Jakarta-Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menunjukkan perubahan signifikan dalam peta elektabilitas calon presiden. Jika pemilihan presiden digelar saat ini, Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menjadi kandidat dengan tingkat keterpilihan tertinggi, sementara Presiden Prabowo Subianto mengalami penurunan dukungan dibandingkan survei sebelumnya.
Survei yang dilakukan pada 5–19 Juli 2026 itu menempatkan Dedi Mulyadi di posisi pertama dalam simulasi semi-terbuka dengan raihan elektabilitas 35 persen. Adapun Prabowo Subianto berada di urutan kedua dengan 14,5 persen. Selisih keduanya dinilai cukup lebar dalam hasil survei tersebut.
Selain dua nama itu, beberapa tokoh nasional juga masuk dalam daftar pilihan responden. Anies Baswedan memperoleh 8,2 persen, Gibran Rakabuming Raka 7,7 persen, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) 4,9 persen, Ganjar Pranowo 4,2 persen, dan Mahfud MD 4 persen. Sementara itu, 12,8 persen responden mengaku belum menentukan pilihan atau tidak memberikan jawaban.
SMRC juga mencatat adanya perubahan tren dibandingkan survei sebelumnya. Elektabilitas Prabowo disebut turun dari 34,9 persen pada November 2025 menjadi 14,5 persen pada Juli 2026. Sebaliknya, dukungan terhadap Dedi Mulyadi meningkat dari 19,7 persen menjadi 35 persen dalam periode yang sama.
Dalam simulasi dua nama atau head-to-head, Dedi Mulyadi kembali unggul dengan perolehan 59 persen. Sementara itu, Prabowo memperoleh 28,3 persen. Sisanya, sekitar 12,7 persen responden, belum menentukan pilihan. Hasil tersebut menunjukkan keunggulan Dedi Mulyadi dalam skenario pertarungan langsung.
Menurut pemaparan SMRC, tren perubahan elektabilitas berlangsung cukup cepat dalam beberapa bulan terakhir. Dukungan terhadap Dedi Mulyadi terus meningkat, sedangkan elektabilitas Prabowo mengalami penurunan dibandingkan hasil survei sebelumnya. Namun demikian, survei hanya menggambarkan preferensi publik pada saat pengambilan data dan bukan hasil akhir pemilihan umum.
Survei ini melibatkan 749 responden yang dipilih secara acak dari warga negara Indonesia yang telah memiliki hak pilih. Wawancara dilakukan melalui telepon kepada responden yang memiliki akses telepon serta secara tatap muka kepada responden yang tidak memiliki akses tersebut. Margin of error survei berada pada kisaran ±3,7 persen.
Hasil survei SMRC menjadi salah satu indikator dinamika politik nasional menjelang Pilpres 2029. Meski demikian, peta elektabilitas masih berpotensi berubah seiring perkembangan kondisi politik, kebijakan pemerintah, serta munculnya kandidat baru dalam beberapa tahun mendatang. (Tim)
Editor : FANDA YOSEPHTA









