Peringatan Hari Pahlawan 2025: Antara Spirit Patriotik vs Digital

​Oleh: Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd.(Guru Besar UIN STS Jambi)

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 10 November 2025 - 19:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pendahuluan: Patriotisme di Persimpangan Era

​Setiap tanggal 10 November, Indonesia merayakan Hari Pahlawan, mengenang kembali dentuman meriam yang menggetarkan Surabaya pada 1945. Momen ini selalu menjadi waktu untuk merenungkan makna spirit patriotik yang diwariskan para pendahulu. Namun, di tahun 2025, refleksi ini terasa berbeda. Kita berada di tengah pusaran spirit digital yang masif, sebuah era di mana medan perjuangan tak lagi berada di parit-parit pertahanan, melainkan di lini masa (timeline), server, dan platform media sosial.

​Pertanyaan mendasar yang muncul adalah: Apakah spirit patriotik kepahlawanan masih sama di tengah spirit digital yang serba cepat dan individualistik? Apakah terjadi pergeseran yang signifikan dalam cara generasi muda menghayati dan mengaplikasikan nilai-nilai kepahlawanan? Pergeseran ini bukan berarti lenyapnya semangat, melainkan transformasinya, dari perjuangan fisik menuju perjuangan kognitif dan karakter di ruang siber (Budiman, 2018, hlm. 155). Esai ini akan mengupas dikotomi sekaligus sintesis antara semangat heroik tradisional dan tantangan pahlawan kontemporer di era digital.


Tantangan Spirit Pahlawan Generasi Z, Alpha, dan Beta
​Generasi Z (Gen Z), Gen Alpha, dan sebentar lagi Gen Beta, adalah anak-anak kandung teknologi. Bagi mereka, kepahlawanan sering kali dikontekstualisasikan ulang. Tantangan utama bagi mereka bukanlah mengusir penjajah fisik, tetapi melawan tirani informasi (hoaks), krisis identitas akibat perbandingan sosial di media, dan polarisasi digital.

​Spirit pahlawan bagi Gen Z dan Alpha mungkin termanifestasi sebagai ‘Pahlawan Digital’: mereka yang berani menyuarakan kebenaran (digital activism), melawan cyberbullying, menciptakan konten edukatif yang melestarikan budaya, atau menjadi whistleblower terhadap ketidakadilan. Tantangannya adalah menjaga agar likes dan followers tidak menggantikan motivasi murni pengorbanan tanpa pamrih yang menjadi inti dari kepahlawanan sejati. Spirit perjuangan telah berubah dari war of bullets menjadi war of keyboards (Li, 2020, p. 545; Pramono & Hidayat, 2022, hlm. 50). Generasi ini dituntut untuk memiliki Etika Digital dan Kewarganegaraan Digital yang kuat (Susanto, 2024).

Baca Juga :  Koordinasi GTK 2026, Gubernur Al Haris Bahas Solusi Guru Paruh Waktu


Teori Spirit Kepahlawanan: Hero is Not Die
​Secara sosiologis dan psikologis, konsep kepahlawanan bersifat abadi, seperti frasa “Hero is Not Die. Teori kepahlawanan, seperti yang dianalisis oleh Joseph Campbell dalam The Hero’s Journey, menunjukkan bahwa pahlawan adalah arketipe yang harus melalui penolakan, cobaan berat, dan akhirnya kembali dengan ‘hadiah’ untuk masyarakat (Campbell, 2008, p. 12). Inti dari kepahlawanan adalah transendensi diri (pengorbanan kebutuhan pribadi demi kebaikan kolektif).

​Dalam konteks modern, kepahlawanan tidak harus berupa kematian di medan perang. Ia mencakup keberanian moral dan integritas intelektual. Pahlawan era digital adalah mereka yang konsisten menjaga nilai luhur Pancasila dan persatuan bangsa di tengah gempuran ideologi transnasional dan disinformasi (Setiawan & Santoso, 2023, hlm. 315). Spirit kepahlawanan kini juga mencakup usaha menjaga ketahanan nasional dari ancaman disinformasi (Supriyanto, 2023).


Sejarah Kepahlawanan Tanah Air: Kriteria dan Jenis Pahlawan
​Sejarah mencatat, kepahlawanan di Indonesia dilembagakan melalui kriteria resmi. Merujuk pada Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, kriteria seorang Pahlawan Nasional mencakup: “pernah memimpin dan/atau melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik/bidang lain untuk merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan… tidak pernah menyerah… dan berdampak luas bagi kelangsungan bangsa.” (UU 20/2009, Pasal 2).

