EKONOMI – PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) mencatatkan pertumbuhan kinerja keuangan yang signifikan sepanjang semester I 2026. Bank digital tersebut membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp182,6 miliar, meningkat hampir sembilan kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Meski berhasil membalikkan kinerja menjadi positif, perseroan masih memiliki akumulasi defisit saldo laba sebesar Rp663,5 miliar yang berasal dari kerugian pada tahun-tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan hingga akhir Juni 2026, saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya masih berada pada posisi defisit Rp663,52 miliar. Nilai tersebut telah menyusut sekitar 21,58 persen dibandingkan posisi akhir 2025, namun belum sepenuhnya menutup akumulasi kerugian masa lalu.
Penyaluran Kredit Melonjak 61 Persen
Di tengah proses pemulihan saldo laba, Superbank menunjukkan pertumbuhan bisnis yang cukup agresif.
Penyaluran kredit mencapai Rp13,4 triliun, meningkat 61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, total aset perusahaan tumbuh 81,5 persen menjadi Rp27 triliun.
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) juga mengalami peningkatan signifikan menjadi Rp15,9 triliun, atau naik 89,1 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Pertumbuhan tersebut mendorong pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) meningkat 51,7 persen menjadi Rp1,01 triliun.
Namun, ekspansi bisnis juga diikuti meningkatnya beban operasional serta kebutuhan pembentukan cadangan kerugian kredit.
Efisiensi Operasional Meningkat
Selain pertumbuhan laba, Superbank juga mencatat perbaikan sejumlah indikator profitabilitas.
Rasio Cost to Income Ratio (CIR) turun menjadi 54,8 persen, membaik dibandingkan 74,6 persen pada semester I 2025.
Sementara itu, Pre-tax Return on Equity (ROE) meningkat menjadi 5,7 persen, naik dari 1,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, mengatakan perusahaan akan terus memperluas kolaborasi dalam ekosistem digital guna meningkatkan layanan kepada nasabah.
“Kami akan terus memperluas kolaborasi di dalam ekosistem untuk menghadirkan layanan keuangan digital yang semakin relevan, mudah diakses, dan mampu menciptakan nilai jangka panjang bagi nasabah, mitra, serta pemegang saham,” ujarnya.
Investor Masih Mencermati Kualitas Pertumbuhan
Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati kemampuan Superbank dalam menjaga kualitas aset di tengah pertumbuhan kredit yang tinggi.
Selain itu, keberlanjutan profitabilitas dan kemampuan perusahaan menghapus akumulasi defisit saldo laba juga menjadi perhatian investor terhadap prospek jangka panjang bank digital tersebut.
FAQ
Berapa laba Superbank pada semester I 2026?
Superbank mencatat laba bersih sebesar Rp182,6 miliar.
Mengapa masih memiliki defisit saldo laba?
Karena masih terdapat akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya sebesar Rp663,52 miliar.
Berapa pertumbuhan kredit Superbank?
Penyaluran kredit tumbuh 61 persen secara tahunan menjadi Rp13,4 triliun.
Berapa total aset Superbank?
Total aset mencapai Rp27 triliun atau meningkat 81,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya.









