Jakarta,– Harga bahan bakar minyak (BBM) di Singapura dan Malaysia melonjak tajam pasca serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026. Kenaikan ini terjadi setelah Iran melakukan serangan balasan ke pangkalan militer AS dan wilayah Israel, memicu ketidakpastian pasokan energi global.
Di Singapura, bensin oktan 95 kini dijual 2,35 dolar Singapura (sekitar Rp 31 ribu/liter) dan oktan 98 mencapai 2,65 dolar Singapura (sekitar Rp 35 ribu/liter). Perang di Teluk yang berlanjut dan potensi penutupan Selat Hormuz bisa membuat harga minyak dunia terus meroket.
Muhammad Fauzi (44), pengemudi mobil sewaan pribadi, mengaku pendapatannya turun drastis. Dari sebelumnya 1.700–1.900 dolar AS (Rp 22,5–25 juta) per minggu menjadi 1.400–1.600 dolar Singapura (Rp 18,5–21 juta). “Voucher bahan bakar 40 dolar Singapura dari platform transportasi daring tidak cukup untuk satu tangki penuh,” ujarnya.
Di Malaysia, tren serupa terjadi. Bensin oktan 95 naik dari 2,59 ringgit (Rp 11 ribu) menjadi 3,27 ringgit (Rp 14 ribu), dan oktan 97 dari 3,15 ringgit (Rp 13,5 ribu) menjadi 4,55 ringgit (Rp 19.500). Solar di Semenanjung Malaysia juga naik dari 3,04 ringgit (Rp 13 ribu) menjadi 4,72 ringgit (Rp 20 ribu). Namun, harga solar di Sabah, Sarawak, dan Labuan tetap stabil di angka 2,15 ringgit (Rp 9.252).
Berbeda dengan dua negara tetangga, harga BBM di Indonesia tetap stabil menjelang Lebaran 1447 H. Pemerintah memastikan stok BBM nasional aman hingga 28 hari, sehingga masyarakat bisa mudik tanpa khawatir biaya bahan bakar membengkak.
Kondisi ini memperlihatkan perbedaan strategi energi di Asia Tenggara. Indonesia memanfaatkan stok aman dan subsidi BBM, sementara Singapura dan Malaysia langsung tertekan pasar global akibat konflik geopolitik.
Pakar energi menekankan pentingnya efisiensi penggunaan BBM dan penghematan energi di tengah ketidakpastian global. Pemerintah juga terus memantau perkembangan harga minyak internasional untuk menjaga stabilitas pasokan domestik.
Masyarakat diimbau tetap tenang dan memanfaatkan BBM secara bijak selama musim mudik Lebaran. Langkah ini diyakini membantu menahan dampak kenaikan harga energi global sekaligus menjaga daya beli masyarakat tetap stabil. (*/Tim)









