The Fed Diprediksi Naikkan Suku Bunga 25 Bps, Ini Dampaknya ke Rupiah, IHSG, Emas dan Investasi

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 15 September 2026 - 01:02 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA — Pasar keuangan global kembali bersiap menghadapi keputusan penting Federal Reserve (The Fed). Bank sentral Amerika Serikat diperkirakan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) 15–16 September 2026.

Jika terealisasi, target federal funds rate akan naik dari level saat ini 3,50%–3,75% menjadi 3,75%–4,00%.

Perubahan ekspektasi tersebut terjadi sangat cepat. Sebelumnya, mayoritas ekonom masih memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga. Namun, data inflasi AS terbaru, kenaikan harga minyak di atas US$100 per barel, serta meningkatnya imbal hasil obligasi AS membuat ekspektasi kenaikan suku bunga semakin kuat.

Survei Reuters yang dirilis 14 September menunjukkan 85% ekonom yang disurvei memperkirakan The Fed menaikkan suku bunga 25 bps pada pertemuan September. Sejumlah ekonom juga memperkirakan setidaknya masih ada satu kenaikan berikutnya hingga akhir Maret 2027.

The Fed Menghadapi Inflasi yang Kembali Menguat

Salah satu alasan utama perubahan ekspektasi adalah tekanan inflasi Amerika Serikat yang belum sepenuhnya mereda.

Data harga konsumen Agustus menunjukkan tekanan harga lebih kuat dari perkiraan. Kondisi tersebut membuat investor kembali mempertanyakan apakah proses penurunan inflasi menuju target 2% The Fed akan berlangsung mulus.

Kenaikan harga energi juga menjadi persoalan besar.

Harga minyak dunia telah bergerak di atas US$100 per barel, dipengaruhi meningkatnya ketegangan geopolitik dan gangguan terhadap pasokan minyak global. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan biaya transportasi, produksi dan konsumsi, sehingga dapat memperpanjang tekanan inflasi.

Bagi The Fed, situasi ini menjadi dilema. Menahan suku bunga terlalu lama berisiko memperburuk tekanan ekonomi, tetapi membiarkan inflasi bertahan tinggi juga dapat mengganggu kredibilitas target inflasi bank sentral.

Goldman Sachs dan JPMorgan Berubah Sikap

Perubahan ekspektasi tidak hanya terjadi di kalangan ekonom.

Sejumlah bank investasi besar seperti Goldman Sachs, JPMorgan, HSBC dan Deutsche Bank kini memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 bps pada September. Goldman Sachs bahkan mengubah proyeksinya dari sebelumnya memperkirakan suku bunga tetap.

JPMorgan juga memperkirakan kemungkinan kenaikan 25 bps pada September dan kembali pada Desember.

Perubahan proyeksi tersebut menunjukkan betapa cepatnya pasar merespons data inflasi dan perkembangan harga energi.

Yield Treasury AS Tembus 5%

Pasar obligasi juga memberikan sinyal penting.

Imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun pada Senin, 14 September 2026, menembus 5%, level tertinggi sejak Oktober 2023.

Kenaikan yield mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap inflasi sekaligus kemungkinan bahwa suku bunga AS akan berada pada level tinggi lebih lama.

Yield Treasury menjadi salah satu indikator penting bagi pasar global karena aset tersebut dianggap sebagai salah satu instrumen acuan dalam menentukan tingkat pengembalian investasi global.

Baca Juga :  Kurs Rupiah Hari Ini 21 April 2026 Melemah, Faktor Global dan Minyak Jadi Pemicu

Ketika yield obligasi AS naik, aset-aset berisiko di negara berkembang dapat menghadapi tekanan karena investor memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil yang lebih menarik di Amerika Serikat.

Dampak Kenaikan Suku Bunga The Fed ke Rupiah

Bagi Indonesia, keputusan The Fed sangat penting karena berpotensi memengaruhi pergerakan dolar AS terhadap rupiah.

Jika The Fed menaikkan suku bunga dan memberikan sinyal kenaikan lanjutan, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan karena imbal hasil aset berdenominasi dolar menjadi lebih menarik.

Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah, terutama apabila arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang.

Namun, arah rupiah tidak hanya ditentukan oleh The Fed. Kebijakan Bank Indonesia, kondisi neraca perdagangan, cadangan devisa, arus modal asing dan sentimen pasar global juga akan menentukan pergerakan rupiah.

