SUNGAI PENUH — Pertemuan Ahmadi Zubir dan Fikar Azami memunculkan kembali pembicaraan tentang peta politik Pemilihan Wali Kota Sungai Penuh. Wacana keduanya berpasangan dalam pilkada mendatang mulai beredar, meski kontestasi politik itu masih jauh.
Sebagian warga menilai pembicaraan tersebut terlalu dini. Mereka menganggap energi publik semestinya diarahkan ke persoalan yang lebih mendesak: ekonomi, lapangan kerja, pelayanan dasar, dan pembangunan kota.
“Pilkada masih jauh. Sekarang warga tidak fokus ke sana. Fokusnya ekonomi, bagaimana bertahan dan bersyukur dalam situasi nasional saat ini,” kata Andi, warga Sungai Penuh.
Pembicaraan soal Ahmadi dan Fikar muncul ketika pemerintah Kota Sungai Penuh menghadapi keterbatasan fiskal. Kondisi keuangan daerah disebut tidak lagi seleluasa periode sebelumnya, ketika Ahmadi Zubir dan Almarhum AJB—ayah Fikar Azami—pernah memimpin pemerintahan kota.
Di tengah keterbatasan itu, pemerintah saat ini tetap menjalankan sejumlah program pembangunan. Perbaikan pelayanan kebersihan dan kesehatan mulai dirasakan masyarakat. Pembangunan infrastruktur juga terus berjalan.
Sejumlah proyek menjadi perhatian, antara lain normalisasi Sungai Batang Merao, pengembangan Rumah Sakit MHA, pembangunan Sistem Penyediaan Air Minum atau SPAM di Hamparan Rawang, hingga penataan kawasan Pasar Beringin.
Bagi sebagian warga, pekerjaan rumah pemerintah jauh lebih konkret ketimbang membicarakan kandidat pilkada yang masih bertahun-tahun di depan.
“Boro-boro mikir politik. Yang dipikir sekarang bagaimana meningkatkan ekonomi, mencari kerja, dan memajukan Sungai Penuh,” ujar Andi.
Ia mengatakan masyarakat membutuhkan kepastian bahwa pembangunan tetap berjalan meski kemampuan keuangan daerah terbatas. Pemerintah juga dituntut mencari terobosan agar aktivitas ekonomi tidak tersendat.
Karena itu, wacana koalisi atau pasangan calon dinilai belum menjadi kebutuhan utama masyarakat. Pilkada, kata dia, memiliki waktunya sendiri. Sementara kebutuhan ekonomi warga berlangsung setiap hari.
Pertemuan Ahmadi Zubir dan Fikar Azami memang dapat dibaca sebagai sinyal politik. Namun, terlalu cepat menarik kesimpulan bahwa pertemuan itu merupakan awal terbentuknya pasangan untuk Pilwako berikutnya.
Politik masih panjang. Konstelasi dapat berubah, begitu pula kepentingan para tokoh dan partai politik.
Untuk sementara, warga memilih melihat hasil kerja pemerintah ketimbang siapa yang akan bertarung pada pemilihan berikutnya.
“Kalau ekonomi masyarakat membaik, lapangan kerja bertambah dan pembangunan berjalan, itu yang dirasakan langsung warga,” kata Andi.
Menurut dia, membangun Sungai Penuh tidak harus menunggu momentum pilkada. Semua pihak—pemerintah, politisi, pengusaha, tokoh masyarakat, dan warga—dapat bekerja bersama mulai sekarang. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









