Kemendiktisaintek Ungkap 122 Program Studi Ditutup Sepanjang 2026, Ini Alasannya

Avatar photo

- Jurnalis

Rabu, 3 Juni 2026 - 18:04 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PENDIDIKAN-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) mengungkapkan sebanyak 122 program studi (prodi) di berbagai perguruan tinggi telah ditutup sepanjang tahun 2026. Namun, pemerintah menegaskan bahwa penutupan tersebut bukan merupakan kebijakan penutupan massal dari kementerian, melainkan atas usulan masing-masing perguruan tinggi.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menjelaskan bahwa seluruh penutupan program studi yang terjadi tahun ini diajukan oleh badan penyelenggara perguruan tinggi, baik perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS).

“Sepanjang tahun 2026 memang telah dilakukan penutupan 122 program studi, tetapi seluruh penutupan tersebut berdasarkan usulan dari badan penyelenggara, baik PTN maupun PTS,” kata Brian dalam rapat kerja bersama Komisi X DPR RI, Selasa (2/6/2026).

Jumlah Mahasiswa Menurun Jadi Salah Satu Faktor

Menurut Brian, terdapat sejumlah alasan yang melatarbelakangi usulan penutupan program studi. Salah satunya adalah penurunan jumlah mahasiswa yang menyebabkan program studi tidak lagi efektif untuk dijalankan.

Selain itu, banyak kampus memilih melakukan transformasi program studi agar lebih relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan perkembangan industri modern.

Ia mencontohkan sejumlah perguruan tinggi yang mengubah program studi Matematika menjadi Aktuaria. Perubahan tersebut dilakukan karena kompetensi lulusan Aktuaria dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan sektor industri, khususnya bidang keuangan, asuransi, dan analisis risiko.

Baca Juga :  Gubernur Al Haris Kumpulkan Kepsek SMA/SMK/SLB Jambi, Tegaskan Peran Strategis Pemimpin Sekolah

Bantah Isu Penutupan Prodi yang Tidak Relevan

Brian juga membantah kabar yang menyebut pemerintah akan menutup berbagai program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri masa depan.

Menurutnya, kebijakan Kemendiktisaintek justru berfokus pada pengembangan dan pembinaan program studi agar dapat beradaptasi dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan pasar kerja.

“Yang dilakukan bukan menutup program studi, tetapi mengembangkan substansi pembelajarannya agar lebih relevan dengan kebutuhan industri,” ujarnya.

Ia mencontohkan sejumlah program studi teknik yang kini mulai mengintegrasikan materi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), machine learning, robotika, data science, hingga teknologi digital lainnya dalam kurikulum pembelajaran.

Fokus pada Transformasi Pendidikan Tinggi

Kemendiktisaintek menilai transformasi kurikulum menjadi langkah penting untuk meningkatkan daya saing lulusan perguruan tinggi Indonesia di era digital.

Alih-alih menghapus program studi tertentu, pemerintah mendorong kampus untuk melakukan pembaruan materi ajar, penguatan kompetensi digital, serta peningkatan kolaborasi dengan dunia industri.

Baca Juga :  Daftar Beasiswa Kuliah yang Masih Dibuka Juni 2026, Peluang Kuliah Gratis S1 hingga S3 Masih Terbuka

Pendekatan tersebut diharapkan mampu menghasilkan lulusan yang lebih adaptif terhadap perubahan teknologi dan kebutuhan pasar kerja yang terus berkembang.

Penutupan Prodi Juga Bisa Karena Pelanggaran

Selain berdasarkan usulan perguruan tinggi, Brian menjelaskan bahwa penutupan program studi juga dapat dilakukan apabila ditemukan pelanggaran berat terhadap ketentuan penyelenggaraan pendidikan tinggi.

Dalam kasus tersebut, pemerintah dapat menjatuhkan sanksi hingga penutupan program studi sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa mayoritas program studi yang ditutup pada tahun 2026 merupakan hasil evaluasi internal perguruan tinggi dan bukan karena sanksi pemerintah.

Pendidikan Tinggi Harus Adaptif

Pemerintah menilai perguruan tinggi perlu terus beradaptasi dengan perkembangan zaman agar mampu menghasilkan sumber daya manusia yang kompetitif.

Melalui pembaruan kurikulum, pengembangan program studi baru, serta integrasi teknologi modern seperti AI dan machine learning, kampus diharapkan dapat menjawab tantangan dunia kerja masa depan.

Kemendiktisaintek menegaskan bahwa fokus utama saat ini bukan menutup program studi, melainkan memastikan setiap program pendidikan mampu memberikan kompetensi yang relevan dan dibutuhkan industri.

Berita Terkait

Pengurus ISMI Kerinci dan Sungai Penuh Resmi Dilantik, Prof Jafar Ahmad dan Hartono Dipercaya Memimpin
Kronologi OTT KPK di Unsoed: Rektor dan 2 Wakil Rektor Diamankan
Sekolah Kedinasan 2026 Buka 4.770 Formasi, Cek IPDN, STAN hingga STIS
Pecahkan Rekor Dunia! Nathan Thomas Resmi Jadi Profesor di Usia 18 Tahun
Tunjangan Profesi Guru Kemenag Diklaim Naik 700 Persen, Menag Sebut Tertinggi Sepanjang Sejarah
Hasil Seleksi CAT PPPK Sekolah Rakyat 2026 Resmi Diumumkan, Ini Link Cek Kelulusan dan Jadwal Tahap Berikutnya
MK Putuskan Dana Pendidikan Tak Boleh Lagi Biayai Program MBG
Aturan Rekrutmen Sekolah Kedinasan 2026 Resmi Terbit, Lulusan Diusulkan Jadi CPNS
Berita ini 25 kali dibaca

Berita Terkait

Minggu, 23 Agustus 2026 - 14:46 WIB

Pengurus ISMI Kerinci dan Sungai Penuh Resmi Dilantik, Prof Jafar Ahmad dan Hartono Dipercaya Memimpin

Sabtu, 22 Agustus 2026 - 08:06 WIB

Kronologi OTT KPK di Unsoed: Rektor dan 2 Wakil Rektor Diamankan

Sabtu, 15 Agustus 2026 - 02:00 WIB

Sekolah Kedinasan 2026 Buka 4.770 Formasi, Cek IPDN, STAN hingga STIS

Minggu, 2 Agustus 2026 - 15:08 WIB

Pecahkan Rekor Dunia! Nathan Thomas Resmi Jadi Profesor di Usia 18 Tahun

Minggu, 2 Agustus 2026 - 10:50 WIB

Tunjangan Profesi Guru Kemenag Diklaim Naik 700 Persen, Menag Sebut Tertinggi Sepanjang Sejarah

Berita Terbaru