SUNGAI PENUH — Kondisi udara di sejumlah kawasan Sungai Penuh dan Kerinci menjadi perhatian warga, Minggu (23/8/2026). Sejumlah warga mulai menggunakan masker ketika beraktivitas di luar rumah.
Keluhan lain juga mulai dirasakan sebagian warga. Mata terasa perih ketika berada di luar rumah dalam kondisi udara yang dianggap kurang nyaman.
Kondisi tersebut membuat warga bertanya-tanya apakah kabut yang terlihat berkaitan dengan asap kebakaran hutan dan lahan. Namun, kesimpulan tersebut belum dapat dipastikan tanpa pemeriksaan dan verifikasi lapangan.
“Selama ini saya tidak memakai masker, hari ini kabutnya beda dan saya mengalami batuk – batuk,” ujar Hasril warga Sungai Penuh.
Data BMKG yang diperbarui pukul 16.20 WIB menunjukkan kondisi di Sungai Penuh berada dalam kategori berawan. Suhu tercatat 23 derajat Celsius dengan kelembapan 69 persen.
BMKG juga mencatat kecepatan angin hanya sekitar 2,3 kilometer per jam. Pada titik pemantauan tersebut, jarak pandang tercatat lebih dari 10 kilometer.
Di sisi lain, BMKG menyebut kondisi kemarau masih mendominasi sebagian wilayah Indonesia. Dalam analisis terbarunya, BMKG juga mendeteksi sebaran asap di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan berdasarkan citra satelit Himawari-9 pada 19 Agustus 2026.
Karena itu, warga Sungai Penuh dan Kerinci tetap perlu meningkatkan kewaspadaan. Terutama jika muncul bau asap, jarak pandang menurun, atau keluhan mata dan saluran pernapasan semakin banyak.
Bagi pengendara, penggunaan masker dan pengurangan kecepatan dapat dipertimbangkan ketika kondisi udara berubah. Warga juga sebaiknya mengikuti informasi BMKG dan pemerintah daerah sebelum menyimpulkan sumber kabut.
Masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan yang semakin berat sebaiknya mencari bantuan medis. Jangan mengabaikan gejala yang muncul setelah terpapar udara yang diduga mengandung asap atau polutan.
FAQ
Mengapa warga Sungai Penuh mulai memakai masker?
Sebagian warga menggunakan masker karena merasa kondisi udara kurang nyaman. Penggunaan masker juga dapat menjadi langkah perlindungan ketika terdapat dugaan paparan asap atau partikel udara.
Apakah kabut di Sungai Penuh pasti berasal dari karhutla?
Belum dapat dipastikan. Kabut dapat terjadi karena kondisi atmosfer, sementara asap karhutla membutuhkan verifikasi melalui data dan pemeriksaan lapangan.
Mengapa mata bisa terasa perih saat udara berkabut atau berasap?
Mata dapat mengalami iritasi ketika terpapar asap, debu, atau partikel tertentu di udara. Namun, penyebab keluhan setiap orang dapat berbeda.
Apakah kondisi Sungai Penuh saat ini sudah berbahaya?
Data BMKG pada pukul 16.20 WIB menunjukkan jarak pandang lebih dari 10 kilometer dan cuaca berawan di titik pemantauan Sungai Penuh. Kondisi lokal dapat berbeda sehingga warga tetap perlu memperhatikan perubahan udara.
Apa yang harus dilakukan jika mata mulai perih?
Kurangi paparan udara luar jika keluhan muncul dan hindari mengucek mata. Jika keluhan berat atau menetap, pertimbangkan pemeriksaan tenaga kesehatan.
Apakah masker diperlukan ketika muncul kabut?
Masker dapat digunakan sebagai langkah perlindungan ketika terdapat dugaan paparan asap atau partikel. Pilihan perlindungan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi udara.
Apakah ada indikasi asap di Sumatra?
BMKG melaporkan sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah Sumatra bagian tengah dan selatan berdasarkan citra Himawari-9 pada 19 Agustus 2026. Namun, hal tersebut tidak otomatis membuktikan kabut di Sungai Penuh berasal dari sumber yang sama. (*)
Penulis : Fanda Yosephta
Editor : Fanda Yosephta









