JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah ke zona merah pada perdagangan Selasa (31/3/2026) setelah sebelumnya sempat menguat. Pergerakan ini dipicu sentimen kebijakan pembatasan pembelian BBM subsidi jenis Pertalite dan Solar yang mulai diperbincangkan pelaku pasar.
Pada awal perdagangan, IHSG dibuka menguat di level 7.122, lebih tinggi dibanding penutupan sebelumnya di posisi 7.091. Bahkan, indeks sempat melaju hingga mendekati 7.155 atau naik hampir 1 persen, mencerminkan optimisme awal investor.
Namun, tren positif tersebut tidak bertahan lama. Tekanan jual mulai muncul seiring kekhawatiran dampak kebijakan energi terhadap sektor riil dan kinerja emiten. IHSG pun berbalik melemah hingga turun 0,27 persen ke level 7.072.
Tak hanya itu, indeks bahkan sempat menyentuh level terendah di 7.057. Kondisi ini menandakan pelaku pasar mulai mengambil sikap hati-hati di tengah ketidakpastian kebijakan dan potensi perlambatan aktivitas ekonomi.
Dari sisi likuiditas, nilai transaksi tercatat mencapai Rp6,49 triliun dengan volume perdagangan sebesar 13,1 miliar saham. Frekuensi transaksi yang mencapai 871 ribu kali menunjukkan aktivitas pasar tetap tinggi meski arah indeks melemah.
Kebijakan pembatasan pembelian BBM subsidi maksimal 50 liter per hari dinilai berpotensi menekan sektor transportasi, logistik, hingga konsumsi masyarakat. Dampaknya bisa merembet ke kinerja perusahaan terbuka, terutama yang bergantung pada distribusi dan energi.
Selain faktor domestik, investor juga masih mencermati dinamika global seperti harga komoditas dan ketegangan geopolitik yang turut memengaruhi arah aliran dana asing di pasar saham Indonesia.
Analis pasar menilai kondisi ini sebagai fase konsolidasi jangka pendek. Investor disarankan fokus pada saham berfundamental kuat, dividen tinggi, serta sektor yang relatif tahan terhadap tekanan kebijakan seperti perbankan dan komoditas. (*/Tim)









