Jakarta – Kenaikan harga solar nonsubsidi yang menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir mulai mengubah peta pasar otomotif nasional. Banyak pengguna kendaraan diesel kini mulai melirik mobil listrik karena biaya operasional yang dinilai jauh lebih murah dan efisien.
Fenomena ini menjadi sorotan setelah sejumlah pelaku industri otomotif mengungkap adanya konsumen yang berpindah dari kendaraan diesel ke mobil listrik. Salah satunya datang dari XPeng Indonesia yang mengaku menemukan konsumen eks pengguna mobil diesel memilih kendaraan listrik sebagai alternatif untuk mengurangi pengeluaran harian.
Lonjakan harga solar terjadi di tengah kenaikan harga minyak dunia yang masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik global. Dampaknya langsung terasa bagi pemilik kendaraan diesel yang selama ini mengandalkan bahan bakar jenis Dexlite maupun Pertamina Dex untuk aktivitas sehari-hari.
Saat ini harga solar nonsubsidi di berbagai SPBU telah berada di kisaran Rp26.000 hingga lebih dari Rp30.000 per liter. Kondisi tersebut membuat biaya perjalanan menggunakan kendaraan diesel meningkat tajam dibandingkan beberapa tahun lalu.
Bagi pemilik kendaraan populer seperti Toyota Fortuner, Mitsubishi Pajero Sport, hingga Toyota Kijang Innova Reborn Diesel, kenaikan harga bahan bakar menjadi beban tambahan yang cukup besar. Untuk perjalanan ratusan kilometer, biaya yang harus dikeluarkan kini bisa mendekati satu juta rupiah tergantung jenis kendaraan dan kondisi jalan.
Sebaliknya, mobil listrik menawarkan biaya energi yang jauh lebih rendah. Dengan tarif pengisian daya normal di SPKLU, pengguna kendaraan listrik hanya membutuhkan biaya sekitar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu untuk menempuh jarak sekitar 400 kilometer. Selisih pengeluaran yang sangat besar inilah yang mulai membuat masyarakat melakukan perhitungan ulang sebelum membeli kendaraan baru.
Selain faktor biaya energi, pemilik mobil listrik juga mendapatkan keuntungan dari biaya perawatan yang lebih sederhana. Kendaraan listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, filter bahan bakar, maupun sejumlah komponen mekanis yang umum ditemukan pada kendaraan diesel konvensional.
Meski demikian, kendaraan diesel masih memiliki keunggulan untuk kebutuhan perjalanan jauh dan daerah yang belum memiliki infrastruktur pengisian daya memadai. Karena itu, perpindahan ke mobil listrik diperkirakan akan berlangsung secara bertahap seiring bertambahnya jumlah SPKLU dan semakin banyaknya pilihan kendaraan listrik dengan harga kompetitif.
Pengamat otomotif menilai tren ini dapat menjadi titik balik industri otomotif Indonesia. Jika harga solar tetap tinggi dalam jangka panjang, maka pasar kendaraan listrik berpotensi tumbuh lebih cepat dibandingkan prediksi sebelumnya.
FAQ
Mengapa pemilik mobil diesel mulai beralih ke mobil listrik?
Alasan utamanya adalah biaya operasional yang jauh lebih murah. Harga solar yang terus naik membuat pengeluaran bahan bakar kendaraan diesel semakin besar.
Berapa biaya perjalanan 400 km menggunakan mobil listrik?
Dengan tarif pengisian daya saat ini, biaya yang dibutuhkan sekitar Rp150 ribu hingga Rp170 ribu.
Berapa biaya perjalanan 400 km menggunakan mobil diesel?
Tergantung konsumsi bahan bakar dan harga solar, biaya yang diperlukan bisa mendekati Rp900 ribu atau bahkan lebih.
Apakah mobil diesel masih layak dibeli?
Masih layak, terutama untuk pengguna yang sering melakukan perjalanan jauh atau tinggal di wilayah yang belum memiliki banyak fasilitas pengisian daya kendaraan listrik.
Apa keuntungan utama mobil listrik?
Biaya energi lebih murah, perawatan lebih sederhana, suara kendaraan lebih senyap, dan emisi lebih rendah.
Apakah harga solar akan terus naik?
Harga solar dipengaruhi harga minyak dunia, nilai tukar rupiah, dan kebijakan energi. Karena itu pergerakannya dapat berubah sewaktu-waktu. (Tim)









