BI Buka Suara Soal Rupiah Tembus Rp17.900, Ini Penyebab Utamanya

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKOMOMI – Nilai tukar rupiah kembali menjadi perhatian publik setelah sempat menyentuh level Rp17.949 per dolar Amerika Serikat (AS) selama periode libur dan cuti bersama Iduladha 1447 Hijriah. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran pelaku pasar dan masyarakat terkait prospek ekonomi nasional di tengah meningkatnya tekanan global.

Merespons kondisi tersebut, Bank Indonesia menegaskan akan terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui berbagai instrumen kebijakan moneter dan intervensi pasar.

Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp18.000 per dolar AS juga menjadi salah satu isu ekonomi paling banyak diperbincangkan dalam beberapa hari terakhir.

BI Ungkap Penyebab Rupiah Tertekan

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik.

Menurutnya, ketidakpastian ekonomi global akibat konflik yang terus berkembang di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu utama meningkatnya permintaan aset safe haven seperti dolar AS.

Selain itu, terdapat peningkatan kebutuhan valuta asing di dalam negeri yang terjadi secara musiman.

Beberapa faktor yang memberikan tekanan terhadap rupiah antara lain:

  • Konflik geopolitik di Timur Tengah
  • Pembayaran utang luar negeri (ULN)
  • Repatriasi dividen investor asing
  • Keterbatasan arus masuk dolar AS
  • Tingginya permintaan valuta asing domestik

Kombinasi faktor tersebut menyebabkan permintaan dolar AS meningkat lebih cepat dibanding pasokannya di pasar.

Rupiah Sempat Sentuh Rp17.949 per Dolar AS

Berdasarkan data pasar keuangan internasional, dolar AS sempat berada di level Rp17.949 selama perdagangan pada masa libur panjang Iduladha.

Sementara itu, data perdagangan menunjukkan rentang pergerakan dolar AS berada di kisaran Rp17.772 hingga Rp17.995 per dolar AS.

Pada perdagangan Jumat (29/5/2026), rupiah ditutup melemah sekitar 35 poin atau 0,20 persen ke posisi Rp17.880 per dolar AS.

Baca Juga :  Mobile Banking Bank Jambi Ditargetkan Aktif Lagi Juli–Agustus 2026, Ini Update Terbarunya

Level tersebut menjadi salah satu yang terlemah dalam beberapa tahun terakhir.

Kondisi ini memunculkan berbagai prediksi bahwa rupiah berpotensi mendekati atau bahkan menembus level psikologis Rp18.000 per dolar AS jika tekanan global terus berlanjut.

Strategi BI Menjaga Stabilitas Rupiah

Bank Indonesia menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan nilai tukar rupiah.

Beberapa instrumen yang digunakan antara lain:

Intervensi Pasar Valas

BI melakukan intervensi melalui:

  • Transaksi spot
  • Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF)
  • Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore

Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan permintaan dan pasokan valuta asing.

Pembelian Surat Berharga Negara

Bank Indonesia juga melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder secara terukur.

Kebijakan ini dilakukan untuk menjaga likuiditas dan stabilitas pasar keuangan domestik.

Penguatan Instrumen Moneter

BI terus memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter agar tetap menarik bagi investor.

Strategi ini diharapkan dapat:

  • Menjaga arus modal asing masuk
  • Mendukung stabilitas pasar obligasi
  • Menahan tekanan terhadap rupiah

Aturan Baru Pembelian Dolar Berlaku Juni 2026

Sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas pasar valuta asing, Bank Indonesia juga menerapkan kebijakan baru terkait pembelian dolar AS.

Mulai Juni 2026, BI menetapkan batas pembelian tunai valuta asing terhadap rupiah tanpa underlying sebesar 25.000 dolar AS per pelaku per bulan.

Kebijakan ini bertujuan untuk:

  • Menekan spekulasi berlebihan
  • Mengendalikan permintaan valas
  • Menjaga stabilitas pasar keuangan

Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menyeluruh BI dalam mengelola volatilitas nilai tukar.

