Meledak! Pekan Budaya Luhah Datuk Singarapi Putih Hidupkan Kembali Warisan Adat Sungai Penuh, Ribuan Warga Padati Acara

Avatar photo

- Jurnalis

Minggu, 28 Juni 2026 - 21:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

SUNGAIPENUH-Sungai Penuh kembali menjadi pusat perhatian masyarakat pecinta budaya. Pekan Budaya Luhah Datuk Singarapi Putih berlangsung meriah dengan menghadirkan berbagai atraksi budaya yang menggambarkan kehidupan masyarakat Kerinci pada masa lampau. Ribuan warga memadati lokasi kegiatan untuk menyaksikan langsung kekayaan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Kegiatan budaya tersebut mempertemukan tokoh adat, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, hingga generasi muda dalam satu ruang kebersamaan. Masyarakat adat dari Dusun Baru, Koto Bento, Dusun Empih, dan Hamparan Rawang hadir mengenakan pakaian adat sebagai simbol persatuan dalam menjaga identitas budaya yang telah diwariskan para leluhur.

Nuansa adat langsung terasa sejak awal acara. Prosesi penyambutan tamu, iringan musik tradisional, hingga berbagai pertunjukan seni menjadi daya tarik utama. Pengunjung tidak hanya disuguhkan hiburan, tetapi juga memperoleh edukasi mengenai filosofi adat yang selama ini menjadi pedoman kehidupan masyarakat Kerinci, khususnya di kawasan Luhah Datuk Singarapi Putih.

Kehadiran jajaran pemerintah turut memberikan dukungan terhadap pelestarian budaya daerah. Sekretaris Daerah Kota Sungai Penuh, Alfian, hadir bersama sejumlah anggota DPRD Kota Sungai Penuh, yakni Adharianto, Aspar Nasir, Hutri Randa, Hardizal, dan Feri Arisandi. Kehadiran para pejabat tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dan legislatif dalam menjaga kelestarian budaya sebagai bagian dari pembangunan daerah.

Dalam suasana penuh kekeluargaan, tokoh-tokoh adat menampilkan berbagai prosesi yang menggambarkan sistem kehidupan masyarakat Kerinci pada masa silam. Nilai gotong royong, musyawarah, penghormatan kepada pemimpin adat, hingga tata cara kehidupan sosial diperlihatkan secara langsung kepada masyarakat. Generasi muda terlihat antusias mengikuti setiap rangkaian acara sebagai bentuk pembelajaran terhadap sejarah daerahnya sendiri.

Salah satu bagian yang paling menarik perhatian pengunjung ialah penampilan berbagai kebiasaan masyarakat zaman dahulu. Mulai dari cara bercocok tanam, aktivitas berburu, mengolah hasil pertanian, hingga kehidupan sehari-hari masyarakat adat diperagakan secara langsung. Seluruh aktivitas tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat Kerinci pada masa lampau hidup selaras dengan alam.

Selain memperagakan aktivitas ekonomi tradisional, panitia juga menghadirkan peralatan-peralatan kuno yang dahulu digunakan masyarakat. Peralatan pertanian, perlengkapan rumah tangga, alat memasak tradisional, hingga perlengkapan adat dipamerkan sebagai bagian dari edukasi budaya. Banyak pengunjung memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mengenalkan sejarah kepada anak-anak mereka.

Baca Juga :  Rapat Paripurna III, Tanggapan Walikota Atas Pandangan Umum Fraksi tentang Raperda Pertanggungjawaban APBD 2025

Berbagai permainan tradisional juga menjadi magnet tersendiri. Anak-anak hingga orang dewasa tampak berbaur mengikuti permainan yang kini mulai jarang ditemukan. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika masyarakat dari berbagai desa saling berinteraksi tanpa memandang perbedaan latar belakang.

Pekan Budaya Luhah Datuk Singarapi Putih juga menjadi momentum memperkuat identitas masyarakat adat di tengah derasnya arus modernisasi. Tokoh adat menilai perkembangan teknologi tidak boleh menghilangkan akar budaya yang selama ini menjadi identitas masyarakat Kerinci. Sebaliknya, kemajuan zaman harus dimanfaatkan sebagai sarana memperkenalkan budaya kepada masyarakat yang lebih luas.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi media pembelajaran sejarah secara langsung. Selama ini banyak generasi muda mengenal budaya hanya melalui cerita orang tua atau buku pelajaran. Dengan adanya pekan budaya, masyarakat dapat melihat secara nyata bagaimana kehidupan leluhur mereka berlangsung ratusan tahun silam.

Pelestarian budaya juga dinilai memiliki nilai ekonomi yang besar. Berbagai daerah di Indonesia telah membuktikan bahwa kegiatan budaya mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara. Jika dikelola secara profesional, Pekan Budaya Luhah Datuk Singarapi Putih berpotensi menjadi agenda wisata budaya tahunan yang mampu meningkatkan perekonomian masyarakat.

Para pelaku usaha mikro turut merasakan dampak positif kegiatan tersebut. Stand kuliner tradisional, kerajinan tangan, hingga produk khas daerah dipadati pengunjung sejak pagi hingga malam hari. Aktivitas transaksi ekonomi meningkat seiring membludaknya masyarakat yang datang menghadiri acara.

Di sisi lain, kegiatan budaya seperti ini juga menjadi ruang silaturahmi antarwilayah adat. Masyarakat Dusun Baru, Koto Bento, Dusun Empih, dan Hamparan Rawang memperlihatkan kekompakan dalam menjaga warisan leluhur. Kebersamaan tersebut menjadi pesan bahwa budaya merupakan perekat persatuan yang tetap relevan hingga saat ini.

