JAKARTA – Harga emas dan perak kembali menunjukkan pergerakan ekstrem setelah gelombang aksi jual mengguncang pasar pada pekan lalu. Meski belum mampu menembus kembali level psikologis US$5.000 per ons troi, sejumlah analis menilai fondasi tren kenaikan logam mulia masih kokoh.
Mengutip data pasar internasional, emas terakhir ditutup di kisaran US$4.961 per ons troi atau menguat hampir 4% dalam sehari. Sementara perak bergerak lebih liar dengan lonjakan harian di atas 9%, meski masih tertahan di bawah US$90 per ons.
Analis Komoditas Commerzbank Barbara Lambrecht menilai pelaku pasar masih mencari arah di tengah ketidakpastian global yang tinggi. Namun, ia melihat penopang jangka menengah untuk emas dan perak belum hilang.
Volatilitas bahkan disebut melampaui Bitcoin untuk kontrak satu bulan, menandakan pasar logam mulia sedang berada dalam fase konsolidasi lebar, bukan pembalikan tren.
Senior Market Analyst Pepperstone Michael Brown menekankan, harga spot emas yang masih bertahan di atas rata-rata pergerakan 50 hari menjadi sinyal teknikal bahwa momentum bullish belum sepenuhnya pudar.
Pandangan senada disampaikan analis XS.com Rania Gule. Ia menilai fluktuasi tajam mencerminkan kecemasan investor terhadap inflasi, risiko resesi, arah kebijakan moneter The Fed, serta eskalasi geopolitik.
Menurutnya, peluang emas menuju US$6.000 per ons troi hingga akhir tahun tetap terbuka, meski jalurnya tidak lagi impulsif seperti reli sebelumnya.
Potensi Koreksi Masih Ada
Chief Market Analyst FP Markets Aaron Hill memperkirakan emas akan bergerak di rentang US$4.700–US$5.000 dalam waktu dekat. Ia mengingatkan bahwa sebagian sentimen positif sudah tercermin dalam harga, sehingga risiko koreksi jangka pendek masih ada.
Sementara Chief Investment Officer Zaye Capital Markets Naeem Aslam bahkan membuka peluang koreksi lebih dalam hingga US$3.800 per ons untuk membentuk fondasi baru. Meski begitu, level saat ini dinilai masih menarik untuk akumulasi bertahap.
Fokus Pasar: Data AS dan Pemilu Jepang
Perhatian pelaku pasar pekan ini tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat, terutama inflasi dan ketenagakerjaan, yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga.
Pasar saat ini memperkirakan pelonggaran kebijakan moneter bisa terjadi pada Juni. Jika data ekonomi menunda skenario tersebut, emas berpotensi tertekan sementara.
Di sisi lain, pemilu Jepang turut menjadi sorotan. Kebijakan fiskal ekspansif yang mungkin muncul dikhawatirkan menekan obligasi Jepang dan melemahkan yen. Kondisi ini berpotensi mendorong investor global kembali mencari aset lindung nilai seperti emas.
Agenda Ekonomi Penting Pekan Ini
Minggu: Pemilu Jepang
Selasa: Penjualan Ritel AS
Rabu: Nonfarm Payrolls AS
Kamis: Klaim Pengangguran & Penjualan Rumah AS
Jumat: Indeks Harga Konsumen (CPI) AS
Dalam situasi penuh ketidakpastian ini, analis sepakat satu hal: pasar logam mulia sedang melakukan reposisi sehat, bukan mengakhiri tren naiknya.