​Secara data, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025, Presiden secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada 10 tokoh baru, yang menjadikan jumlah total Pahlawan Nasional Indonesia kini mencapai 216 tokoh (Setneg RI/Kompas.com, 2025). Kesepuluh tokoh yang ditetapkan tersebut adalah: (1) K.H. Abdurrahman Wahid, (2) Jenderal Besar TNI H.M. Soeharto, (3) Marsinah, (4) Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmaja, (5) Hajjah Rahmah El Yunusiyah, (6) Jenderal TNI (Purn) Sarwo Edhie Wibowo, (7) Sultan Muhammad Salahuddin, (8) Syaikhona Muhammad Kholil, (9) Tuan Rondahaim Saragih, dan (10) Zainal Abidin Syah. Keragaman tokoh ini menunjukkan bahwa kepahlawanan tidak hanya terbatas pada satu profesi, melainkan pada esensi pengabdian (Rasyid & Siregar, 2021, hlm. 205).

Baca Juga :  Dana Transfer 2026: Provinsi Jambi Kantongi Rp 1,28 Triliun, Berikut Rincian DAU dan DBH


Regulasi dan Moralitas Menghargai Pahlawan: Sikap Generasi Lintas Zaman
​Sikap menghargai pahlawan kini diatur oleh Regulasi dan didorong oleh Moralitas. Secara legal, selain UU 20/2009, nilai-nilai kepahlawanan diwariskan melalui kurikulum pendidikan nasional (PP 57/2021 tentang Standar Nasional Pendidikan). Namun, regulasi saja tidak cukup. Dibutuhkan moralitas publik yang berkesinambungan dan kesadaran bahwa pahlawan adalah bagian dari Pendidikan Karakter dan Kebangsaan (Dewantara, 2021).

​Sikap generasi lintas zaman terhadap pahlawan tidak boleh stagnan hanya pada seremoni bunga. Generasi Z dan Alpha perlu didorong untuk mewujudkan spirit pahlawan dalam bentuk kontribusi nyata di bidang keahliannya, termasuk dalam pemanfaatan media sosial secara positif (Mulyadi, 2023). Peringatan Hari Pahlawan 2025 harus menjadi momentum untuk mengalihkan fokus dari ‘mengenang masa lalu’ menjadi ‘membangun masa depan’ (Wibowo, 2023, hlm. 10; Budiman, 2018, hlm. 160). Menghargai pahlawan berarti menjaga integritas bangsa di hadapan tantangan global.


Penutup
​Peringatan Hari Pahlawan 2025 adalah cermin ganda. Satu sisi memantulkan heroisme fisik yang menginspirasi, sisi lain memantulkan medan perjuangan digital yang dinamis. Spirit patriotik kepahlawanan tidak hilang, melainkan berevolusi. Generasi muda kini mewarisi kewajiban untuk menjadi pahlawan yang memerangi digital poverty, menjaga kedaulatan siber, dan memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap relevan di tengah banjir informasi.

​Kepahlawanan kontemporer adalah tentang kepemimpinan dengan integritas dan pengorbanan digital yang dilakukan tanpa gimmick atau motivasi viral. Tugas kita adalah memandu pergeseran ini, memastikan bahwa moto “Hero is Not Die” tetap hidup, bukan hanya di monumen batu, tetapi di setiap unggahan, tindakan, dan keputusan yang membangun masa depan bangsa (Hardjono, 2022).

Penulis : Prof. Dr. Mukhtar Latif, MPd

Editor : Dedi Dora

Berita Terkait

Antrian Pengambilan Gaji ASN di Bank Jambi Masih Terjadi, Nasabah Pertanyakan Kapan M-Banking Kembali Aktif
DPR Setujui Anggaran Kementerian PU 2027 Rp114,59 Triliun, Fokus Jalan, Irigasi hingga Air Bersih
ISMI Kerinci Berbagi ! Gandeng Nailah Hairat Wisata, Tawarkan Paket Umrah Mulai Rp27 Jutaan
Pendaftaran Relawan Pajak 2027 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
9 Kiai Terpilih Jadi Anggota AHWA Muktamar NU, Bakal Tentukan Ketum PBNU
Hasil Voting Muktamar NU: Pemilihan Ketum PBNU Beralih ke Mekanisme AHWA
Purbaya Siapkan Teknologi Track and Trace untuk Cegah Pemalsuan Pita Cukai
Trailer Avengers: Endgame Encore Rilis, Apa Bedanya dengan Versi 2019?
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 05:00 WIB

Antrian Pengambilan Gaji ASN di Bank Jambi Masih Terjadi, Nasabah Pertanyakan Kapan M-Banking Kembali Aktif

Rabu, 2 September 2026 - 22:00 WIB

DPR Setujui Anggaran Kementerian PU 2027 Rp114,59 Triliun, Fokus Jalan, Irigasi hingga Air Bersih

Selasa, 1 September 2026 - 21:36 WIB

ISMI Kerinci Berbagi ! Gandeng Nailah Hairat Wisata, Tawarkan Paket Umrah Mulai Rp27 Jutaan

Selasa, 1 September 2026 - 18:10 WIB

Pendaftaran Relawan Pajak 2027 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya

Senin, 31 Agustus 2026 - 06:08 WIB

9 Kiai Terpilih Jadi Anggota AHWA Muktamar NU, Bakal Tentukan Ketum PBNU

Berita Terbaru