Aktivitas Bisnis AS Tembus Level Tertinggi 4 Tahun, Harga Emas dan Minyak Ikut Menguat

Avatar photo

- Jurnalis

Senin, 24 Agustus 2026 - 00:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kayonews-Aktivitas bisnis Amerika Serikat kembali menunjukkan penguatan tajam pada Agustus 2026. Data terbaru S&P Global memperlihatkan Composite PMI AS naik menjadi 56,0 dari 54,5 pada Juli. Angka tersebut menjadi level tertinggi sejak April 2022.

Kenaikan tersebut terutama ditopang sektor jasa. Services PMI meningkat menjadi 56,8 dari 54,6 pada bulan sebelumnya. S&P Global menyebut pertumbuhan sektor jasa menjadi yang terkuat dalam beberapa tahun terakhir. Kondisi tersebut membantu menutupi perlambatan sektor manufaktur.

Sebaliknya, Manufacturing PMI turun menjadi 53,2 dari 53,9 pada Juli. Meski melemah, angka di atas 50 masih menunjukkan aktivitas manufaktur berada dalam fase ekspansi. Perlambatan produksi berkaitan dengan penurunan pembangunan persediaan serta gangguan pasokan.

Data tersebut menjadi sinyal penting bagi investor karena PMI merupakan salah satu indikator awal untuk membaca arah aktivitas ekonomi. S&P Global memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS pada kuartal III berpotensi mencapai sekitar 3 persen secara tahunan. Angka tersebut jauh lebih kuat dibandingkan pertumbuhan tahunan 1,5 persen pada kuartal II.

Namun, ekonomi yang semakin kuat juga membawa tantangan bagi kebijakan moneter. Aktivitas bisnis yang meningkat dapat menjaga permintaan dan tekanan harga. Karena itu, investor akan mencermati data inflasi, tenaga kerja, imbal hasil Treasury, serta pernyataan Federal Reserve sebelum mengambil keputusan investasi.

Baca Juga :  Bank Global Mulai Pangkas Bunga Kredit, Kapan Indonesia Menyusul

Dampaknya terlihat pada pasar komoditas. Dalam data Trading Economics pada 21 Agustus 2026, harga Brent berada di US$94,39 per barel atau naik 0,65 persen. Sementara itu, minyak WTI berada di US$87,06 per barel. Kenaikan minyak juga dipengaruhi ketegangan geopolitik dan risiko gangguan pasokan global.

Harga logam mulia juga menjadi perhatian. Tangkapan layar Trading Economics menunjukkan emas berada di sekitar US$4.607,35 dan naik 2,03 persen, sedangkan perak berada di US$68,947 atau naik 1,28 persen. Pergerakan emas dapat dipengaruhi kombinasi suku bunga, dolar AS, permintaan aset aman, inflasi, dan risiko geopolitik.

Bagi investor Indonesia, perkembangan tersebut penting untuk diperhatikan karena dapat memengaruhi rupiah, harga emas, pasar saham, obligasi, dan aset kripto. Ekonomi AS yang kuat bisa mendukung dolar, tetapi ketidakpastian geopolitik dan pasar obligasi tetap dapat meningkatkan minat terhadap aset lindung nilai. Karena itu, investor sebaiknya tidak hanya melihat kenaikan harga emas atau minyak, tetapi juga mencermati arah kebijakan The Fed dan data ekonomi AS berikutnya.

Baca Juga :  Gaji Nuzran Joher Jadi Ketua Ombudsman Rp71 Juta per Bulan, Ini Tugas dan Wewenangnya

FAQ

Apa arti PMI AS sebesar 56?
PMI di atas 50 menunjukkan aktivitas bisnis berada dalam fase ekspansi. Angka 56 menunjukkan ekspansi yang relatif kuat.

Mengapa PMI AS naik pada Agustus 2026?
Kenaikan terutama berasal dari sektor jasa yang tumbuh lebih cepat dan membantu mengimbangi perlambatan manufaktur.

Apa dampak PMI AS terhadap harga emas?
PMI yang kuat dapat meningkatkan ekspektasi terhadap suku bunga. Namun, emas juga dipengaruhi dolar AS, imbal hasil obligasi, inflasi, dan risiko geopolitik.

Mengapa harga minyak Brent mendekati US$95?
Selain faktor permintaan, harga minyak mendapat dukungan dari risiko gangguan pasokan dan ketegangan geopolitik. Brent ditutup sekitar US$94,39 pada 21 Agustus 2026.

Apakah ekonomi AS yang kuat otomatis membuat emas turun?
Tidak selalu. Emas dipengaruhi banyak faktor secara bersamaan. Ketegangan geopolitik atau pelemahan dolar dapat tetap menopang harga emas meskipun data ekonomi AS kuat.

Apa yang perlu diperhatikan investor berikutnya?
Investor dapat memantau data inflasi AS, pasar tenaga kerja, imbal hasil Treasury, indeks dolar, serta komunikasi Federal Reserve. Data tersebut dapat memengaruhi ekspektasi suku bunga dan pergerakan aset global. (*)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Jalur Sungai Penuh–Tapan Kembali Bisa Dilalui, Pengendara Diminta Waspada Longsor Susulan
Harga BBM Hari Ini 11 Oktober 2026: Pertalite, Pertamax, Solar dan Dexlite, Cek Daftar Lengkapnya
Harga iPhone 16 128GB Oktober 2026 Terbaru, Mulai Rp15 Jutaan
PPPK Paruh Waktu Bisa Jadi PNS 2027? Ini Kabar Terbarunya, Ada Skema Bertahap
Harga Toyota Innova 2026 Terbaru: Mulai Rp417 Jutaan, Ada Zenix Hybrid EV
Pajak Mitsubishi Xpander 2026 Mulai Rp4 Jutaan, Ini Rincian Tiap Varian dan Harganya
Deposito Rp100 Juta: Berapa Bunga per Bulan? Ini Simulasi Bunga dan Pajaknya
Berita ini 20 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 13:58 WIB

Jalur Sungai Penuh–Tapan Kembali Bisa Dilalui, Pengendara Diminta Waspada Longsor Susulan

Minggu, 11 Oktober 2026 - 07:00 WIB

Harga BBM Hari Ini 11 Oktober 2026: Pertalite, Pertamax, Solar dan Dexlite, Cek Daftar Lengkapnya

Kamis, 8 Oktober 2026 - 21:01 WIB

Kamis, 8 Oktober 2026 - 19:00 WIB

Harga iPhone 16 128GB Oktober 2026 Terbaru, Mulai Rp15 Jutaan

Kamis, 8 Oktober 2026 - 15:00 WIB

PPPK Paruh Waktu Bisa Jadi PNS 2027? Ini Kabar Terbarunya, Ada Skema Bertahap

Berita Terbaru

Teknologi

Mouse Komputer Terbaru 2026: Fitur, Jenis, dan Tips Memilih

Selasa, 13 Okt 2026 - 14:00 WIB