SUNGAIPENUH — Rencana masyarakat adat Depati Payung Pondok Tinggi menggelar Kenduri Sko pada 2028 mendapat dukungan kuat dari Wakil Wali Kota Sungai Penuh, Azhar Hamzah.
Azhar, yang juga merupakan tokoh adat Depati Payung, menyatakan dukungannya terhadap agenda adat tersebut. Ia bahkan menegaskan dukungan itu lebih dari sekadar seremonial.
“Untuk Kenduri Sko Pondok Tinggi, jangankan 100 persen, saya dukung penuh 200 persen,” kata Azhar saat ditemui wartawan di ruang kerjanya.
Bagi Azhar, Kenduri Sko bukan sekadar rangkaian upacara adat. Tradisi tersebut merupakan salah satu cara masyarakat menjaga warisan leluhur sekaligus memperkuat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Kenduri Sko juga menjadi ruang pertemuan antara anak jantan dan anak batino. Hubungan kekerabatan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat adat itu, menurut Azhar, perlu terus dirawat dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Untuk melestarikan budaya itu sudah jelas. Begitu juga pariwisata akan meningkat,” ujarnya.
Ia melihat Kenduri Sko memiliki dampak yang lebih luas. Ketika masyarakat berkumpul dalam satu kegiatan adat, nilai kebersamaan dan gotong royong kembali mendapat ruang. Pada saat yang sama, tradisi tersebut dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat dari luar Pondok Tinggi untuk datang dan mengenal kebudayaan setempat.
“Inti dari Kenduri Sko ini membuat persatuan kita semakin kuat. Nilai gotong royong akan terus terjaga,” kata dia.
Azhar mengatakan rencana Kenduri Sko 2028 patut mendapat dukungan karena gagasan tersebut tumbuh dari keinginan masyarakat adat sendiri. Dorongan dari anak batino dan anak jantan, kata dia, diperkuat oleh semangat para tokoh adat untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut.
“Kita harus dukung penuh. Ini muncul karena besarnya keinginan anak batino kita dan didorong lagi semangat para tokoh adat untuk mewujudkannya supaya bisa terlaksana nantinya,” tuturnya.
Rencana Kenduri Sko pada 2028 itu sekaligus menjadi momentum bagi masyarakat Pondok Tinggi untuk menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman. Jika terlaksana, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi perhelatan adat, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk mempererat kekerabatan, memperkuat gotong royong, dan memperkenalkan kekayaan budaya Pondok Tinggi kepada masyarakat yang lebih luas. (*)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









