Kenali Gejala Virus Nipah Sejak Dini, Awalnya Flu Biasa Bisa Fatal

Avatar photo

- Jurnalis

Kamis, 29 Januari 2026 - 19:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUNGAIPENUH- Virus Nipah kembali menyita perhatian publik karena sifatnya yang mematikan dan kerap mengecoh di tahap awal infeksi. Penyakit zoonotik ini sering diawali keluhan ringan menyerupai flu biasa, namun dalam kondisi tertentu dapat berkembang sangat cepat hingga menyebabkan gangguan saraf berat dan koma hanya dalam waktu dua hari.

Virus Nipah merupakan penyakit yang menular dari hewan ke manusia, serta dapat menyebar antarmanusia. Penularannya bisa terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi, hingga paparan cairan tubuh penderita. Karena gejala awalnya tidak khas, banyak kasus terlambat terdeteksi.

Pada fase awal, penderita biasanya mengalami demam, sakit kepala, nyeri otot, sakit tenggorokan, serta mual dan muntah. Keluhan ini sering disalahartikan sebagai flu atau infeksi ringan, sehingga pasien tidak segera mencari penanganan medis.

Baca Juga :  Daftar 144 Penyakit yang Ditanggung BPJS Kesehatan, Wajib Tahu Sebelum Berobat!

Padahal, kondisi dapat memburuk dalam hitungan hari. Virus Nipah menyerang sistem saraf pusat dan memicu gangguan neurologis serius. Gejala lanjutan yang perlu diwaspadai antara lain pusing berat, rasa mengantuk berlebihan, kebingungan, perubahan perilaku, hingga penurunan kesadaran.

Pada tahap lanjut, infeksi dapat menyebabkan ensefalitis akut atau peradangan otak. Pasien berisiko mengalami kejang dan penurunan kesadaran drastis. Dalam kasus berat, koma dapat terjadi dalam waktu 24 hingga 48 jam setelah gejala saraf muncul.

Selain menyerang otak, virus Nipah juga dapat memicu gangguan pernapasan serius seperti pneumonia atipikal dan sindrom gangguan pernapasan akut. Kondisi ini meningkatkan risiko kematian, terutama bila penanganan intensif tidak segera tersedia.

Baca Juga :  Waspada! Rasio Klaim BPJS 111,86%, Sinyal Kuat Iuran Bisa Naik di 2026

Masa inkubasi virus Nipah umumnya berkisar antara 4 hingga 14 hari, namun pada beberapa kasus bisa mencapai 45 hari. Tingkat kematiannya tergolong tinggi, yakni sekitar 40 hingga 75 persen, bergantung pada kecepatan diagnosis dan kesiapan fasilitas kesehatan.

Hingga saat ini, belum tersedia obat maupun vaksin khusus untuk virus Nipah. Penanganan bersifat suportif dengan fokus menjaga fungsi pernapasan dan saraf. Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama untuk menekan risiko kematian.

Masyarakat diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala mirip flu yang disertai gangguan kesadaran, terutama jika memiliki riwayat kontak dengan hewan, konsumsi makanan berisiko, atau berada di wilayah yang pernah melaporkan kasus virus Nipah. (***)

Berita Terkait

WHO Ungkap Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Naik Jadi 13 Orang
Waspada! Ini 10 Gejala Tubuh Kelebihan Gula dan Cara Mengatasinya
Kabar Terbaru Tender Pembangunan RSUD Kerinci Masuk Tahap Evaluasi Harga, PP Urban Tawar Rp137,5 Miliar
Apa Itu Hantavirus HFRS? Kasus Pasien Meninggal di Bandung
Kasus Hantavirus di Jakarta, Ahli Ungkap Kelompok Paling Rentan
Dinkes DKI Keluarkan Imbauan Penting Setelah 3 Kasus Hantavirus Terdeteksi
Update Hantavirus Jakarta 2026: Tiga Positif, Enam Suspek Dalam Pengawasan
Kolesterol Tinggi? Ini 5 Herbal Alami yang Bisa Membantu Menurunkannya
Berita ini 19 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 28 Mei 2026 - 02:00 WIB

WHO Ungkap Kasus Hantavirus di Kapal Pesiar Naik Jadi 13 Orang

Senin, 25 Mei 2026 - 12:00 WIB

Waspada! Ini 10 Gejala Tubuh Kelebihan Gula dan Cara Mengatasinya

Senin, 25 Mei 2026 - 10:15 WIB

Kabar Terbaru Tender Pembangunan RSUD Kerinci Masuk Tahap Evaluasi Harga, PP Urban Tawar Rp137,5 Miliar

Sabtu, 23 Mei 2026 - 00:05 WIB

Apa Itu Hantavirus HFRS? Kasus Pasien Meninggal di Bandung

Kamis, 21 Mei 2026 - 00:05 WIB

Kasus Hantavirus di Jakarta, Ahli Ungkap Kelompok Paling Rentan

Berita Terbaru