Dolar Hampir Rp17.900, Bank Indonesia Buka Suara: Ini Penyebab Rupiah Terus Melemah

Avatar photo

- Jurnalis

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Jakarta – Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan setelah nyaris menyentuh level psikologis Rp17.900 per dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026. Pelemahan mata uang Garuda yang terus berlanjut memicu kekhawatiran masyarakat, pelaku usaha, hingga investor terhadap dampaknya terhadap harga barang impor, inflasi, dan kondisi ekonomi nasional.

Berdasarkan data perdagangan, rupiah ditutup di level Rp17.865 per dolar AS atau melemah sekitar 0,51 persen dibandingkan sesi sebelumnya. Posisi tersebut menjadi salah satu titik terlemah sepanjang sejarah dan memperpanjang tren pelemahan selama lima hari perdagangan berturut-turut.

Menanggapi kondisi tersebut, Bank Indonesia melalui Kepala Departemen Komunikasi, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi oleh ketidakpastian global yang meningkat akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong investor global mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Selain faktor eksternal, Bank Indonesia juga melihat adanya peningkatan kebutuhan valuta asing secara musiman. Kebutuhan tersebut berasal dari pembayaran utang luar negeri korporasi serta repatriasi dividen perusahaan, sementara aliran masuk dolar AS ke dalam negeri masih terbatas.

Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia memastikan akan terus melakukan intervensi di pasar keuangan melalui berbagai instrumen. Langkah yang ditempuh mencakup transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) secara terukur di pasar sekunder.

Baca Juga :  TikTok Shop dan Shopee Wajib Ikuti Aturan Baru E-Commerce, Simak 5 Ketentuan Terbarunya

Tidak hanya itu, otoritas moneter juga memperkuat kebijakan suku bunga yang lebih kompetitif guna menjaga daya tarik aset keuangan domestik. Strategi tersebut diharapkan mampu menarik kembali aliran modal asing ke pasar Indonesia sekaligus membantu menstabilkan nilai tukar rupiah.

Mulai Juni 2026, Bank Indonesia juga menerapkan kebijakan baru berupa batas pembelian valuta asing tunai tanpa dokumen pendukung sebesar 25.000 dolar AS per orang per bulan. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu mengendalikan permintaan dolar yang berlebihan di pasar domestik.

Pelemahan rupiah memiliki dampak langsung terhadap masyarakat. Harga barang impor seperti smartphone, laptop, kendaraan, hingga bahan baku industri berpotensi mengalami kenaikan. Selain itu, biaya perjalanan luar negeri dan pembayaran pendidikan di luar negeri juga menjadi lebih mahal akibat menguatnya dolar AS.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan akan terus memantau perkembangan pasar global dan domestik serta mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan ketahanan ekonomi nasional. Pelaku pasar kini menanti apakah rupiah mampu bertahan dari tekanan atau justru menembus level Rp17.900 per dolar AS dalam waktu dekat.

Baca Juga :  Heboh Toko Roti Tolak Uang Tunai, Ini Sikap Bank Indonesia

FAQ

Mengapa rupiah melemah terhadap dolar AS?

Pelemahan rupiah dipengaruhi ketidakpastian global, konflik geopolitik, meningkatnya permintaan dolar AS, pembayaran utang luar negeri, dan repatriasi dividen perusahaan.

Apa dampak dolar hampir Rp17.900 bagi masyarakat?

Harga barang impor berpotensi naik, biaya pendidikan luar negeri meningkat, tiket perjalanan internasional menjadi lebih mahal, dan tekanan inflasi bisa bertambah.

Apa langkah yang dilakukan Bank Indonesia?

BI melakukan intervensi pasar valas, transaksi NDF dan DNDF, pembelian SBN, serta memperkuat kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah.

Apakah rupiah bisa kembali menguat?

Peluang tetap ada jika kondisi global membaik, aliran modal asing kembali masuk, dan intervensi Bank Indonesia berjalan efektif.

Siapa yang paling terdampak pelemahan rupiah?

Importir, perusahaan dengan utang dolar AS, pelajar di luar negeri, wisatawan internasional, dan sektor industri yang bergantung pada bahan baku impor. (Tim)

Berita Terkait

Bidik Pasar BSD, Bank Sinarmas Buka Priority Lounge
Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf
Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Kategori, Bansos, dan Cara Mengetahui Statusnya
BCA Bagikan Dividen Interim Rp3,07 Triliun
Bank Mandiri Minta Maaf Terkait Rekening Koordinator AMPB, Ini Penjelasannya
PPh Final UMKM Dibatasi, Ini 3 Wajib Pajak yang Masih Bisa Menggunakannya
Kisah Hui Ka Yan: Dari Miliarder Dunia, Kini Divonis Seumur Hidup
Status Desil DTKS Tidak Sesuai? Begini Cara Mengubahnya Lewat Aplikasi Cek Bansos
Berita ini 37 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 27 Agustus 2026 - 12:00 WIB

Bidik Pasar BSD, Bank Sinarmas Buka Priority Lounge

Kamis, 27 Agustus 2026 - 06:00 WIB

Bank Mandiri Buka Blokir Rekening Aktivis Botok Pati, Sampaikan Permintaan Maaf

Rabu, 26 Agustus 2026 - 22:00 WIB

Desil 1-10 Artinya Apa? Cek Kategori, Bansos, dan Cara Mengetahui Statusnya

Selasa, 25 Agustus 2026 - 02:00 WIB

BCA Bagikan Dividen Interim Rp3,07 Triliun

Senin, 24 Agustus 2026 - 23:55 WIB

Bank Mandiri Minta Maaf Terkait Rekening Koordinator AMPB, Ini Penjelasannya

Berita Terbaru