EKONOMI-Pasar logam dunia memasuki babak baru pada awal 2026. Jika selama ini emas selalu menjadi tolok ukur keamanan aset global, kini tiga komoditas lain—perak, lithium, dan platinum—justru melesat lebih cepat dan menarik perhatian investor internasional.
Lonjakan paling dramatis terjadi pada perak, yang melonjak lebih dari 51% sejak awal tahun dan tercatat tumbuh 258% secara tahunan, hingga menembus US$107 per troy ons. Kenaikan ekstrem ini bukan hanya dipicu sentimen pasar, tetapi juga kekurangan pasokan fisik yang berlangsung selama beberapa bulan.
Di China dan India, permintaan ritel justru meningkat meski harga tinggi. Batangan 1 kilogram menjadi produk favorit, sementara beberapa pabrik perhiasan mengalihkan lini produksi menjadi produk investasi untuk memenuhi ledakan permintaan.
Di sisi lain, lithium juga mengalami reli besar. Harga lithium karbonat di China melejit 53,8% (YtD) dan 133% (YoY) hingga menyentuh CNY 181.500 per ton. Kenaikan lithium kali ini bukan sekadar efek siklus, tetapi berkaitan dengan kebijakan industri China yang menata ulang peta produksi baterai nasional.
Menjelang turunnya insentif ekspor baterai pada April, produsen mempercepat akumulasi bahan baku, sementara pemerintah meningkatkan anggaran energi terbarukan dan fasilitas penyimpanan. Pengetatan suplai juga diperparah oleh pencabutan izin tambang dan penghentian operasi di beberapa kawasan penghasil lithium.
Berbeda dengan dua komoditas tersebut, reli platinum lebih dipicu intensitas pembelian fisik oleh investor besar. Dengan ukuran pasar tahunan hanya sekitar 250 ton, harga platinum menjadi sangat peka terhadap perubahan permintaan.
Lonjakan harga hingga mendekati US$2.900 per ons terutama berasal dari arus masuk pembelian batangan. Harga yang lebih terjangkau dibanding emas membuat investor dapat mengakumulasi lebih banyak unit, sehingga dampaknya langsung tercermin pada lonjakan harga.
Sementara itu, emas tetap berada di jalur positif, namun tidak mengungguli ketiga komoditas tersebut. Harga emas bergerak naik sekitar 17% tahun ini, didorong ketegangan geopolitik global dan risiko kebijakan fiskal di Amerika Serikat. Meskipun menjadi aset lindung nilai yang paling stabil, performa emas tidak seagresif logam pesaingnya.
Adapun tembaga menunjukkan dinamika berbeda. Harga bertahan stabil di sekitar US$5,9 per pon, dipengaruhi pelemahan dolar AS serta kenaikan permintaan menjelang Tahun Baru Imlek di China. Tembaga tetap menjadi komoditas penting dalam transisi energi dan teknologi AI, namun tidak mencatat reli ekstrem seperti perak, lithium, dan platinum.
Fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran preferensi investor global. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan perubahan besar industri energi, pasar mulai mencari aset yang menawarkan potensi keuntungan lebih tinggi—dan kali ini, bukan emas yang berada di puncak.









