Jakarta – Nama Low Tuck Kwong kembali menjadi perhatian publik setelah pengusaha tambang tersebut membeli lukisan “Kuda Api” karya Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).
Karya seni itu terjual melalui agenda lelang dengan nilai fantastis mencapai Rp 6,5 miliar, memicu rasa ingin tahu tentang sosok di balik transaksi tersebut.
Low Tuck Kwong dikenal sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia. Pria kelahiran Singapura, 17 April 1948, ini membangun karier bisnisnya di Tanah Air dan kemudian menjadi warga negara Indonesia.
Ia dikenal luas sebagai figur penting di industri energi, khususnya batu bara.
Perjalanan bisnis Low tidak dimulai dari pertambangan. Pada awal kariernya, ia terjun ke sektor konstruksi. Dari sana, Low melihat peluang besar di industri tambang yang saat itu mulai berkembang pesat di Indonesia, terutama di wilayah Kalimantan.
Keputusan mendirikan PT Bayan Resources Tbk menjadi titik balik utama dalam perjalanan bisnisnya. Perusahaan tersebut berkembang menjadi salah satu produsen batu bara terbesar di Indonesia, dengan wilayah operasi utama di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Seiring pertumbuhan Bayan Resources, kekayaan Low Tuck Kwong meningkat signifikan. Lonjakan harga batu bara global dalam beberapa tahun terakhir turut mendongkrak valuasi perusahaan, membuat namanya kerap masuk dalam daftar orang terkaya Indonesia versi Forbes.
Selain fokus pada batu bara, Low juga melakukan diversifikasi investasi. Ia memperluas portofolionya ke sektor energi terbarukan dan teknologi, langkah yang dinilai strategis di tengah tren transisi energi dan perubahan lanskap bisnis global.
Di luar dunia usaha, Low Tuck Kwong dikenal sebagai sosok yang cenderung low profile. Meski jarang tampil di ruang publik, ia aktif dalam kegiatan sosial dan filantropi, termasuk dukungan terhadap program pendidikan dan beasiswa.
Sorotan terbaru terkait pembelian lukisan SBY menunjukkan sisi lain dari Low Tuck Kwong. Selain sebagai pebisnis, ia juga terlihat memiliki ketertarikan terhadap seni, sekaligus berpartisipasi dalam agenda sosial yang kerap menyertai lelang karya SBY. (***)
Editor : Fanda Yosephta









