SUNGAI PENUH – Setiap memasuki bulan suci Ramadan, suasana di Kecamatan Koto Baru, Kota Sungai Penuh, Jambi, berubah drastis. Jalan-jalan kampung yang biasanya lengang mendadak ramai. Masjid kembali dipenuhi saf laki-laki. Warung – warung hidup. Tawa anak-anak menyambut kepulangan ayah mereka yang setahun terakhir lebih sering terdengar lewat sambungan telepon daripada tatap muka.
Namun, keramaian itu hanya sementara. Selepas Idul Fitri, satu per satu pria dewasa di Koto Baru kembali mengemasi tas. Mereka berpamitan, mencium tangan orang tua, memeluk istri dan anak, lalu berangkat merantau. Kampung kembali sunyi. Tinggallah perempuan, anak-anak, dan orang tua menjaga rumah, menunggu kepulangan berikutnya.
Mayoritas pria Koto Baru menggantungkan hidup dari berdagang keliling di wilayah Indonesia Timur—mulai dari Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur hingga Papua. Mereka menjual beragam barang, dari aksesori pria dan wanita, pakaian, hingga telepon seluler. Di tanah orang, mereka bertaruh tenaga dan waktu demi satu tujuan: memastikan dapur di kampung halaman tetap mengepul.
“Kalau Ramadan, kami pulang kumpul keluarga. Setelah Lebaran, ya kembali lagi berdagang,” ujar seorang pedagang yang sudah lebih dari satu dekade merantau. Ia mengaku hanya pulang dua kali dalam setahun. Selebihnya, rindu pada keluarga harus ditahan demi stabilitas ekonomi.
Tradisi merantau ini telah mengakar kuat. Para pedagang jarang berangkat sendirian. Mereka membentuk kelompok kecil bersama teman sekampung. Di kota tujuan, mereka menyewa rumah bersama untuk menekan biaya hidup. Solidaritas menjadi modal utama, selain keberanian dan jaringan usaha yang terus dibangun dari tahun ke tahun.
Camat Koto Baru, Desrizal, membenarkan fenomena tersebut. Menurut dia, setiap Ramadan kampungnya memang terasa jauh lebih hidup. “Mereka semua pulang saat Ramadan. Setelah Idul Fitri, kembali lagi ke luar daerah untuk berdagang. Biasanya pulang dua kali setahun,” kata dia.
Tak heran, Koto Baru kerap dijuluki warga sebagai “kampung petro dolar” di Kota Sungai Penuh. Julukan itu bukan tanpa alasan. Perputaran uang hasil keringat para perantau menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus menggerakkan roda perekonomian lokal—mulai dari pembangunan rumah, pendidikan anak, hingga usaha kecil di kampung.
Di balik geliat ekonomi itu, tersimpan cerita tentang pengorbanan. Ada anak yang tumbuh lebih sering ditemani ibu. Ada istri yang terbiasa mengurus rumah sendiri. Ada orang tua yang menunggu kabar dari jauh. Ramadan menjadi satu-satunya momen ketika semua kembali lengkap—sebelum sunyi kembali menyelimuti Koto Baru, dan para pria kembali menyusuri ribuan kilometer demi masa depan keluarga. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









