JAKARTA – PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) resmi menetapkan jadwal pembagian dividen tunai dari laba bersih tahun buku 2025. Pembayaran dividen kepada para pemegang saham dijadwalkan berlangsung pada 8 April 2026, atau setelah periode Lebaran.
Keputusan tersebut disepakati dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada 12 Maret 2026.
Dalam rapat tersebut, para pemegang saham menyetujui penggunaan sebagian laba bersih perusahaan untuk dibagikan sebagai dividen kepada investor.
Investor Perlu Perhatikan Tanggal Cum Dividen
Bagi investor yang ingin memperoleh hak dividen BBCA, terdapat beberapa tanggal penting yang perlu diperhatikan.
Perusahaan menetapkan cum dividen di pasar reguler dan negosiasi pada 27 Maret 2026. Sementara itu, cum dividen di pasar tunai ditetapkan pada 31 Maret 2026, yang sekaligus menjadi tanggal pencatatan pemegang saham atau recording date.
Investor yang tercatat sebagai pemegang saham hingga tanggal tersebut berhak menerima dividen yang akan dibayarkan pada April mendatang.
Total Dividen Rp41,3 Triliun
Manajemen BCA memutuskan membagikan dividen sebesar Rp336 per saham, dengan total nilai mencapai sekitar Rp41,3 triliun.
Nilai tersebut setara dengan sekitar 72 persen dari laba bersih perusahaan pada tahun buku 2025.
Jumlah dividen itu sudah termasuk dividen interim Rp55 per saham yang sebelumnya telah dibagikan kepada pemegang saham pada 22 Desember 2025.
Dengan demikian, sisa dividen yang akan dibayarkan kepada investor pada April 2026 adalah sebesar Rp281 per saham.
Sinyal Pembagian Dividen Interim 2026
Selain pembagian dividen tahun buku 2025, manajemen BCA juga membuka peluang untuk membagikan dividen interim hingga tiga kali pada tahun buku 2026.
Direktur Keuangan BCA, Vera Eve Lim, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut dapat dilakukan jika kondisi keuangan perusahaan tetap kuat.
Dividen interim tersebut direncanakan akan dibagikan secara bertahap setiap kuartal sepanjang tahun 2026.
Penyaluran Kredit Tumbuh
Di sisi kinerja bisnis, BCA mencatat penyaluran kredit bank only mencapai Rp948,95 triliun pada Januari 2026.
Angka tersebut meningkat sekitar 6,26 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp893,02 triliun.









