Prabowo Genjot Bioetanol Nasional, Pertamax Green 95 Sudah Dijual Rp16.600 per Liter, Indonesia Siap Menuju BBM E10

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 6 Agustus 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta-Pemerintah mempercepat pengembangan bahan bakar nabati berbasis bioetanol untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM. Presiden Prabowo Subianto menegaskan Indonesia memiliki peluang besar mengejar negara-negara yang lebih dulu mengembangkan campuran etanol dalam bensin, bahkan menargetkan penggunaan BBM E10 dalam beberapa tahun ke depan.

Saat menghadiri Panen Raya Serentak bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Prabowo mengatakan Indonesia sebenarnya sudah memiliki fondasi menuju penggunaan bensin E10 atau bensin dengan campuran 10 persen bioetanol. Bahkan, berdasarkan laporan yang diterimanya, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan campuran hingga E20 apabila kapasitas produksi terus ditingkatkan.

Menurut Prabowo, salah satu tantangan terbesar saat ini adalah keterbatasan fasilitas produksi bioetanol. Indonesia baru memiliki satu pabrik utama sehingga pemerintah berencana membangun sedikitnya 30 pabrik baru. Jumlah tersebut bahkan dapat ditambah menjadi 50 pabrik apabila kebutuhan dalam negeri terus meningkat.

Presiden juga mencontohkan keberhasilan sejumlah negara dalam memanfaatkan bioetanol. India telah menerapkan BBM E20 secara luas, sedangkan Brasil dikenal menggunakan E100 atau bahan bakar berbasis etanol murni pada sebagian besar kendaraan yang mendukung teknologi tersebut. Indonesia dinilai memiliki potensi serupa karena memiliki sumber daya pertanian yang melimpah.

Baca Juga :  OJK Siapkan Investasi Guaranteed Return 2026, Solusi Aman untuk Dana Pensiun dan Asuransi

Di tengah persiapan menuju E10, Indonesia sebenarnya telah lebih dahulu memasarkan BBM campuran bioetanol melalui Pertamax Green 95. Produk ini menggunakan campuran lima persen etanol atau E5 dengan kualitas setara bensin RON 95 sehingga menjadi langkah awal menuju penggunaan bioetanol dalam skala nasional.

Mulai 1 Agustus 2026, harga Pertamax Green 95 ditetapkan sebesar Rp16.600 per liter. Harga tersebut turun dibandingkan Juli 2026 yang masih berada di level Rp17.000 per liter. Penurunan harga ini diharapkan dapat meningkatkan minat masyarakat menggunakan BBM ramah lingkungan.

CEO Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE), John Anis, menyatakan Pertamina siap mendukung percepatan program bioetanol nasional. Saat ini Pertamax Green 95 telah tersedia di sekitar 170 SPBU Pertamina yang berada di wilayah Jakarta dan Jawa Timur. Ke depan, jaringan distribusi diproyeksikan akan terus diperluas.

Pertamina juga tengah mengembangkan berbagai sumber bahan baku bioetanol, tidak hanya berasal dari tebu, tetapi juga aren, singkong, jagung, hingga sorgum. Menurut perusahaan, Indonesia membutuhkan sekitar 20 hingga 30 pabrik bioetanol baru dalam dua tahun mendatang. Selain memperkuat ketahanan energi, pembangunan industri bioetanol diyakini mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Agar target tersebut tercapai, pemerintah dinilai perlu menetapkan regulasi mandatori penggunaan bioetanol sekaligus memberikan kepastian harga bahan baku.

Baca Juga :  Mendes Yandri Optimistis Seluruh Desa Teraliri Listrik pada Era Prabowo

FAQ

1. Apa itu Pertamax Green 95?
Pertamax Green 95 adalah BBM Pertamina dengan nilai oktan RON 95 yang mengandung lima persen bioetanol (E5).

2. Berapa harga Pertamax Green 95 terbaru?
Mulai 1 Agustus 2026, harga Pertamax Green 95 menjadi Rp16.600 per liter.

3. Apa target pemerintah terkait bioetanol?
Pemerintah menargetkan Indonesia dapat menerapkan BBM E10 dan secara bertahap mengembangkan hingga E20.

4. Mengapa bioetanol penting?
Bioetanol membantu mengurangi konsumsi BBM fosil, meningkatkan ketahanan energi nasional, serta menekan impor bahan bakar.

5. Dari mana bahan baku bioetanol berasal?
Selain tebu, bioetanol dapat diproduksi dari aren, singkong, jagung, dan sorgum.

6. Berapa pabrik bioetanol yang akan dibangun?
Pemerintah menargetkan pembangunan sedikitnya 30 pabrik baru, bahkan bisa mencapai 50 pabrik sesuai kebutuhan nasional. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Euro Falls to Three-Month Low as US Dollar Strengthens
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini, Pasar Waspadai Tekanan The Fed
Harga Emas Pegadaian 29 September 2026 Anjlok, Antam dan UBS Kompak Turun
Harga BBM Hari Ini 29 September 2026: Cek Pertalite, Pertamax, Dexlite dan Pertamina Dex di Jambi, Sumbar, Sumut
Pinjol Perketat Seleksi Peminjam, Usia 19-34 Tahun Sumbang 48,22% Kredit Bermasalah
Wall Street Melemah, Harga Minyak Melonjak akibat Ketegangan AS-Iran
Mortgage Pre-Qualification: How It Works, Requirements, and How Much You Can Borrow in 2026
Dolar AS Makin Kuat, BI Siapkan Strategi Baru untuk Jaga Rupiah hingga Akhir 2026
Berita ini 34 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 11:19 WIB

Euro Falls to Three-Month Low as US Dollar Strengthens

Selasa, 29 September 2026 - 10:11 WIB

Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS Hari Ini, Pasar Waspadai Tekanan The Fed

Selasa, 29 September 2026 - 09:17 WIB

Harga Emas Pegadaian 29 September 2026 Anjlok, Antam dan UBS Kompak Turun

Selasa, 29 September 2026 - 07:02 WIB

Harga BBM Hari Ini 29 September 2026: Cek Pertalite, Pertamax, Dexlite dan Pertamina Dex di Jambi, Sumbar, Sumut

Selasa, 29 September 2026 - 05:02 WIB

Pinjol Perketat Seleksi Peminjam, Usia 19-34 Tahun Sumbang 48,22% Kredit Bermasalah

Berita Terbaru

Otomotif

Harga Vespa Primavera 80th Rp63 Jutaan, Cuma Diproduksi 30 Unit

Selasa, 29 Sep 2026 - 12:03 WIB

Bisnis

Euro Falls to Three-Month Low as US Dollar Strengthens

Selasa, 29 Sep 2026 - 11:19 WIB