Dampak Jika Rupiah Terus Melemah

Pelemahan rupiah berpotensi memberikan dampak terhadap berbagai sektor ekonomi nasional.

Beberapa dampak yang paling mungkin dirasakan masyarakat antara lain:

Baca Juga :  Harga Turun, Saham CDIA Justru Diborong Investor Domestik

Harga Barang Impor Lebih Mahal

Produk elektronik, gadget, kendaraan, hingga bahan baku industri berpotensi mengalami kenaikan harga.

Tekanan terhadap Inflasi

Biaya impor yang meningkat dapat mendorong kenaikan harga barang dan jasa di dalam negeri.

Beban Dunia Usaha Bertambah

Perusahaan yang memiliki utang atau kewajiban dalam dolar AS akan menghadapi biaya yang lebih tinggi.

Tekanan pada APBN

Pelemahan rupiah juga dapat meningkatkan beban subsidi energi dan impor minyak pemerintah.

BI Optimistis Stabilitas Tetap Terjaga

Meski tekanan terhadap rupiah masih berlangsung, Bank Indonesia memastikan koordinasi dengan berbagai otoritas ekonomi terus diperkuat.

Selain menjaga stabilitas nilai tukar, BI juga berupaya menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Bank sentral menegaskan akan terus memantau perkembangan ekonomi global dan domestik secara ketat serta mengambil langkah yang diperlukan apabila volatilitas meningkat.

Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga stabilitas sistem keuangan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global.

FAQ Rupiah dan Dolar AS

Mengapa rupiah melemah hingga mendekati Rp18.000?

Pelemahan dipicu kombinasi faktor global seperti konflik Timur Tengah serta meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri.

Berapa posisi tertinggi dolar AS terhadap rupiah saat libur Iduladha?

Dolar AS sempat menyentuh level Rp17.949 per dolar AS.

Apa yang dilakukan Bank Indonesia?

BI melakukan intervensi pasar valas, pembelian SBN, penguatan instrumen moneter, dan pengaturan pembelian valas.

Apakah rupiah bisa tembus Rp18.000?

Hal tersebut masih bergantung pada perkembangan kondisi global dan respons pasar keuangan dalam beberapa waktu ke depan.

Apa dampaknya bagi masyarakat?

Harga barang impor, biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, dan sejumlah kebutuhan berbasis dolar berpotensi menjadi lebih mahal.

Berita Terkait

Meta Resmi Luncurkan WhatsApp Plus dan Instagram Plus, Ini Harga serta Fitur Lengkapnya
Harga Emas Pegadaian 30 Mei 2026 Terbaru Naik Tipis, Antam Tembus Rp2,8 Juta per Gram
Harga Emas Berpotensi Naik? China Borong 86 Ton Emas
Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 Pekan Depan
Indosat Ungkap Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah
Kabar Baik PPPK 2026: Kemendagri Bahas Pengangkatan Full Time dan Gaji APBN
Nomor HP Baru Wajib Scan Wajah Mulai Juli 2026, Ada Biaya Rp3.000. Siapa Yang Bayar ?
BI Rate Diprediksi Naik Lagi Juni, Simak Dampaknya ke KPR, Kredit Usaha, Deposito hingga Nilai Tukar Rupiah
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:38 WIB

Meta Resmi Luncurkan WhatsApp Plus dan Instagram Plus, Ini Harga serta Fitur Lengkapnya

Sabtu, 30 Mei 2026 - 08:07 WIB

BI Buka Suara Soal Rupiah Tembus Rp17.900, Ini Penyebab Utamanya

Sabtu, 30 Mei 2026 - 04:00 WIB

Harga Emas Berpotensi Naik? China Borong 86 Ton Emas

Sabtu, 30 Mei 2026 - 02:00 WIB

Rupiah Diprediksi Tembus Rp18.000 Pekan Depan

Jumat, 29 Mei 2026 - 23:00 WIB

Indosat Ungkap Strategi Hadapi Pelemahan Rupiah

Berita Terbaru