Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.030 Triliun pada Mei 2026, Ini Penjelasan BI

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 18 Juli 2026 - 02:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

EKONOMI – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030,35 triliun pada Mei 2026. Nilai tersebut tumbuh 2,1 persen secara tahunan (year on year/yoy), sedikit lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan 2 persen pada April 2026.

Menurut BI, kenaikan utang luar negeri terutama dipengaruhi oleh peningkatan utang sektor publik, sementara kontraksi utang swasta mulai mereda.

Kenaikan Dipicu Utang Pemerintah dan Bank Sentral

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan pertumbuhan ULN didorong oleh meningkatnya utang pemerintah dan bank sentral.

Di sisi lain, penurunan utang luar negeri sektor swasta mulai menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

“Perkembangan tersebut dipengaruhi oleh pertumbuhan ULN publik, baik pemerintah maupun bank sentral, di tengah kontraksi pertumbuhan ULN swasta yang lebih rendah,” jelas Ramdan dalam keterangan resminya.

Utang Pemerintah Capai US$217,3 Miliar

Bank Indonesia mencatat utang luar negeri pemerintah mencapai US$217,3 miliar, tumbuh 3,7 persen (yoy) dan relatif stabil dibandingkan April 2026.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh:

  • Meningkatnya aliran dana investor ke Surat Berharga Negara (SBN) internasional.
  • Pembayaran pinjaman luar negeri pemerintah yang jatuh tempo.
  • Kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia.

Pemerintah juga menegaskan komitmennya menjaga kredibilitas fiskal melalui pembayaran kewajiban utang secara tepat waktu.

Utang Digunakan untuk Sektor Produktif

Pemerintah mengarahkan pemanfaatan utang luar negeri guna mendukung pembiayaan pembangunan nasional.

Baca Juga :  Fintech Global Hadapi Regulasi Ketat, Pengguna Diminta Lebih Waspada

Beberapa sektor yang menerima porsi terbesar antara lain:

  • Jasa kesehatan dan kegiatan sosial (22 persen).
  • Administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib (20,6 persen).
  • Pendidikan (16,2 persen).
  • Konstruksi (11,5 persen).
  • Transportasi dan pergudangan (8,5 persen).

Kepemilikan SRBI Mendorong Kenaikan ULN Bank Sentral

Bank Indonesia juga mencatat peningkatan utang luar negeri bank sentral yang dipengaruhi bertambahnya kepemilikan investor asing pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).

Peningkatan tersebut merupakan bagian dari strategi operasi moneter yang mendukung stabilitas nilai tukar rupiah.

Utang Swasta Masih Kontraksi

Sementara itu, utang luar negeri swasta tercatat US$195,9 miliar atau masih mengalami kontraksi 0,1 persen (yoy).

Namun demikian, angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan April 2026 yang mengalami kontraksi sebesar 0,5 persen.

Kontraksi yang semakin kecil terutama berasal dari sektor lembaga keuangan.

Empat sektor penyumbang terbesar ULN swasta meliputi:

  • Industri pengolahan.
  • Jasa keuangan dan asuransi.
  • Pengadaan listrik dan gas.
  • Pertambangan dan penggalian.

Keempat sektor tersebut menyumbang hampir 80 persen dari total utang luar negeri swasta.

Rasio Utang terhadap PDB Masih Aman

Bank Indonesia menilai struktur utang luar negeri Indonesia masih berada pada level yang sehat.

Hal itu tercermin dari:

  • Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 29,9 persen.
  • Dominasi utang jangka panjang yang mencapai 83,9 persen dari total ULN.
Baca Juga :  Rupiah Menguat ke Rp17.797 per Dolar AS, Cek Kurs BCA, BRI, Mandiri dan BNI Hari Ini

Menurut BI, struktur tersebut menunjukkan kemampuan Indonesia dalam menjaga keberlanjutan pengelolaan utang sekaligus mendukung pembiayaan pembangunan.

Kesimpulan

Utang luar negeri Indonesia mencapai sekitar Rp8.030 triliun pada Mei 2026 dengan pertumbuhan tahunan sebesar 2,1 persen. Kenaikan terutama didorong oleh sektor publik, sementara kontraksi utang swasta mulai mereda.

Bank Indonesia menegaskan kondisi utang masih terkendali karena rasio terhadap PDB tetap berada di bawah 30 persen dan mayoritas utang memiliki tenor jangka panjang.


FAQ

Berapa utang luar negeri Indonesia pada Mei 2026?

Posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$444,4 miliar atau sekitar Rp8.030,35 triliun.

Apa penyebab kenaikan utang luar negeri?

Kenaikan dipicu pertumbuhan utang pemerintah dan bank sentral, sementara kontraksi utang swasta mulai berkurang.

Berapa rasio utang luar negeri terhadap PDB?

Rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat sebesar 29,9 persen.

Apakah utang luar negeri Indonesia masih aman?

Bank Indonesia menilai struktur utang masih sehat karena didominasi utang jangka panjang dan rasio terhadap PDB tetap terkendali.

Untuk apa utang luar negeri digunakan?

Sebagian besar digunakan untuk membiayai sektor kesehatan, pendidikan, administrasi pemerintahan, konstruksi, transportasi, dan program pembangunan lainnya.

Berita Terkait

Purbaya Buka Opsi Ubah Batas Omzet UMKM Bebas PPh, Ini Penjelasannya
5 Direktur Baru Bank BTN 2026, Ada Eks Pejabat WIKA dan yang Termuda 43 Tahun
KAI Group Buka Rekrutmen 2026 untuk Lulusan SMA-S1, Ini Cara Daftar
Cara Menurunkan Desil Lewat HP September 2026, Cek DTSEN dan Bansos
Harga BBM Hari Ini 3 September 2026 di Jambi, Sumbar dan Riau: Pertamax, Pertalite hingga Dexlite
Skema Bagi Hasil Ojol Berubah, GoTo Mulai Kurangi Ketergantungan pada Gojek
Gudang Garam Tunda Pembelian Tembakau hingga 2030
Pendaftaran Relawan Pajak 2027 Dibuka, Cek Syarat dan Cara Daftarnya
Berita ini 17 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 6 September 2026 - 12:00 WIB

Purbaya Buka Opsi Ubah Batas Omzet UMKM Bebas PPh, Ini Penjelasannya

Minggu, 6 September 2026 - 10:00 WIB

5 Direktur Baru Bank BTN 2026, Ada Eks Pejabat WIKA dan yang Termuda 43 Tahun

Minggu, 6 September 2026 - 08:00 WIB

KAI Group Buka Rekrutmen 2026 untuk Lulusan SMA-S1, Ini Cara Daftar

Sabtu, 5 September 2026 - 20:30 WIB

Cara Menurunkan Desil Lewat HP September 2026, Cek DTSEN dan Bansos

Kamis, 3 September 2026 - 09:33 WIB

Harga BBM Hari Ini 3 September 2026 di Jambi, Sumbar dan Riau: Pertamax, Pertalite hingga Dexlite

Berita Terbaru