penjualan melemah, pembiayaan diperketat dan arus kas terganggu, kewajiban utang dapat berubah menjadi beban yang sangat berat.
Evergrande menjadi salah satu contoh paling besar mengenai persoalan tersebut.
Kejatuhan perusahaan juga menjadi bagian dari tekanan yang lebih luas terhadap sektor properti China, yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu mesin penting perekonomian negara tersebut.
Pelajaran dari Kejatuhan Bos Evergrande
Kisah Hui Ka Yan memberikan sejumlah pelajaran penting bagi dunia bisnis dan investasi.
Pertama, pertumbuhan perusahaan tidak selalu berarti kondisi keuangan sehat. Penjualan besar dan ekspansi cepat harus diimbangi dengan arus kas serta struktur utang yang terkendali.
Kedua, utang dapat memperbesar keuntungan sekaligus risiko. Ketika pasar tumbuh, pembiayaan utang dapat membantu perusahaan berkembang lebih cepat. Sebaliknya, ketika pasar mengalami tekanan, kewajiban tersebut dapat mempercepat keruntuhan perusahaan.
Ketiga, diversifikasi aset menjadi penting. Ketergantungan kekayaan pada satu perusahaan atau satu sektor membuat kekayaan seseorang sangat rentan terhadap perubahan kondisi industri.
Kisah Hui Ka Yan akhirnya menjadi salah satu contoh ekstrem mengenai bagaimana kekayaan puluhan miliar dolar dapat hilang ketika sebuah kerajaan bisnis yang dibangun dengan ekspansi agresif menghadapi krisis utang.
FAQ
Siapa Hui Ka Yan?
Hui Ka Yan adalah pendiri China Evergrande Group, salah satu perusahaan properti terbesar di China.
Berapa kekayaan Hui Ka Yan saat berada di puncak?
Kekayaannya diperkirakan mencapai sekitar US$45,3 miliar pada 2017.
Apa yang menyebabkan Evergrande jatuh?
Salah satu faktor utamanya adalah beban utang yang sangat besar, ditambah pengetatan pembiayaan sektor properti China dan melemahnya kondisi bisnis.
Berapa besar utang Evergrande?
Kewajiban perusahaan pernah mencapai lebih dari US$300 miliar.
Apa hukuman Hui Ka Yan?
Berdasarkan informasi dalam sumber yang diberikan, pengadilan Shenzhen menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup dan memerintahkan penyitaan harta pribadinya.









