JAKARTA – Perjalanan ratusan warga negara Indonesia menuju perusahaan scam online di Kamboja dan Myanmar ternyata berawal dari sesuatu yang tampak biasa: grup lowongan kerja di media sosial. Dari sana, tawaran pekerjaan mengalir, instruksi diberikan, tiket disiapkan, dan keberangkatan diatur rapi.
Bareskrim Polri, melalui Direktorat Tindak Pidana PPA dan PPO, mengungkap pola ini setelah melakukan asesmen terhadap 249 WNI bermasalah (WNIB) yang telah dipulangkan hingga akhir Januari 2026.
Direktur PPA dan PPO Bareskrim Polri, Brigjen Pol Nurul Azizah, menyebut para perekrut menyamarkan pekerjaan sebagai operator e-commerce, customer service, hingga pelayan restoran di luar negeri.
Namun, setibanya di tujuan, realitas yang dihadapi jauh berbeda.
Berangkat Pakai Visa Turis, Tiba Langsung Dikurung
Para WNI diberangkatkan menggunakan visa turis melalui rute berlapis seperti Batam–Malaysia–Kamboja atau Jakarta–Singapura–Kamboja. Banyak di antara mereka tidak menyadari pekerjaan yang menanti.
Begitu tiba, mereka dibawa ke gedung perusahaan scam online dan tidak diperkenankan keluar. Aktivitas dijaga ketat, komunikasi dibatasi.
Bekerja 18 Jam, Tanpa Kepastian Upah
Di dalam gedung, mereka bekerja 14 hingga 18 jam per hari mengejar target. Makan dan tempat tinggal tersedia, tetapi kebebasan hampir tidak ada.
Sebagian menerima bayaran sekitar Rp 6–8 juta per bulan, sebagian lain mengaku tidak pernah menerima gaji. Saat dipulangkan, banyak yang tidak lagi memegang ponsel maupun dokumen keberangkatan.
Durasi bekerja pun beragam, mulai dua bulan hingga lebih dari satu tahun.
Direkrut Sesama WNI
Fakta lain yang terungkap, banyak perekrut adalah WNI yang sudah lebih dulu bekerja di Kamboja. Mereka menjadi perantara, meyakinkan calon korban lewat komunikasi personal di media sosial.
Minim Laporan, Meski Indikasi TPPO Kuat
Dari 249 orang yang dipulangkan dalam kondisi sehat, hanya tiga orang yang bersedia membuat laporan polisi terkait dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Polri menilai pola ini menunjukkan jaringan perekrutan yang rapi, memanfaatkan celah literasi digital dan iming-iming kerja di luar negeri.









