Jakarta – Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih berada dalam tekanan berat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan pekan depan. Kondisi ini dipengaruhi oleh sentimen global yang belum stabil, terutama akibat krisis energi dan konflik geopolitik yang memanas.
Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi, memperkirakan rupiah berpotensi menyentuh level Rp17.100 per dolar AS. Angka tersebut menjadi batas psikologis baru yang mengindikasikan tekanan cukup dalam terhadap mata uang domestik.
Menurutnya, penguatan dolar AS menjadi faktor dominan yang mendorong pelemahan rupiah. Indeks dolar diperkirakan bergerak di kisaran tinggi, sehingga membuat mata uang negara berkembang mengalami tekanan yang cukup signifikan.
Selain faktor ekonomi, situasi geopolitik juga turut memperburuk kondisi. Ketegangan yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat memicu kekhawatiran pasar global dan meningkatkan ketidakpastian.
Ancaman gangguan distribusi minyak dunia di Selat Hormuz menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga energi. Jalur ini memiliki peran vital dalam distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan berdampak besar terhadap pasar energi.
Kenaikan harga minyak dunia berdampak langsung terhadap perekonomian Indonesia, terutama dari sisi impor energi. Beban impor yang meningkat berpotensi menekan neraca perdagangan dan memperlemah nilai tukar rupiah.
Dalam kondisi seperti ini, investor global cenderung mengalihkan asetnya ke instrumen yang lebih aman seperti dolar AS. Hal ini menyebabkan aliran modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan rupiah lebih dalam.
Dengan berbagai tekanan tersebut, rupiah diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah dalam waktu dekat. Pemerintah dan otoritas terkait diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi guna meredam dampak yang lebih luas. (*/Tim)









