Dolar AS Kembali Perkasa, Rupiah Tertekan hingga Rp17.905, Ringgit Malaysia Justru Menguat

Avatar photo

- Jurnalis

Sabtu, 27 Juni 2026 - 19:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

Jakarta-Rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan Jumat (26/6/2026). Mata uang Garuda ditutup melemah 0,36% ke level Rp17.905 per dolar Amerika Serikat (AS), sehingga semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi ketika mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona merah akibat masih kuatnya posisi dolar AS di pasar global.

Data perdagangan menunjukkan delapan dari sepuluh mata uang Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS. Rupiah termasuk yang mengalami tekanan cukup besar, meski bukan yang terdalam. Kondisi ini mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap prospek kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan tetap ketat dalam beberapa bulan mendatang.

Baht Thailand menjadi mata uang dengan pelemahan paling tajam setelah turun 1,46%. Peso Filipina, dolar Taiwan, dolar Singapura, yuan China, dan yen Jepang juga ikut melemah. Sementara itu, dong Vietnam bergerak stabil tanpa perubahan berarti.

Di tengah tekanan tersebut, ringgit Malaysia justru tampil sebagai mata uang terbaik di kawasan Asia. Ringgit menguat sekitar 1,19% terhadap dolar AS dan menjadi satu-satunya mata uang yang mencatat kenaikan signifikan pada perdagangan hari itu.

Baca Juga :  Rupiah Hari Ini 28 September 2026 Anjlok ke Rp17.968, Ini Penyebabnya

Penguatan dolar AS masih dipengaruhi oleh ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat atau The Fed belum akan terburu-buru menurunkan suku bunga. Perbedaan arah kebijakan moneter antara Amerika Serikat dan sejumlah negara lain membuat aset berbasis dolar tetap diminati investor global.

Dari sisi ekonomi, inflasi Amerika Serikat yang diukur melalui indeks Personal Consumption Expenditures (PCE) tercatat naik 4,1% secara tahunan pada Mei 2026. Angka tersebut sesuai ekspektasi pasar dan didorong oleh kenaikan harga energi akibat konflik geopolitik di Timur Tengah. Kondisi itu memperkuat pandangan bahwa inflasi masih berada di level tinggi.

Sejumlah pejabat The Fed juga menyampaikan pandangan yang berbeda mengenai prospek inflasi. Ada yang melihat tekanan harga mulai mereda, namun sebagian lainnya menilai inflasi inti masih terlalu tinggi sehingga membutuhkan kebijakan moneter yang tetap hati-hati. Berdasarkan CME FedWatch, peluang The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan akhir Juli kini mencapai sekitar 69%.

Baca Juga :  Asuransi Mobil TLO OJK Approved 2026, Premi Murah dan Perlindungan Maksimal

Bagi Indonesia, pelemahan rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor, terutama untuk bahan baku industri, energi, dan barang konsumsi. Di sisi lain, eksportir dapat memperoleh keuntungan dari nilai tukar yang lebih tinggi. Pelaku pasar kini menantikan perkembangan inflasi global, kebijakan The Fed, serta langkah Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah pada paruh kedua 2026.

FAQ

Mengapa rupiah melemah terhadap dolar AS? Karena dolar AS masih menguat didorong ekspektasi suku bunga tinggi dan inflasi Amerika Serikat yang belum turun signifikan.

Apakah rupiah sudah menyentuh Rp18.000 per dolar? Belum. Pada perdagangan terakhir rupiah berada di kisaran Rp17.905 per dolar AS.

Mengapa ringgit Malaysia justru menguat? Ringgit mendapat dukungan dari faktor domestik dan aliran modal yang lebih positif dibandingkan mata uang Asia lainnya.

Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat? Harga barang impor dapat menjadi lebih mahal, namun sektor ekspor berpotensi memperoleh keuntungan dari kurs yang lebih tinggi. Tim

Berita Terkait

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya
Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya
Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Berpeluang Naik, Ini Penjelasan Pemerintah
BGN Ubah Skema Insentif SPPG, dari Rp6 Juta Jadi Rp2.000 per Porsi
Wall Street Tertekan, Harga Minyak dan Treasury Jadi Sorotan Investor AS, Investor Mulai Waspada
Rincian Gaji Manajer Kopdes 2026: Gaji Pokok, Tunjangan hingga Uang Makan
Kompensasi CEO Tertinggi : Elon Musk Jauh di Atas Bos Perusahaan Lain
Michael Dell Naik Jadi Orang Terkaya Keempat Dunia, Salip Zuckerberg
Berita ini 23 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 2 Oktober 2026 - 02:00 WIB

BSU Rp900 Ribu Cair untuk Oktober-Desember 2026, Ini Syarat dan Cara Ceknya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 22:00 WIB

Belanja Pegawai Daerah Tak Wajib 30% pada 2027? Ini Penjelasannya

Kamis, 1 Oktober 2026 - 18:00 WIB

Batas Penghasilan Tidak Kena Pajak Berpeluang Naik, Ini Penjelasan Pemerintah

Kamis, 1 Oktober 2026 - 14:00 WIB

BGN Ubah Skema Insentif SPPG, dari Rp6 Juta Jadi Rp2.000 per Porsi

Selasa, 29 September 2026 - 23:32 WIB

Wall Street Tertekan, Harga Minyak dan Treasury Jadi Sorotan Investor AS, Investor Mulai Waspada

Berita Terbaru