SUNGAI PENUH – Kepulan asap mengepul dari deretan bambu yang disusun mengelilingi bara api di Luhah Dasira, Kota Sungai Penuh, Jumat, 3 Juli 2026. Puluhan warga bergantian menjaga api agar lemang matang merata. Di lokasi yang sama, seekor kerbau disembelih sebagai bagian dari persiapan Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh.

Sejak pagi, masyarakat Luhah Dasira memadati lokasi kenduri. Ninik mamak, depati, pemangku adat, pemuda, dan kaum ibu membagi tugas masing-masing. Sebagian mengurus penyembelihan kerbau, sementara lainnya menyiapkan bambu, ketan, dan santan untuk memasak lemang.
Penyembelihan kerbau menjadi salah satu tahapan penting dalam Kenduri Sko. Daging hasil sembelihan akan diolah menjadi hidangan untuk menjamu tamu, keluarga, dan masyarakat yang menghadiri puncak acara. Seluruh proses dilakukan secara gotong royong sesuai tata cara adat yang berlaku di Luhah Dasira.
Di sisi lain, memasak lemang juga memiliki makna tersendiri. Bagi masyarakat Dasira, tradisi itu bukan sekadar menyiapkan makanan. Lemang menjadi simbol kebersamaan karena seluruh tahapan, mulai dari menyiapkan bambu hingga menjaga bara api, dikerjakan bersama oleh warga.
Kenduri Sko merupakan agenda adat yang digelar secara berkala sebagai ungkapan syukur sekaligus momentum memperkuat persaudaraan antarsanak. Tradisi ini juga menjadi ruang bagi para pemangku adat untuk meneguhkan nilai-nilai yang diwariskan para leluhur kepada generasi penerus.
Dalam pelaksanaan Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh, Luhah Dasira dikenal sebagai salah satu wilayah adat yang tetap mempertahankan tata cara tradisional. Setiap prosesi dijalankan berdasarkan ketentuan adat yang telah berlaku turun-temurun, mulai dari persiapan hingga puncak kenduri.
Pantauan di lokasi menunjukkan suasana kebersamaan begitu terasa. Warga bekerja tanpa sekat. Kaum ibu menyiapkan bahan masakan, para pemuda mengawasi pemanggangan lemang, sedangkan para ninik mamak memastikan seluruh tahapan berlangsung sesuai ketentuan adat.
Rangkaian Kenduri Sko Enam Luhah Sungai Penuh di Luhah Dasira dijadwalkan berlanjut dengan sejumlah prosesi adat lainnya. Masyarakat berharap tradisi yang telah diwariskan selama ratusan tahun itu tetap terjaga sebagai identitas budaya Kerinci dan menjadi warisan bagi generasi mendatang. (fyo)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









