Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Ini 5 Dampak Besar yang Mengancam Ekonomi Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 5 Juni 2026 - 16:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah bertahan di kisaran Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), mata uang Garuda bahkan sempat dibuka melemah ke level Rp18.074 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran berbagai kalangan karena berpotensi memberikan dampak luas terhadap perekonomian nasional.

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menilai pelemahan rupiah yang berlangsung dalam waktu lama dapat memengaruhi berbagai sektor strategis. Mulai dari kenaikan biaya impor, tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), hingga meningkatnya beban utang perusahaan yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing.

Dampak pertama yang paling cepat dirasakan adalah meningkatnya biaya impor. Indonesia masih bergantung pada sejumlah komoditas impor seperti energi, bahan baku industri, komponen manufaktur, alat kesehatan, obat-obatan, serta beberapa produk pangan. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya pembelian barang-barang tersebut menjadi lebih mahal sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga di dalam negeri.

Dampak kedua berkaitan dengan APBN. Pemerintah berpotensi menghadapi kenaikan beban subsidi dan kompensasi energi apabila rupiah terus berada di level Rp18.000 per dolar AS. Biaya impor minyak mentah dan produk energi akan meningkat sehingga ruang fiskal pemerintah dapat tertekan, terutama jika harga energi global masih tinggi.

Baca Juga :  97 Persen Penjual Online Indonesia UMKM, Mendag Siapkan Pengawasan Ketat Marketplace

Ketiga, sektor korporasi menghadapi risiko yang tidak kalah besar. Perusahaan yang memiliki utang luar negeri dalam denominasi dolar AS akan mengalami kenaikan beban pembayaran pokok dan bunga. Selain itu, perusahaan yang mengandalkan bahan baku impor juga harus menanggung biaya produksi yang lebih tinggi sehingga margin keuntungan berpotensi tergerus.

Keempat, pelemahan rupiah dapat memicu kenaikan inflasi. Kenaikan harga barang impor biasanya akan diteruskan ke konsumen melalui penyesuaian harga produk dan jasa. Jika berlangsung dalam jangka panjang, daya beli masyarakat dapat melemah karena pengeluaran rumah tangga untuk kebutuhan sehari-hari menjadi lebih besar.

Dampak kelima adalah meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan. Investor asing cenderung lebih berhati-hati ketika nilai tukar mengalami tekanan berkepanjangan. Kondisi tersebut berpotensi memicu arus keluar modal dari pasar saham maupun obligasi sehingga menambah tekanan terhadap pasar keuangan domestik.

Meski demikian, pelemahan rupiah juga dapat memberikan manfaat bagi sebagian sektor. Eksportir yang memperoleh pendapatan dalam dolar AS berpotensi menikmati peningkatan nilai penerimaan ketika dikonversi ke rupiah. Namun manfaat tersebut dinilai belum cukup untuk menutupi berbagai risiko yang muncul terhadap stabilitas ekonomi nasional apabila pelemahan rupiah berlangsung terlalu lama.

Pemerintah dan otoritas moneter kini menjadi sorotan pasar. Investor menunggu langkah lanjutan untuk menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan kepercayaan pasar. Dalam situasi global yang penuh ketidakpastian, kemampuan menjaga stabilitas rupiah akan menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026.

Baca Juga :  IHSG Bangkit Setelah Ambruk 38%, Sinyal Rebound Bursa Saham Indonesia Mulai Terlihat

FAQ

Mengapa rupiah bisa melemah hingga Rp18.000 per dolar AS?

Pelemahan rupiah dipengaruhi berbagai faktor seperti penguatan dolar AS, arus keluar modal asing, ketidakpastian ekonomi global, serta sentimen pasar terhadap kondisi ekonomi domestik.

Apa dampak langsung bagi masyarakat?

Harga barang impor berpotensi naik, termasuk produk elektronik, obat-obatan, bahan pangan tertentu, dan produk yang menggunakan bahan baku impor.

Apakah harga BBM bisa naik?

Jika pelemahan rupiah berlangsung lama dan harga minyak dunia tetap tinggi, beban subsidi energi meningkat sehingga berpotensi memengaruhi kebijakan energi pemerintah.

Siapa yang diuntungkan dari rupiah lemah?

Pelaku ekspor yang menerima pembayaran dalam dolar AS berpotensi memperoleh keuntungan lebih besar ketika pendapatan mereka dikonversi ke rupiah.

Apakah rupiah Rp18.000 per dolar berbahaya?

Level tersebut belum tentu menimbulkan krisis, tetapi jika bertahan dalam waktu lama dapat meningkatkan inflasi, menekan APBN, dan mengurangi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia. (Tim)

Berita Terkait

Mortgage Rates Today 2026: USA, Canada, Australia, and Singapore Compared – Which Country Offers the Lowest Home Loan Rates?
Resmi! Pindah Wilayah ke Jakarta, Notaris Kini Dikenai Tarif PNBP Rp500 Juta
Shopee Mantul Sale 2026 Hadir, Catat Jadwal dan Promo Elektronik yang Sayang Dilewatkan
Cara Cepat Kumpulkan DANA Poin, Simak Tips Agar Rewards Makin Banyak
Rekomendasi Asuransi Mobil TLO Terbaik 2026, Premi Mulai Ratusan Ribu
10 Cara Menghasilkan Uang dari Internet Tanpa Modal, Cocok untuk Pemula
Cara Top Up Saldo DANA untuk Investasi Online dengan Mudah
Trik Mendapatkan Harga Termurah di Shopee dengan Mudah
Berita ini 64 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 03:02 WIB

Mortgage Rates Today 2026: USA, Canada, Australia, and Singapore Compared – Which Country Offers the Lowest Home Loan Rates?

Senin, 20 Juli 2026 - 02:00 WIB

Resmi! Pindah Wilayah ke Jakarta, Notaris Kini Dikenai Tarif PNBP Rp500 Juta

Minggu, 19 Juli 2026 - 21:00 WIB

Shopee Mantul Sale 2026 Hadir, Catat Jadwal dan Promo Elektronik yang Sayang Dilewatkan

Minggu, 19 Juli 2026 - 20:00 WIB

Cara Cepat Kumpulkan DANA Poin, Simak Tips Agar Rewards Makin Banyak

Minggu, 19 Juli 2026 - 19:02 WIB

Rekomendasi Asuransi Mobil TLO Terbaik 2026, Premi Mulai Ratusan Ribu

Berita Terbaru

Hukum

Yusril Jelaskan Mengapa Febrie Adriansyah Belum Ditahan

Selasa, 21 Jul 2026 - 07:25 WIB