Indosat Ungkap Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 23:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

BISNIS-Indosat Ooredoo Hutchison memastikan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) hingga saat ini masih dapat dikelola dengan baik dan belum mengganggu stabilitas bisnis perusahaan.

Industri telekomunikasi menjadi salah satu sektor yang cukup sensitif terhadap penguatan dolar AS karena masih bergantung pada perangkat, infrastruktur, dan teknologi impor berbasis mata uang asing.

Direktur dan Chief Financial Officer Indosat, Nicky Lee, mengatakan perusahaan terus memantau dinamika makroekonomi sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko bisnis jangka panjang.

“Sebagai langkah pengelolaan risiko, kewajiban keuangan perusahaan sebagian besar didenominasikan dalam mata uang rupiah,” ujar Nicky Lee.


Indosat Siapkan Strategi Hedging Valuta Asing

Selain mengutamakan transaksi berbasis rupiah, Indosat juga memiliki kemampuan melakukan lindung nilai atau hedging valuta asing untuk mengantisipasi gejolak kurs dolar AS.

Strategi tersebut dinilai penting di tengah penguatan dolar yang berpotensi meningkatkan biaya operasional industri telekomunikasi nasional.

Baca Juga :  Arus Modal Global Berubah, Pasar Negara Berkembang Tetap Diuji

Biaya pengadaan perangkat jaringan, infrastruktur telekomunikasi, hingga teknologi digital sebagian besar masih menggunakan komponen impor dengan transaksi berbasis dolar AS.

Meski demikian, Indosat menegaskan pelemahan rupiah saat ini belum memengaruhi komitmen perusahaan dalam menjaga kualitas layanan pelanggan.

“Fluktuasi nilai tukar hingga saat ini dapat kami kelola dengan baik,” kata Nicky.


Industri Telekomunikasi Rentan Dampak Penguatan Dolar

Sektor telekomunikasi termasuk industri yang cukup rentan terhadap pergerakan kurs karena kebutuhan investasi jaringan dan pengembangan teknologi masih banyak menggunakan mata uang asing.

Kondisi ini membuat operator seluler harus menyiapkan strategi keuangan yang matang agar tidak terdampak signifikan ketika rupiah melemah.

Pada penutupan perdagangan Selasa (27/5/2026), nilai tukar dolar AS tercatat berada di level Rp17.795 atau menguat sekitar 0,29 persen.

Baca Juga :  Kurs Dolar AS Hari Ini 4 September 2026 di BCA, Mandiri dan BNI: Cek Kurs Beli-Jual USD

Pemerintah Sebut Pelemahan Rupiah Tidak Masuk Akal

Sementara itu, Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan rupiah yang terjadi saat ini tidak sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia.

Menurutnya, kondisi ekonomi domestik masih tergolong baik sehingga pelemahan kurs dianggap tidak wajar.

“Kan ekonomi bagus, ini terjadi ketika fundamentalnya bagus. Ini nggak masuk akal sebenarnya,” ujar Purbaya.

Ia juga menyebut pemerintah telah melakukan intervensi di pasar Surat Berharga Negara (SBN) melalui treasury operation untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.


Fokus Dukung Ekonomi Digital Nasional

Di tengah tekanan nilai tukar, Indosat menegaskan tetap fokus menghadirkan layanan terbaik bagi pelanggan serta mendukung pertumbuhan ekonomi digital Indonesia.

Perusahaan juga terus mengembangkan layanan berbasis teknologi seperti AI, 5G, dan penguatan infrastruktur data sebagai bagian dari strategi pertumbuhan jangka panjang.

Berita Terkait

Harga Asuransi Mobil 2026: Cara Menghitung Premi dan Mendapatkan Perlindungan Lebih Murah
BI Rate 5,75 Persen, Cadangan Devisa Indonesia Tembus US$146,32 Miliar per September 2026
Dow Jones Tembus 51.999, Wall Street Menguat 0,73%, Bagaimana Nasib IHSG dan Rupiah?
ASX 200 Today: Australian Shares Slip as BHP and Rio Tinto Sink Nearly 5%
Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik Jadi 10,25%
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus US$459,3 Miliar pada Agustus 2026, Ini Penjelasan BI
Telkomsel Bagi-Bagi 151 Hadiah Mobil dan Motor, Ini Cara Ikut Undiannya
Pertamina Tambah 57,9 Juta Liter BBM ke Bali, 60 SPBU Disiapkan Buka 24 Jam
Berita ini 39 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 02:00 WIB

Harga Asuransi Mobil 2026: Cara Menghitung Premi dan Mendapatkan Perlindungan Lebih Murah

Jumat, 16 Oktober 2026 - 01:00 WIB

BI Rate 5,75 Persen, Cadangan Devisa Indonesia Tembus US$146,32 Miliar per September 2026

Jumat, 16 Oktober 2026 - 00:02 WIB

Dow Jones Tembus 51.999, Wall Street Menguat 0,73%, Bagaimana Nasib IHSG dan Rupiah?

Kamis, 15 Oktober 2026 - 21:54 WIB

ASX 200 Today: Australian Shares Slip as BHP and Rio Tinto Sink Nearly 5%

Kamis, 15 Oktober 2026 - 20:00 WIB

Low Tuck Kwong Borong 100 Juta Saham BYAN Senilai Rp1,12 Triliun, Kepemilikan Naik Jadi 10,25%

Berita Terbaru