Jakarta – Utang nasional Amerika Serikat kembali mencetak rekor dengan menembus US$39 triliun atau setara Rp661.830 triliun. Lonjakan ini terjadi di tengah tekanan besar akibat konflik geopolitik serta meningkatnya kebutuhan belanja negara, khususnya di sektor pertahanan.
Data dari Bureau of the Fiscal Service menunjukkan bahwa peningkatan utang ini tidak terlepas dari berbagai kebijakan fiskal yang terus mendorong pengeluaran negara. Pemerintah AS kini menghadapi tantangan besar dalam menjaga keseimbangan antara pendapatan dan belanja di tengah kondisi global yang tidak stabil.
Salah satu faktor utama yang mempercepat kenaikan utang adalah konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Perang yang telah berlangsung selama hampir tiga pekan tersebut memaksa pemerintah menggelontorkan anggaran besar untuk mendukung operasi militer.
Direktur Dewan Ekonomi Nasional AS, Kevin Hassett, mengungkapkan bahwa pemerintah telah menghabiskan sekitar US$12 miliar untuk konflik tersebut. Angka ini diperkirakan masih akan terus meningkat jika eskalasi perang tidak segera mereda.
Selain itu, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan Pentagon telah mengajukan tambahan anggaran hingga US$200 miliar. Permintaan ini menandakan besarnya kebutuhan dana untuk mempertahankan kekuatan militer Amerika di tengah situasi yang semakin kompleks.
Dampak konflik tidak hanya dirasakan pada sektor fiskal, tetapi juga menjalar ke sektor energi global. Gangguan distribusi minyak di Selat Hormuz menyebabkan harga minyak mentah melonjak hingga menembus US$100 per barel, yang kemudian memicu kenaikan harga bahan bakar.
Kenaikan harga energi ini membawa efek berantai ke berbagai sektor ekonomi. Biaya transportasi meningkat, harga tiket pesawat naik, dan gangguan rantai pasok mulai terasa di berbagai negara. Kondisi ini berpotensi memicu inflasi global dalam waktu dekat.
Presiden Donald Trump sebelumnya telah berjanji untuk menekan utang nasional sejak kampanye 2015. Ia bahkan mengklaim dapat melunasi utang dalam waktu delapan tahun melalui strategi perdagangan dan peningkatan pendapatan negara.
Namun, implementasi kebijakan tersebut menghadapi berbagai hambatan, termasuk keputusan Mahkamah Agung yang membatasi kebijakan tarif perdagangan. Akibatnya, upaya meningkatkan pendapatan negara melalui jalur tersebut tidak berjalan optimal.
Sejak kembali menjabat, utang nasional Amerika justru meningkat sekitar US$2,8 triliun. Meski pemerintah berhasil menurunkan defisit anggaran menjadi US$1,78 triliun, tekanan terhadap utang tetap menjadi tantangan besar.
Struktur utang Amerika terdiri dari utang publik sebesar US$31,27 triliun dan utang antarpemerintah sebesar US$7,59 triliun. Instrumen utang ini didominasi oleh surat utang (notes), yang menjadi andalan pembiayaan pemerintah.
Menariknya, meskipun jumlah utang terus meningkat, permintaan investor terhadap surat utang AS masih kuat. Hal ini menunjukkan kepercayaan global terhadap stabilitas ekonomi Amerika, meskipun risiko tetap ada.
Dalam satu tahun terakhir, utang Amerika meningkat sekitar US$2,8 triliun atau rata-rata US$7,67 miliar per hari. Angka ini mencerminkan laju pertumbuhan utang yang sangat cepat dan menjadi perhatian serius bagi banyak pihak.
Beban bunga utang juga terus meningkat. Pada Februari 2026, rata-rata suku bunga mencapai 3,355%, naik signifikan dibandingkan lima tahun lalu. Kenaikan ini berpotensi membebani anggaran negara dalam jangka panjang.
Lembaga Congressional Budget Office memperkirakan bahwa porsi pembayaran bunga terhadap total pengeluaran negara akan terus meningkat hingga beberapa tahun ke depan. Hal ini dapat mengurangi ruang fiskal untuk program pembangunan.
Government Accountability Office turut memperingatkan bahwa tren ini dapat berdampak langsung pada masyarakat, mulai dari meningkatnya biaya pinjaman hingga kenaikan harga barang dan jasa.
Jika tidak dikelola dengan baik, lonjakan utang ini berpotensi menghambat pertumbuhan ekonomi dan menimbulkan risiko jangka panjang bagi stabilitas keuangan global.
Sebagai negara dengan ekonomi terbesar di dunia, kondisi fiskal Amerika Serikat memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi global. Ketidakstabilan di AS dapat memicu dampak luas, termasuk volatilitas pasar dan tekanan pada negara berkembang.
Ke depan, kebijakan fiskal Amerika akan menjadi faktor kunci dalam menentukan arah ekonomi global. Dunia kini menunggu langkah konkret dari pemerintah AS untuk mengendalikan utang dan menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global.
Kata kunci: utang Amerika, perang Iran, ekonomi global, harga minyak, inflasi, kebijakan fiskal, defisit AS
Meta deskripsi: Utang Amerika tembus Rp661 ribu triliun di tengah perang Iran. Simak dampak ekonomi global, harga minyak, dan ancaman inflasi terbaru. (*/Tim)









