Makan Bergizi Gratis: Anggaran Raksasa, Tata Kelola Bermasalah?

Oleh: Ferri Zen ( lawyer di Jakarta)

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 28 Januari 2026 - 21:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) digadang sebagai kebijakan sosial unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Negara hadir menjanjikan perbaikan gizi anak sekolah secara masif.
Namun di balik narasi kesejahteraan itu, tersimpan pertanyaan mendasar: mengapa program sebesar ini dijalankan tergesa-gesa, minim fondasi hukum, dan melibatkan aktor di luar sistem sipil?MBG dirancang menjangkau puluhan juta siswa dengan proyeksi anggaran ratusan triliun rupiah per tahun saat diterapkan penuh secara nasional.
Skala ini menjadikannya salah satu program sosial termahal dalam sejarah kebijakan publik Indonesia. Ironisnya, besarnya anggaran tidak diimbangi dengan kerangka regulasi yang kokoh. Hingga tahap awal pelaksanaan, belum tersedia regulasi induk yang secara komprehensif mengatur tata kelola, pengadaan, standar gizi, mekanisme pengawasan, dan pertanggungjawaban keuangan.Ketiadaan payung hukum yang jelas membuat implementasi MBG sangat bergantung pada diskresi pelaksana di daerah.
Akibatnya, terjadi variasi pelaksanaan yang lebar dan menciptakan ruang abu-abu antara kewenangan dan tanggung jawab. Dalam negara hukum, kondisi ini bukan sekadar soal teknis, melainkan persoalan prinsipil tentang akuntabilitas kekuasaan.
Skema MBG bertumpu pada dapur-dapur penyedia makanan yang dikelola yayasan, koperasi, atau mitra komunitas. Setiap dapur melakukan belanja harian untuk bahan pangan dan distribusi.
Model ini menciptakan belanja negara berfrekuensi tinggi dengan daya telusur rendah—jenis belanja yang dalam praktik audit publik dikenal paling rawan penyimpangan, mulai dari mark-up harga hingga manipulasi jumlah dan kualitas porsi.Masalah semakin serius ketika sebagian mitra dapur ditunjuk tanpa mekanisme tender terbuka melalui sistem pengadaan nasional.
Alasan kecepatan dan efisiensi kerap dikedepankan, padahal semakin besar dan rutin belanja negara, semakin tinggi pula tuntutan transparansinya. Fragmentasi pertanggungjawaban pun tak terhindarkan: uang negara dibelanjakan entitas non-negara, sementara pengawasannya tidak seragam.Kontroversi lain muncul dari keterlibatan TNI dalam rantai logistik dan operasional MBG.
Pemerintah beralasan peran militer dibutuhkan demi ketepatan distribusi dan disiplin pelaksanaan. Namun secara hukum, pengelolaan dapur makanan sekolah tidak termasuk mandat utama TNI sebagaimana diatur dalam undang-undang.
Pelibatan militer dalam urusan sipil non-darurat berisiko menormalisasi peran ganda militer, sebuah gejala yang dalam literatur demokrasi dikenal sebagai creeping militarization.Di lapangan, sejumlah laporan keracunan makanan siswa justru memperlihatkan lemahnya standar higiene dan pengawasan mutu.
Program yang bertujuan meningkatkan kesehatan anak malah berpotensi menciptakan risiko kesehatan baru. Kasus ini menunjukkan bahwa percepatan implementasi tidak diiringi kesiapan teknis, pelatihan pengelola dapur, serta sistem kontrol kualitas yang memadai.
Dalam komunikasi publik, MBG diposisikan sebagai simbol kehadiran negara yang kuat dan peduli, bahkan dilekatkan langsung pada figur presiden. Narasi ini membangun citra kepemimpinan paternalistik dan, dalam konteks politik populisme, berfungsi ganda: memberi manfaat langsung sekaligus memperkuat loyalitas politik.
Kritik terhadap program pun kerap dibingkai sebagai sikap tidak pro-rakyat.Akibatnya, perhatian publik tersedot pada menu dan dapur MBG, sementara isu struktural lain—reformasi hukum, pelemahan lembaga pengawas, konflik agraria, hingga kualitas demokrasi—perlahan tersisih dari ruang diskursus.
Strategi ini dikenal sebagai agenda displacement: isu populis menjadi panggung utama, persoalan sistemik tertinggal di belakang layar.Tidak ada yang menolak pentingnya pemenuhan gizi anak.
Namun kebijakan publik tidak cukup diukur dari niat baik. Tanpa regulasi kuat, transparansi pengadaan, pembatasan peran militer, dan sistem akuntabilitas yang jelas, MBG berisiko menjadi program sosial dengan biaya demokrasi yang mahal. Pertanyaan kuncinya bukan lagi soal kebutuhan makan bergizi, melainkan siapa yang mengelola anggaran, bagaimana uang dibelanjakan, dan siapa bertanggung jawab ketika penyimpangan terjadi.
Catatan: Tulisan ini tidak menolak kebijakan gizi nasional, melainkan menyoal tata kelola kekuasaan dan uang publik. Dalam negara demokrasi, program sebesar apa pun harus tunduk pada hukum, diawasi publik, dan terbuka terhadap kritik.
Baca Juga :  Politikus PKB Desak Menhut Raja Juli Mundur Imbas Banjir dan Longsor di Sumatra

Berita Terkait

Trailer Avengers: Endgame Encore Rilis, Apa Bedanya dengan Versi 2019?
Destry Damayanti Jadi Gubernur BI 2026-2031, Ini Keputusan DPR dan Dampaknya
Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf
RAPBN 2027: MBG Rp240 Triliun, Kopdes Rp3 Miliar, Dana Desa Naik Jadi Rp77 Triliun
BMKG Catat 2.610 Hotspot di Sumatra, Riau 355 Titik: Karhutla Makin Mengkhawatirkan
WhatsApp Diretas Lalu Kena Suspend, Komdigi Desak Meta Beri Klarifikasi 24 Agustus 2026
Sinopsis Insidious: Out of the Further, Film Horor Terbaru 2026
BMKG Ungkap Kondisi Kekeringan Agustus 2026, Bagaimana Jambi, Sumbar dan Riau?
Berita ini 28 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 28 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Trailer Avengers: Endgame Encore Rilis, Apa Bedanya dengan Versi 2019?

Kamis, 27 Agustus 2026 - 19:36 WIB

Destry Damayanti Jadi Gubernur BI 2026-2031, Ini Keputusan DPR dan Dampaknya

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf

Selasa, 25 Agustus 2026 - 05:00 WIB

RAPBN 2027: MBG Rp240 Triliun, Kopdes Rp3 Miliar, Dana Desa Naik Jadi Rp77 Triliun

Minggu, 23 Agustus 2026 - 13:00 WIB

BMKG Catat 2.610 Hotspot di Sumatra, Riau 355 Titik: Karhutla Makin Mengkhawatirkan

Berita Terbaru

Teknologi

5 Laptop Ringan untuk Kuliah 2026, Harga Mulai Rp5 Jutaan

Sabtu, 29 Agu 2026 - 11:07 WIB