Rupiah Menguat ke Rp17.910 per Dolar AS, Simak Faktor Pendorong dan Prediksi Bank Indonesia

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:35 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta – Nilai tukar rupiah berhasil mencatat penguatan pada perdagangan Jumat (12/6/2026) setelah dua hari berturut-turut mengalami tekanan. Mata uang Garuda bergerak menguat ke kisaran Rp17.910 per dolar Amerika Serikat, didorong kombinasi sentimen global dan optimisme pasar terhadap kebijakan moneter Indonesia.

Penguatan rupiah terjadi setelah dolar AS melemah secara luas di pasar internasional. Sentimen tersebut muncul menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengindikasikan peluang tercapainya kesepakatan damai dengan Iran dalam waktu dekat. Kabar tersebut meredakan kekhawatiran geopolitik global sehingga permintaan terhadap aset aman seperti dolar AS mulai berkurang.

Dari dalam negeri, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada langkah menjaga stabilitas nilai tukar. Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad sempat mengajak masyarakat yang memiliki simpanan dolar untuk menjual sebagian kepemilikannya guna membantu memperkuat rupiah. Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang turut menarik perhatian investor.

Selain itu, pasar menantikan hasil rapat kebijakan moneter Bank Indonesia yang dijadwalkan berlangsung pekan depan. Sejumlah analis memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan setelah sebelumnya menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin sejak Mei untuk menjaga stabilitas kurs dan inflasi.

Baca Juga :  Cara Daftar QRIS 2026 untuk UMKM Terbaru, Solusi Pembayaran Digital Praktis Tanpa Ribet

Optimisme terhadap rupiah juga datang dari proyeksi Bank Indonesia yang memperkirakan nilai tukar dapat menguat ke rentang Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada tahun depan. Proyeksi tersebut didasarkan pada asumsi kondisi ekonomi global yang lebih stabil serta membaiknya arus investasi ke Indonesia.

Meski demikian, penguatan rupiah masih menghadapi sejumlah tantangan. Data ekonomi terbaru menunjukkan penjualan ritel Indonesia pada April 2026 mengalami penurunan tahunan pertama dalam satu tahun terakhir. Kondisi tersebut mengindikasikan adanya perlambatan konsumsi masyarakat yang dipengaruhi kenaikan harga bahan bakar non-subsidi dan tekanan biaya hidup.

Pelemahan sektor konsumsi menjadi perhatian karena konsumsi rumah tangga merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional. Jika daya beli belum pulih secara signifikan, ruang penguatan rupiah berpotensi terbatas meskipun sentimen eksternal membaik.

Meski begitu, kinerja rupiah sepanjang pekan ini menunjukkan perkembangan positif. Mata uang Indonesia tercatat menguat sekitar 0,8 persen dan menjadi kenaikan mingguan pertama dalam sebelas pekan terakhir. Capaian tersebut memberikan sinyal bahwa tekanan terhadap rupiah mulai mereda setelah sempat berada di bawah tekanan kuat dalam beberapa bulan terakhir.

Baca Juga :  Rupiah Hari Ini 30 April 2026 Melemah ke Rp17.326 per Dolar AS, Dampak The Fed Terasa

Para pelaku pasar kini akan mencermati keputusan Bank Indonesia, data ekonomi domestik terbaru, serta perkembangan geopolitik dunia sebagai faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah pada pekan mendatang.

FAQ

Mengapa rupiah menguat terhadap dolar AS?

Rupiah menguat karena dolar AS melemah setelah meredanya ketegangan geopolitik global dan meningkatnya optimisme pasar terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Berapa kurs rupiah saat ini?

Pada perdagangan Jumat (12/6/2026), rupiah berada di kisaran Rp17.910 per dolar AS.

Apa yang akan diputuskan Bank Indonesia?

Analis memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan pada rapat kebijakan pekan depan.

Apakah rupiah berpotensi menguat lagi?

Bank Indonesia memproyeksikan rupiah dapat bergerak di rentang Rp16.800-Rp17.500 per dolar AS pada tahun depan jika kondisi ekonomi global mendukung.

Apa risiko terbesar bagi rupiah?

Perlambatan konsumsi domestik, ketidakpastian ekonomi global, dan pergerakan dolar AS masih menjadi faktor risiko utama. Tim

Berita Terkait

Tunjangan Guru Naik 2026, Kini Langsung Cair ke Rekening Setiap Bulan
Gaji PPPK dan PPPK Paruh Waktu Diusulkan Masuk APBN 2027, AP3KI: Sah Jadi ASN
Survei Sun Life 2026: 8 dari 10 Warga Indonesia Tertekan Biaya Hidup, Dana Darurat Jadi Sorotan
Tito Karnavian Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK Meski Efisiensi Anggaran
Pemerintah Siapkan Penghematan Besar pada 2027, Ini Strategi Menkeu Purbaya
Terungkap! Ini Alasan Pertamina Naikkan Harga Pertamax
Jangan Dipangkas! Ini 3 Asuransi Penting Saat Ekonomi Sedang Berat
Kejayaan Nvidia Guncang, Rp23.000 Triliun Nilai Pasar Chip AI Lenyap
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 12 Juni 2026 - 18:00 WIB

Tunjangan Guru Naik 2026, Kini Langsung Cair ke Rekening Setiap Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 - 17:35 WIB

Rupiah Menguat ke Rp17.910 per Dolar AS, Simak Faktor Pendorong dan Prediksi Bank Indonesia

Jumat, 12 Juni 2026 - 16:05 WIB

Gaji PPPK dan PPPK Paruh Waktu Diusulkan Masuk APBN 2027, AP3KI: Sah Jadi ASN

Jumat, 12 Juni 2026 - 02:01 WIB

Survei Sun Life 2026: 8 dari 10 Warga Indonesia Tertekan Biaya Hidup, Dana Darurat Jadi Sorotan

Kamis, 11 Juni 2026 - 12:05 WIB

Tito Karnavian Pastikan Tak Ada Pemecatan PPPK Meski Efisiensi Anggaran

Berita Terbaru