JAKARTA – Kinerja keuangan PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) menjadi sorotan pelaku pasar setelah mencatat pertumbuhan signifikan sepanjang tahun buku 2025. Perusahaan investasi yang terafiliasi dengan pengusaha nasional Prajogo Pangestu ini berhasil membukukan lonjakan laba bersih hingga 285,2 persen secara tahunan.
Berdasarkan laporan yang dikutip dari Maybank Sekuritas, laba bersih CDIA tercatat mencapai US$ 121 juta pada 2025, meningkat tajam dibandingkan tahun sebelumnya sebesar US$ 31,42 juta. Sementara itu, pendapatan perseroan juga mengalami kenaikan sebesar 45 persen, dari US$ 102,25 juta menjadi US$ 148,03 juta.
Meski demikian, Maybank Sekuritas menilai bahwa lonjakan laba tersebut sebagian besar didorong oleh pendapatan non-operasional. Hal ini menjadi catatan penting bagi investor dalam menilai keberlanjutan kinerja perusahaan ke depan.
“Valuasi premium baru dapat dibenarkan apabila terdapat aksi korporasi yang mampu memperkuat fundamental bisnis secara berkelanjutan,” tulis Maybank Sekuritas dalam analisisnya.
Pergerakan Saham dan Aksi Investor Asing
Di pasar saham, kinerja CDIA menunjukkan dinamika tersendiri. Pada penutupan perdagangan Jumat (27/3/2026), saham CDIA berada di level Rp 820 atau turun 0,61 persen. Dalam sebulan terakhir, saham ini tercatat melemah hingga 21,15 persen.
Namun di balik pelemahan tersebut, investor asing justru melakukan aksi beli bersih (net buy) senilai Rp 47,07 miliar. Sejumlah broker besar seperti UBS Sekuritas, Mandiri Sekuritas, hingga JP Morgan Sekuritas tercatat aktif mengoleksi saham ini.
Fenomena ini menunjukkan bahwa investor institusi global masih melihat adanya potensi jangka panjang dari kinerja CDIA, meskipun pergerakan harga saham dalam jangka pendek mengalami tekanan.
Kondisi Keuangan Semakin Solid
Dari sisi neraca keuangan, CDIA juga menunjukkan penguatan yang signifikan. Hingga akhir 2025, posisi kas dan setara kas melonjak 160,84 persen menjadi US$ 470,14 juta, dibandingkan US$ 180,24 juta pada tahun sebelumnya.
Total aset perseroan turut meningkat menjadi US$ 1,74 miliar per 31 Desember 2025, naik dari US$ 1,08 miliar pada akhir 2024. Kenaikan tersebut didorong oleh pertumbuhan aset lancar yang mencapai US$ 945 juta.
Di sisi lain, total ekuitas perusahaan juga mengalami peningkatan hingga menembus US$ 1,13 miliar, seiring dengan naiknya liabilitas menjadi US$ 607 juta.
Kondisi ini menunjukkan bahwa secara fundamental, CDIA masih memiliki struktur keuangan yang cukup kuat untuk mendukung ekspansi bisnis ke depan.
Prospek dan Tantangan ke Depan
Meski mencatat pertumbuhan impresif, analis mengingatkan bahwa keberlanjutan kinerja CDIA akan sangat bergantung pada strategi bisnis dan aksi korporasi yang dilakukan ke depan.
Investor diharapkan mencermati sumber pertumbuhan laba, terutama terkait kontribusi pendapatan operasional, agar dapat menilai valuasi saham secara lebih objektif.
Dengan dukungan likuiditas yang kuat dan minat investor asing yang masih tinggi, CDIA dinilai memiliki peluang untuk terus berkembang, namun tetap menghadapi tantangan dalam menjaga konsistensi kinerja.









