Kenapa Mi Instan di Jepang dan Korea Dianggap Normal, Tapi di Indonesia Disebut Tidak Sehat?

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 11 Juni 2026 - 18:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

KESEHATAN-Perdebatan soal mi instan kembali ramai di media sosial setelah muncul unggahan yang membandingkan kebiasaan konsumsi mi instan di Indonesia dengan Jepang dan Korea Selatan (Korsel).

Dalam unggahan yang viral di platform X, disebutkan bahwa masyarakat Indonesia sering menganggap mi instan tidak sehat jika dikonsumsi setiap hari. Bahkan banyak yang membatasi konsumsi mi instan maksimal satu kali dalam seminggu.

Sebaliknya, di Jepang dan Korea Selatan, mi instan justru menjadi bagian dari menu harian masyarakat dan dianggap hal biasa.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat konsumsi mi instan di negara-negara tersebut terlihat berbeda?

Perbedaan Budaya Makan

Ahli gizi Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus), Toto Sudargo, menjelaskan bahwa salah satu faktor utama terletak pada budaya makan masyarakat.

Menurutnya, mi di Jepang dan Korea Selatan memang sudah lama menjadi sumber karbohidrat utama, sama seperti nasi di Indonesia.

Selain nasi, masyarakat negara maju juga terbiasa mengonsumsi sumber karbohidrat lain seperti mi, kentang, roti, dan bihun sebagai makanan pokok sehari-hari.

Karena itu, mi instan di Jepang dan Korea Selatan diposisikan sebagai pengganti nasi, bukan sekadar camilan atau makanan darurat.

Baca Juga :  Biaya Transplantasi Ginjal Tembus Miliaran! Ini Rincian Terbaru 2026 & Cara Hemat Lewat BPJS

Mi Instan Selalu Dilengkapi Sayur dan Protein

Toto menyebut kandungan mi instan di Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dengan mi instan di Jepang maupun Korea Selatan.

Namun, yang membedakan adalah cara penyajiannya.

Di Jepang dan Korea Selatan, mi instan umumnya dikonsumsi bersama sayuran, daging, telur, hingga sumber protein lainnya sehingga kandungan gizinya menjadi lebih seimbang.

Sementara di Indonesia, masih banyak masyarakat yang mengonsumsi mi instan tanpa tambahan lauk atau sayur.

“Mi di sana memang sebagai makanan pokok, tapi tetap dilengkapi lauk seperti ayam, daging, telur, tahu, atau sayuran,” jelas Toto.

Kandungan Natrium Tetap Tinggi

Meski populer di Jepang dan Korea Selatan, Toto menegaskan bahwa mi instan tetap mengandung natrium tinggi yang berisiko memicu tekanan darah tinggi atau hipertensi jika dikonsumsi berlebihan.

Namun, konsumsi sayur dan buah yang tinggi di negara tersebut membantu menyeimbangkan dampak buruk dari kandungan natrium dalam mi instan.

Di Korea Selatan misalnya, mi instan hampir selalu disantap bersama kimchi yang kaya serat dan probiotik.

“Mereka sangat gemar makan sayur. Mi dimakan bersama sayuran dalam jumlah banyak,” katanya.

Baca Juga :  Sekda Alpian Pimpin Forum JKN Sungai Penuh, Ini Fokus Pemkot Tingkatkan Pelayanan BPJS Kesehatan

Gaya Hidup Jadi Faktor Penting

Selain pola makan, gaya hidup masyarakat Jepang dan Korea Selatan juga dinilai lebih aktif dibanding sebagian masyarakat Indonesia.

Toto mencontohkan kebiasaan berjalan kaki yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di Jepang, Korea Selatan, hingga Taiwan.

Aktivitas fisik rutin tersebut membantu membakar kalori dan menjaga metabolisme tubuh tetap sehat.

Sebaliknya, sebagian masyarakat Indonesia cenderung menggunakan kendaraan bahkan untuk jarak dekat.

Cara Konsumsi di Indonesia Dinilai Kurang Tepat

Toto juga menyoroti kebiasaan konsumsi mi instan di Indonesia yang terkadang tidak sesuai standar gizi.

Masih banyak anak-anak yang mengonsumsi mi instan tanpa dimasak sempurna atau langsung dimakan dari bungkusnya.

Kebiasaan tersebut dinilai kurang baik bagi kesehatan jika dilakukan terus-menerus.

Konsumsi Boleh, Asal Tetap Seimbang

Ahli menegaskan bahwa mi instan sebenarnya tetap boleh dikonsumsi, asalkan tidak berlebihan dan dilengkapi makanan bergizi lainnya.

Menambahkan sayur, telur, daging, atau sumber protein lain saat mengonsumsi mi instan dapat membantu memenuhi kebutuhan nutrisi harian.

Selain itu, pola hidup aktif dan rutin berolahraga juga menjadi faktor penting untuk menjaga kesehatan tubuh.

Berita Terkait

Kabar Baik ! RSUD A Thalib Sungai Penuh Segera Naik Jadi Tipe B, CT Scan dan Mamografi Sudah Disiapkan
CT-Scan Segera Hadir di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Warga Sungai Penuh dan Kerinci Dapat Kabar Baik
Gula Darah Tinggi Bisa Merusak Ginjal, Ini Tanda Awal yang Sering Tidak Disadari
Kabut Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Penyakit Apa? Kenali 8 Dampak Berbahaya bagi Kesehatan
Biaya MRI 2026: Apakah Ditanggung BPJS? Cek Syarat dan Prosedurnya
BPJS Kesehatan 2026: Biaya yang Ditanggung, Cara Klaim, Syarat dan Prosedur Terbaru
Obat Hipertensi yang Ditanggung BPJS 2026: Ini Daftar dan Cara Mendapatkannya
Iuran BPJS Kesehatan 2027 Tak Naik? Ini Penjelasan Menkes dan Menkeu
Berita ini 69 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 8 September 2026 - 21:19 WIB

Kabar Baik ! RSUD A Thalib Sungai Penuh Segera Naik Jadi Tipe B, CT Scan dan Mamografi Sudah Disiapkan

Jumat, 4 September 2026 - 07:00 WIB

CT-Scan Segera Hadir di RSUD Mayjen H.A. Thalib, Warga Sungai Penuh dan Kerinci Dapat Kabar Baik

Rabu, 2 September 2026 - 21:01 WIB

Gula Darah Tinggi Bisa Merusak Ginjal, Ini Tanda Awal yang Sering Tidak Disadari

Rabu, 26 Agustus 2026 - 02:08 WIB

Kabut Asap Kebakaran Hutan Menyebabkan Penyakit Apa? Kenali 8 Dampak Berbahaya bagi Kesehatan

Senin, 24 Agustus 2026 - 03:00 WIB

Biaya MRI 2026: Apakah Ditanggung BPJS? Cek Syarat dan Prosedurnya

Berita Terbaru

Teknologi

Spesifikasi Redmi A27U 2027: Monitor 4K 120Hz dengan USB-C 90W

Senin, 14 Sep 2026 - 10:00 WIB