Jakarta-Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,36% ke level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat (AS), sehingga semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi ketika mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah akibat masih kuatnya posisi dolar AS di pasar global.
Data perdagangan menunjukkan delapan dari sepuluh mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah termasuk yang mengalami tekanan cukup besar, meski bukan yang terdalam. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang.
Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan paling tajam setelah turun 1,46%. Peso Filipina, dolar Taiwan, dolar Singapura, yuan China, dan yen Jepang juga ikut melemah. Sementara itu, dong Vietnam bergerak stabil tanpa perubahan berarti.
Di tengah tekanan tersebut, ringgit Malaysia justru tampil sebagai mata uang terbaik di kawasan Asia. Ringgit menguat sekitar 1,19% terhadap dolar AS dan menjadi satu-satunya mata uang yang mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan hari itu.
Penguatan dolar AS masih dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau The Fed belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Perbedaan arah kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan sejumlah negara lain membuat aset berbasis dolar tetap diminati investor global.
Dari sisi ekonomi, inflasi Amerika Serikat yang diukur melalui indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026. Angka tersebut sesuai ekspektasi pasar dan didorong oleh kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu memperkuat pandangan bahwa inflasi masih berada di level tinggi.
Sejumlah pejabat The Fed juga menyampaikan pandangan yang berbeda mengenai prospek inflasi. Ada yang melihat tekanan harga mulai mereda, namun sebagian lainnya menilai inflasi inti masih terlalu tinggi sehingga membutuhkan kebijakan moneter yang tetap hati-hati. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Juli kini mencapai sekitar 69%.
Bagi Indonesia, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, energi, dan barang konsumsi. Di sisi lain, eksportir dapat memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang lebih tinggi. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan inflasi global, kebijakan The Fed, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada paruh kedua 2026.
FAQ
Mengapa rupiah melemah terhadap dolar AS? Karena dolar AS masih menguat didorong ekspektasi suku bunga tinggi dan inflasi Amerika Serikat yang belum turun signifikan.
Apakah rupiah sudah menyentuh Rp18.000 per dolar? Belum. Pada perdagangan terakhir rupiah berada di kisaran Rp17.905 per dolar AS.
Mengapa ringgit Malaysia justru menguat? Ringgit mendapat dukungan dari faktor domestik dan aliran modal yang lebih positif dibandingkan mata uang Asia lainnya.
Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat? Harga barang impor dapat menjadi lebih mahal, namun sektor ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari kurs yang lebih tinggi. Tim









