EKONOMI-Kondisi keuangan masyarakat Indonesia mulai menunjukkan tekanan. Data terbaru Bank Indonesia (BI) mengungkapkan porsi pendapatan warga yang digunakan untuk membayar cicilan atau utang mengalami kenaikan pada Mei 2026.
Di sisi lain, kemampuan masyarakat untuk menabung justru mengalami penurunan. Situasi ini menandakan ruang keuangan rumah tangga semakin sempit di tengah kebutuhan hidup yang terus meningkat.
Porsi Cicilan Naik Jadi 10,2 Persen
Berdasarkan rilis terbaru BI, porsi pendapatan yang digunakan untuk konsumsi pada Mei 2026 tercatat sebesar 72,3 persen, relatif stabil dibanding April 2026 sebesar 72,1 persen.
Namun, beban cicilan mengalami kenaikan cukup signifikan. Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar cicilan naik menjadi 10,2 persen dari sebelumnya 9,7 persen.
Sementara itu, porsi pendapatan yang berhasil disimpan sebagai tabungan turun menjadi 17,5 persen dari sebelumnya 18,2 persen.
Kondisi tersebut menunjukkan masyarakat masih berusaha menjaga konsumsi sehari-hari, tetapi harus mengorbankan tabungan karena tekanan beban utang yang meningkat.
Kelompok Pengeluaran Rendah Paling Tertekan
Tekanan paling terasa terjadi pada kelompok masyarakat dengan pengeluaran Rp1 juta hingga Rp2 juta per bulan.
Pada kelompok ini, porsi konsumsi melonjak menjadi 76,7 persen pada Mei 2026, naik dari 74,6 persen pada April 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi sepanjang tahun ini.
Di saat yang sama, porsi tabungan turun menjadi 16,4 persen dari sebelumnya 17,2 persen.
Menariknya, beban cicilan kelompok ini justru turun menjadi 6,9 persen dari 8,2 persen. Hal ini menunjukkan tekanan keuangan lebih banyak dipicu kenaikan kebutuhan konsumsi dibanding cicilan.
Kelompok Menengah Mulai Kehilangan Ruang Menabung
Pada kelompok pengeluaran Rp3,1 juta hingga Rp4 juta per bulan, tekanan juga mulai terlihat.
Porsi konsumsi naik menjadi 72,2 persen dari sebelumnya 70 persen. Kenaikan konsumsi tersebut membuat kemampuan menabung turun menjadi 16,9 persen dari sebelumnya 18,3 persen.
Meski demikian, porsi cicilan kelompok ini sedikit menurun menjadi 10,9 persen dibanding bulan sebelumnya sebesar 11,7 persen.
Data tersebut menunjukkan kenaikan kebutuhan hidup mulai menggerus ruang keuangan masyarakat kelas menengah bawah.
Kelompok Atas Terbebani Cicilan
Sementara itu, kelompok masyarakat dengan pengeluaran di atas Rp5 juta per bulan mengalami tekanan terbesar dari sisi cicilan.
Porsi pendapatan yang digunakan untuk membayar utang melonjak menjadi 12,8 persen dari sebelumnya 10,9 persen.
Akibatnya, porsi tabungan turun cukup tajam menjadi 17,5 persen dari sebelumnya 19,2 persen.
Menariknya, konsumsi kelompok ini justru sedikit turun menjadi 69,7 persen dari 69,9 persen. Artinya, tekanan keuangan pada kelompok atas lebih banyak berasal dari kenaikan beban cicilan dibanding konsumsi.
Tabungan Jadi Bantalan Penting
Secara keseluruhan, data Bank Indonesia menunjukkan perubahan pola keuangan rumah tangga di berbagai kelompok pengeluaran.
Sebagian masyarakat masih mampu menjaga tabungan, namun banyak juga yang mulai kehilangan ruang menabung akibat meningkatnya konsumsi maupun cicilan utang.
Padahal, tabungan menjadi bantalan penting untuk menghadapi kondisi ekonomi yang tidak menentu, kenaikan harga barang, hingga kebutuhan mendadak.
Jika tren penurunan tabungan terus berlanjut, kemampuan masyarakat menghadapi tekanan ekonomi di masa depan dikhawatirkan semakin melemah.









