JAKARTA — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali meningkatkan tekanan terhadap Federal Reserve (The Fed) agar menurunkan suku bunga menjelang pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 15–16 September 2026.
Desakan Trump muncul ketika pasar justru mendapatkan sinyal bahwa kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih cukup kuat. Situasi tersebut membuat arah kebijakan suku bunga The Fed menjadi salah satu perhatian utama pasar global.
Trump menilai perekonomian Amerika Serikat yang kuat seharusnya memungkinkan negara tersebut menikmati tingkat suku bunga yang lebih rendah. Ia bahkan memperingatkan konsekuensi perdagangan terhadap negara-negara yang dianggap memiliki surplus perdagangan dengan AS apabila tuntutannya tidak dipenuhi.
Tekanan terhadap bank sentral AS juga datang dari sejumlah pejabat pemerintahan Trump. Wakil Presiden JD Vance, Menteri Keuangan Scott Bessent, serta penasihat ekonomi senior Peter Navarro turut menyuarakan dukungan terhadap kebijakan suku bunga yang lebih rendah.
Data tenaga kerja AS Jadi Perhatian
Dorongan untuk memangkas suku bunga berhadapan dengan data ketenagakerjaan AS yang masih menunjukkan ketahanan.
Data terbaru menunjukkan nonfarm payrolls (NFP) bertambah 162.000 pekerjaan pada Agustus 2026. Angka tersebut jauh di atas perkiraan pasar yang berada di sekitar 53.000 pekerjaan.
Tingkat pengangguran tercatat 4,1%, sesuai dengan ekspektasi. Sementara itu, rata-rata upah per jam meningkat 0,3% secara bulanan dan tumbuh 3,1% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat dapat menjadi pertimbangan bagi The Fed karena pertumbuhan upah berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Inflasi Masih Menjadi Perhatian The Fed
Di sisi lain, pemerintahan Trump menyoroti perkembangan inflasi inti sebagai alasan untuk mendukung pelonggaran kebijakan moneter.
Perbedaan antara sejumlah indikator inflasi menjadi salah satu faktor yang membuat prospek kebijakan The Fed semakin menarik perhatian. Bank sentral AS menggunakan indeks harga Personal Consumption Expenditures (PCE) sebagai salah satu indikator penting dalam menentukan kebijakan moneternya.
Ketua The Fed Kevin Warsh sebelumnya menegaskan bahwa inflasi tetap menjadi perhatian utama bank sentral. Ia mencatat bahwa sebagian besar komponen indeks harga PCE masih menunjukkan kenaikan harga yang relatif tinggi dalam periode 12 bulan terakhir.
Keputusan FOMC September Jadi Sorotan
Pasar kini menunggu pertemuan FOMC pada 15–16 September 2026. Keputusan tersebut akan menjadi salah satu faktor penting yang menentukan arah dolar AS dan pasar keuangan global.
Laporan inflasi Consumer Price Index (CPI) yang dijadwalkan terbit sebelum pertemuan FOMC juga menjadi data penting. Investor akan mencermati apakah inflasi menunjukkan penurunan yang cukup untuk membuka ruang bagi The Fed melakukan pelonggaran kebijakan.
Sementara itu, pernyataan pejabat The Fed menunjukkan bahwa bank sentral tetap berupaya mempertahankan independensinya dari tekanan politik.
Dampaknya bagi Rupiah dan Harga Emas
Perubahan kebijakan suku bunga The Fed tidak hanya berdampak pada perekonomian AS. Pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, juga dapat merasakan dampaknya.
Jika The Fed mengambil kebijakan yang lebih dovish dan menurunkan suku bunga, tekanan terhadap dolar AS berpotensi berkurang. Kondisi tersebut dapat memberikan ruang bagi sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih stabil.
Sebaliknya, apabila The Fed mempertahankan atau menaikkan suku bunga karena mempertimbangkan inflasi dan kondisi tenaga kerja, dolar AS berpotensi kembali mendapatkan dukungan.
Harga emas juga akan menjadi perhatian investor. Suku bunga AS yang lebih rendah biasanya meningkatkan daya tarik aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, meskipun pergerakan harga emas tetap dipengaruhi faktor lain seperti dolar AS, geopolitik, dan ekspektasi inflasi.
Dengan demikian, keputusan The Fed pada September 2026 menjadi salah satu agenda penting pasar global. Investor akan mencermati kombinasi data inflasi, tenaga kerja, serta pernyataan pejabat bank sentral sebelum menentukan arah investasi berikutnya. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta









