Kredit Macet Paylater Naik Jadi 3,44 Persen, OJK Ungkap Kemampuan Bayar Masyarakat Melemah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat tingkat kredit macet pada layanan Buy Now Pay Later (BNPL) atau paylater perusahaan pembiayaan meningkat menjadi 3,44 persen pada Mei 2026. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang berada di level 2,99 persen, sehingga memunculkan perhatian terhadap kemampuan bayar sebagian masyarakat.

Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, mengatakan kenaikan pembiayaan bermasalah dipengaruhi menurunnya kemampuan pembayaran sebagian debitur. Meski demikian, regulator memastikan kondisi tersebut masih berada dalam pengawasan melalui berbagai langkah mitigasi risiko.

OJK terus mendorong perusahaan pembiayaan memperkuat sistem credit scoring, meningkatkan pemantauan kualitas pembiayaan, serta memperbaiki proses penagihan agar rasio pembiayaan bermasalah tetap terkendali. Langkah ini diharapkan menjaga kesehatan industri pembiayaan digital yang terus berkembang.

Hingga saat ini terdapat delapan perusahaan pembiayaan yang menyelenggarakan layanan BNPL. Menurut OJK, pembiayaan paylater diperkirakan tetap mencatat pertumbuhan positif hingga akhir 2026 meskipun menghadapi tantangan perlambatan ekonomi dan perubahan daya beli masyarakat.

Baca Juga :  Rupiah Melemah Terancam Tembus Rp17.100, Efek Krisis Energi Global Kian Nyata

Data OJK menunjukkan total penyaluran pembiayaan paylater perusahaan pembiayaan mencapai Rp13,18 triliun pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 53,78 persen secara tahunan, meski sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan April yang mencapai 56,92 persen.

Sementara itu, produk paylater yang disalurkan sektor perbankan juga terus meningkat. Hingga Mei 2026, outstanding pembiayaan BNPL perbankan mencapai Rp30,1 triliun atau tumbuh 37,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Di sisi lain, porsi kredit BNPL perbankan masih relatif kecil, yakni sekitar 0,34 persen dari total penyaluran kredit nasional. Namun jumlah rekening pengguna telah mencapai 31,76 juta, menandakan layanan pembayaran digital semakin diterima masyarakat.

Baca Juga :  Target Dividen BUMN 2026, Danantara Pilih Reinvestasi 5-10 Tahun

OJK menegaskan bahwa layanan BNPL dan pinjaman daring memiliki karakteristik yang berbeda sehingga saling melengkapi dalam ekosistem pembiayaan. Meski industri masih tumbuh kuat, masyarakat tetap diimbau menggunakan fasilitas paylater secara bijak agar tidak mengalami kesulitan pembayaran di kemudian hari.

FAQ

Apa penyebab kredit macet paylater meningkat?
OJK menyebut salah satu penyebab utama adalah menurunnya kemampuan bayar sebagian debitur.

Berapa rasio kredit macet paylater saat ini?
Per Mei 2026, rasio pembiayaan bermasalah (NPF) paylater perusahaan pembiayaan mencapai 3,44 persen.

Apakah industri paylater masih bertumbuh?
Ya. Penyaluran pembiayaan BNPL perusahaan pembiayaan masih tumbuh 53,78 persen secara tahunan menjadi Rp13,18 triliun.

Apakah OJK akan memperketat pengawasan?
Ya. OJK memperkuat credit scoring, monitoring kualitas pembiayaan, dan proses penagihan untuk menjaga risiko tetap terkendali. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Harga Asuransi Mobil 2026: Cara Menghitung Premi dan Mendapatkan Perlindungan Lebih Murah
BI Rate 5,75 Persen, Cadangan Devisa Indonesia Tembus US$146,32 Miliar per September 2026
Dow Jones Tembus 51.999, Wall Street Menguat 0,73%, Bagaimana Nasib IHSG dan Rupiah?
ASX 200 Today: Australian Shares Slip as BHP and Rio Tinto Sink Nearly 5%
Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik Jadi 10,25%
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$459,3 Miliar pada Agustus 2026, Ini Penjelasan BI
Pertamina Tambah 57,9 Juta Liter BBM ke Bali, 60 SPBU Disiapkan Buka 24 Jam
IHSG Dibuka Anjlok ke 5.900, Saham GOTO Ambles 7,14%, Investor Waspadai Inflasi AS
Berita ini 45 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Harga Asuransi Mobil 2026: Cara Menghitung Premi dan Mendapatkan Perlindungan Lebih Murah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:02 WIB

Dow Jones Tembus 51.999, Wall Street Menguat 0,73%, Bagaimana Nasib IHSG dan Rupiah?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:54 WIB

ASX 200 Today: Australian Shares Slip as BHP and Rio Tinto Sink Nearly 5%

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik Jadi 10,25%

Kamis, 15 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$459,3 Miliar pada Agustus 2026, Ini Penjelasan BI

Berita Terbaru