Tether Jadi Pemegang Emas Swasta Terbesar dan Pembeli Utang Amerika

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 5 Februari 2026 - 00:10 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

INTERNASIONAL-Nama Tether selama ini identik dengan stablecoin USDT. Namun di balik perannya di ekosistem kripto, perusahaan ini ternyata sedang membangun kekuatan finansial yang tak biasa: mengoleksi emas fisik dalam jumlah besar sekaligus menjadi pembeli utama surat utang pemerintah Amerika Serikat.

Strategi ini menempatkan Tether pada posisi unik di antara dua aset pelindung nilai paling klasik di dunia—emas dan Treasuries—yang selama ini identik dengan bank sentral, manajer investasi raksasa, dan lembaga negara.

Koleksi Emas Tembus Ratusan Ton

Cadangan emas Tether diperkirakan berada di kisaran 80–116 metrik ton, termasuk melalui instrumen emas digital XAUT. Dalam kuartal terakhir 2025 saja, perusahaan menambah sekitar 27 ton, saat harga emas global terdorong naik akibat gejolak geopolitik dan tekanan inflasi.

Volume tersebut membuat Tether disebut sebagai pemegang emas swasta terbesar di dunia saat ini.

Baca Juga :  Dana Asing Masuk RI Tembus US$9 Miliar, BI Ungkap Sinyal Positif untuk Rupiah, SBN, dan Investasi 2026

Eksposur Treasuries Capai US$141 Miliar

Di saat bersamaan, Tether juga mempertebal kepemilikan pada surat utang pemerintah AS. Laporan atestasi terbaru menunjukkan kepemilikan langsung Treasuries lebih dari US$122 miliar. Jika ditambah transaksi likuid jangka sangat pendek, total eksposurnya melampaui US$141 miliar.

Skala ini menjadikan Tether salah satu pemegang non-negara terbesar obligasi pemerintah AS, posisi yang biasanya ditempati lembaga keuangan mapan.

Mesin Utama: Ledakan Permintaan USDT

Lonjakan cadangan tersebut tidak lepas dari pertumbuhan USDT yang sangat cepat. Sepanjang 2025, peredaran USDT bertambah hampir US$50 miliar, dengan total suplai kini di atas US$186 miliar.

Setiap dolar yang masuk untuk mencetak USDT ditempatkan pada aset likuid, terutama Treasury bills. Imbal hasilnya menjadi pemasukan perusahaan, sementara likuiditas tetap tersedia untuk penukaran kembali oleh pengguna.

Model ini membuat Tether otomatis menjadi pembeli rutin surat utang AS dalam jumlah besar.

Baca Juga :  The Fed Tahan Suku Bunga, Ini Dampaknya ke Rupiah dan Kredit di Indonesia

Mulai Masuk Radar Pengawas Keuangan

Perubahan peran Tether memicu perhatian pembuat kebijakan. Perpindahan dana masyarakat ke stablecoin dinilai berpotensi mengurangi simpanan di bank, sementara penerbit stablecoin tidak menyalurkan kredit ke sektor riil seperti perbankan.

Di sisi lain, regulasi terbaru di AS justru mendorong cadangan stablecoin ditempatkan pada aset berbasis pemerintah, yang semakin menguatkan posisi Tether di pasar Treasuries.

Kripto yang Menyentuh Sistem Keuangan Nyata

Walau pasar obligasi AS bernilai sekitar US$26 triliun, langkah Tether menunjukkan arah baru: perusahaan kripto kini tidak hanya hidup di ekosistem digital, tetapi mulai menjadi bagian nyata dari arus pendanaan sistem keuangan global.

Tether menjelma dari penerbit dolar digital menjadi entitas dengan pengaruh riil pada pasar emas dan surat utang negara adidaya.

Berita Terkait

Rupiah Ditutup Melemah 28 Juli 2026 ke Rp17.962 per Dolar AS Jelang FOMC The Fed, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga AS
Timnas Indonesia Awali Piala AFF 2026 dengan Kemenangan 5-1, Thom Haye Jadi Bintang
Fajar/Fikri Juara China Open 2026: Ganda Putra Indonesia Sukses Pertahankan Gelar!
Kelas 1, 2, 3 Resmi Dihapus, Ini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Selama Masa Transisi
Meta Resmi Luncurkan Aplikasi Seller, Tantang Dominasi Shopee dan TikTok Shop
Kematian Pangeran Kerajaan Arab Saudi di Hotel Mewah London: Penyebab Sebenarnya Diungkap Pengadilan
Harga BBM Pertamina 24 Juli 2026, Shell, Vivo, dan BP Terbaru: Cek Daftar Lengkap Semua Jenis Bahan Bakar
Pep Guardiola Dikabarkan Minta Gaji Rp409 Miliar untuk Latih Timnas Italia
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 28 Juli 2026 - 16:22 WIB

Rupiah Ditutup Melemah 28 Juli 2026 ke Rp17.962 per Dolar AS Jelang FOMC The Fed, Pasar Tunggu Keputusan Suku Bunga AS

Selasa, 28 Juli 2026 - 00:05 WIB

Timnas Indonesia Awali Piala AFF 2026 dengan Kemenangan 5-1, Thom Haye Jadi Bintang

Senin, 27 Juli 2026 - 00:05 WIB

Fajar/Fikri Juara China Open 2026: Ganda Putra Indonesia Sukses Pertahankan Gelar!

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:06 WIB

Kelas 1, 2, 3 Resmi Dihapus, Ini Besaran Iuran BPJS Kesehatan Selama Masa Transisi

Minggu, 26 Juli 2026 - 04:00 WIB

Meta Resmi Luncurkan Aplikasi Seller, Tantang Dominasi Shopee dan TikTok Shop

Berita Terbaru