Nilai-nilai adat yang ditampilkan selama kegiatan bukan sekadar pertunjukan seremonial. Di balik setiap prosesi tersimpan filosofi kehidupan yang mengajarkan penghormatan kepada orang tua, kepedulian terhadap sesama, kejujuran, tanggung jawab, serta keseimbangan antara manusia dan alam. Nilai tersebut masih menjadi pedoman masyarakat adat hingga sekarang.

Baca Juga :  Penutupan Jembatan Kerinduan Sungai Penuh Mulai 14 Juni 2026, Pengendara Diminta Gunakan Jalur Alternatif

Sejumlah pengunjung mengaku terkesan karena dapat menyaksikan secara langsung kehidupan masyarakat tempo dulu. Mereka berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan konsep yang lebih besar sehingga semakin banyak generasi muda mengenal sejarah daerahnya.

Bagi dunia pendidikan, kegiatan ini memiliki manfaat besar sebagai laboratorium budaya. Pelajar dapat mempelajari sejarah lokal secara kontekstual tanpa harus bergantung pada teori di dalam kelas. Pengalaman langsung dinilai jauh lebih efektif dalam menumbuhkan rasa bangga terhadap budaya daerah.

Pemerintah daerah diharapkan terus memberikan dukungan terhadap berbagai kegiatan pelestarian budaya. Selain menjaga identitas daerah, agenda budaya juga dapat menjadi strategi pengembangan sektor pariwisata berbasis kearifan lokal yang berkelanjutan.

Melalui Pekan Budaya Luhah Datuk Singarapi Putih, masyarakat Sungai Penuh menunjukkan bahwa warisan leluhur masih hidup di tengah perubahan zaman. Tradisi, adat istiadat, serta nilai kebersamaan tetap menjadi fondasi kehidupan masyarakat. Semangat inilah yang diharapkan terus diwariskan kepada generasi berikutnya agar identitas budaya Kerinci tidak pernah hilang ditelan perkembangan zaman.

FAQ

1. Apa itu Pekan Budaya Luhah Datuk Singarapi Putih?
Pekan Budaya merupakan kegiatan pelestarian budaya yang menampilkan adat istiadat, sejarah, seni, dan kehidupan masyarakat Luhah Datuk Singarapi Putih di Kota Sungai Penuh.

2. Siapa saja yang hadir dalam kegiatan tersebut?
Acara dihadiri tokoh adat dan masyarakat Dusun Baru, Koto Bento, Dusun Empih, Hamparan Rawang, Sekda Kota Sungai Penuh Alfian, serta anggota DPRD Kota Sungai Penuh Adharianto, Aspar Nasir, Hutri Randa, Hardizal, dan Feri Arisandi.

3. Apa yang ditampilkan dalam Pekan Budaya?
Berbagai prosesi adat, permainan tradisional, seni budaya, peralatan tradisional, hingga simulasi mata pencaharian masyarakat Kerinci pada zaman dahulu.

4. Mengapa kegiatan ini penting?
Karena menjadi sarana melestarikan budaya, memperkuat identitas masyarakat adat, memberikan edukasi kepada generasi muda, sekaligus mendukung pengembangan wisata budaya dan ekonomi kreatif.

5. Apa manfaat ekonomi dari kegiatan budaya seperti ini?
Kegiatan budaya mampu meningkatkan kunjungan wisatawan, menggerakkan UMKM, memperluas promosi produk lokal, dan membuka peluang pengembangan pariwisata berbasis budaya di Kota Sungai Penuh. (fyo)

Berita Terkait

Warga Sungai Penuh Mulai Pakai Masker, Mata Perih di Tengah Kabut: Ada Apa Hari Ini?
Pengurus ISMI Kerinci dan Sungai Penuh Resmi Dilantik, Prof Jafar Ahmad dan Hartono Dipercaya Memimpin
Harga Ayam Potong di Pasar Tanjung Bajure Naik Lagi, Kini Capai Rp60 Ribu per Kg
Pemkot Sungai Penuh Raih Predikat Istimewa IRH 2026, Azhar Hamzah: Jadi Motivasi Perbaiki Pelayanan Publik
Gaya Jadul Muncul di Pawai HUT RI Sungai Penuh, Aksinya Bikin Heboh
Harga Daging Ayam di Sungai Penuh Naik Jadi Rp54 Ribu per Kg, Warga Soroti Dampak MBG
Pemkot Sungai Penuh Gelar Resepsi HUT RI ke-81, Wali Kota Alfin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan
Wali Kota Alfin Pimpin Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Kota Sungai Penuh
Berita ini 99 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 16:38 WIB

Warga Sungai Penuh Mulai Pakai Masker, Mata Perih di Tengah Kabut: Ada Apa Hari Ini?

Minggu, 23 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Pengurus ISMI Kerinci dan Sungai Penuh Resmi Dilantik, Prof Jafar Ahmad dan Hartono Dipercaya Memimpin

Rabu, 19 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Harga Ayam Potong di Pasar Tanjung Bajure Naik Lagi, Kini Capai Rp60 Ribu per Kg

Rabu, 19 Agustus 2026 - 11:00 WIB

Pemkot Sungai Penuh Raih Predikat Istimewa IRH 2026, Azhar Hamzah: Jadi Motivasi Perbaiki Pelayanan Publik

Selasa, 18 Agustus 2026 - 20:12 WIB

Gaya Jadul Muncul di Pawai HUT RI Sungai Penuh, Aksinya Bikin Heboh

Berita Terbaru

Hukum

Masa Jabatan Kapolri Digugat ke MK

Selasa, 25 Agu 2026 - 04:00 WIB