JAKARTA — Pergerakan IHSG pekan ini menghadapi sejumlah sentimen penting dari global dan domestik.
Kebijakan The Fed, harga minyak, rupiah hingga ancaman El Nino menjadi perhatian investor pada perdagangan akhir September 2026.
Tekanan semakin besar setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 3,75%-4,00% pada 16 September 2026.
Kondisi tersebut kembali memperkuat tema higher for longer di pasar keuangan global.
Investor kini mencermati seberapa lama suku bunga tinggi akan bertahan.
Data ekonomi Amerika Serikat yang masih solid turut memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat.
Klaim pengangguran AS bahkan turun ke level terendah dalam hampir 60 tahun.
Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil US Treasury kemudian menjadi perhatian pasar negara berkembang.
Kondisi tersebut dapat meningkatkan premi risiko dan memengaruhi aliran dana ke pasar saham emerging market.
Harga Minyak Kembali Jadi Perhatian
Selain The Fed, harga minyak menjadi katalis penting bagi IHSG.
Risiko geopolitik di Timur Tengah membuat harga minyak kembali bergerak tinggi.
Harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel.
Sementara itu, harga WTI tercatat menguat 12,38% secara bulanan menjadi sekitar US$92,41 per barel.
Pergerakan harga minyak sangat penting bagi Indonesia karena dapat memengaruhi inflasi dan biaya energi.
Perkembangan pembicaraan Amerika Serikat dan Iran mengenai Selat Hormuz juga menjadi perhatian pasar.
Jika harga energi kembali naik, tekanan inflasi global berpotensi meningkat.
Rupiah Masih Tertekan
Dari dalam negeri, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75% pada RDG 22-23 September 2026.
Keputusan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan stabilitas rupiah dan inflasi.
Namun, tekanan terhadap mata uang rupiah masih terlihat.
Pada 25 September 2026, rupiah berada di sekitar Rp17.903 per dolar AS.
Sementara itu, JISDOR berada pada level Rp17.917 per dolar AS.
Bank Indonesia masih memiliki bantalan berupa cadangan devisa sekitar US$146,5 miliar.
Inflasi dan El Nino Jadi Risiko Berikutnya
Investor juga perlu mencermati perkembangan inflasi Indonesia.
Inflasi Agustus 2026 mencapai 3,19% secara tahunan.
Angka tersebut meningkat dari 2,88% pada Juli 2026.
Kenaikan terutama dipengaruhi volatile food dan inflasi inti.
Ancaman El Nino dapat menambah tekanan apabila mengganggu produksi dan pasokan pangan.
Harga energi yang tinggi juga dapat memberikan tekanan tambahan terhadap inflasi.
Kondisi tersebut membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter dalam waktu dekat menjadi perhatian investor.
3 Saham Masuk Radar Indo Premier
Di tengah berbagai sentimen tersebut, Indo Premier Sekuritas mencermati tiga saham pada pekan ini.
Pertama, MDKA.
Indo Premier Sekuritas memberikan rekomendasi beli saham PT Merdeka Copper Gold Tbk dengan target harga Rp3.300 per saham.
Kedua, AUTO.
PT Astra Otoparts Tbk juga masuk dalam daftar saham yang dicermati. Target harga yang diberikan mencapai Rp3.610 per saham.
Ketiga, KETR.
PT Ketrosden Triasmitra Tbk memperoleh rekomendasi beli dengan target harga Rp1.080 per saham.
Target tersebut merupakan pandangan analis Indo Premier Sekuritas dan bukan jaminan pergerakan harga saham.
Apa yang Perlu Dicermati Investor?
Pergerakan IHSG pekan ini akan sangat bergantung pada perkembangan sejumlah katalis.
Investor dapat mencermati arah suku bunga global, pergerakan dolar AS, harga minyak dan nilai tukar rupiah.
Perkembangan geopolitik juga dapat mengubah sentimen pasar dalam waktu singkat.
Sementara itu, risiko inflasi dan El Nino menjadi faktor domestik yang perlu diperhatikan.
Dengan banyaknya katalis tersebut, perdagangan saham berpotensi bergerak dinamis.
Bagi investor, memahami risiko dan melakukan analisis sebelum mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam menentukan strategi investasi.
Disclaimer: Informasi mengenai MDKA, AUTO dan KETR dalam artikel ini merupakan rekomendasi Indo Premier Sekuritas sebagaimana diberitakan Bisnis.com. Artikel ini bukan ajakan membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya menjadi tanggung jawab investor. (*)
Editor : Fanda Yosephta