Bagaimana Dampaknya ke IHSG?

Kenaikan suku bunga AS juga perlu diperhatikan investor saham Indonesia.

Jika yield Treasury AS meningkat, sebagian investor global dapat melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, termasuk saham di emerging market.

Hal tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap IHSG, terutama apabila dibarengi penguatan dolar AS dan kenaikan yield obligasi global.

Sektor yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap suku bunga dan arus modal asing juga perlu mendapat perhatian.

Namun, kenaikan The Fed tidak otomatis berarti IHSG pasti turun. Investor tetap akan mempertimbangkan kinerja emiten, valuasi saham, kebijakan Bank Indonesia serta prospek ekonomi domestik.

Harga Emas Bisa Menghadapi Tekanan

Investor emas juga perlu mencermati keputusan The Fed.

Secara teori, kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan opportunity cost memegang emas karena emas tidak memberikan bunga.

Jika dolar AS menguat dan yield Treasury meningkat secara bersamaan, emas dapat menghadapi tekanan.

Namun, emas memiliki faktor pendukung lain, terutama ketidakpastian geopolitik dan kekhawatiran terhadap inflasi. Karena itu, respons harga emas terhadap keputusan The Fed tidak selalu bergerak satu arah.

Bagaimana dengan Bitcoin dan Aset Kripto?

Aset kripto juga berpotensi menghadapi volatilitas tinggi jika The Fed mengambil sikap lebih hawkish.

Suku bunga yang lebih tinggi umumnya membuat likuiditas global lebih ketat dan dapat mengurangi selera investor terhadap aset berisiko tinggi.

Bitcoin dan aset kripto lainnya juga sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga, dolar AS dan likuiditas global.

Investor sebaiknya tidak hanya melihat keputusan suku bunga, tetapi juga memperhatikan bahasa yang digunakan The Fed mengenai arah kebijakan berikutnya.

Trump Mendorong Suku Bunga Lebih Rendah

Keputusan The Fed kali ini juga menarik karena berlangsung di tengah tekanan politik dari Presiden AS Donald Trump.

Baca Juga :  Harga Mobil Bekas September 2026: Avanza, Brio, Xpander hingga Innova, Mulai Rp60 Jutaan

Trump sebelumnya menyerukan agar Amerika Serikat memiliki tingkat suku bunga yang sangat rendah. Pernyataan tersebut muncul menjelang pertemuan The Fed, ketika pasar justru semakin memperkirakan kenaikan suku bunga akibat inflasi yang kembali menguat.

Di sisi lain, The Fed perlu menjaga independensi kebijakan moneternya dan memastikan ekspektasi inflasi tetap terkendali.

Pasar Menunggu Sinyal Kevin Warsh

Selain keputusan suku bunga, perhatian investor akan tertuju pada komunikasi Ketua The Fed Kevin Warsh.

Warsh menghadapi tantangan besar karena pasar ingin mengetahui apakah kenaikan September hanya bersifat satu kali atau menjadi awal dari siklus pengetatan baru.

Reuters melaporkan pasar bahkan mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga tambahan hingga 2027.

Karena itu, konferensi pers dan proyeksi ekonomi The Fed bisa menjadi lebih penting daripada angka kenaikan 25 bps itu sendiri.

Jadwal Penting The Fed September 2026

Pertemuan FOMC berlangsung pada 15–16 September 2026.

Keputusan kebijakan moneter dijadwalkan keluar pada 16 September.

Investor akan mencermati setidaknya lima hal:

  1. Keputusan suku bunga The Fed.
  2. Proyeksi suku bunga atau dot plot.
  3. Proyeksi inflasi Amerika Serikat.
  4. Pandangan terhadap pertumbuhan ekonomi dan pasar tenaga kerja.
  5. Pernyataan Kevin Warsh mengenai kemungkinan kenaikan berikutnya.

Skenario yang Perlu Diantisipasi Investor Indonesia

Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga 25 bps dan memberikan sinyal masih hawkish, dolar AS dan yield Treasury berpotensi tetap tinggi. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap rupiah dan aset emerging market.

Sebaliknya, apabila The Fed menaikkan suku bunga tetapi memberikan sinyal bahwa kenaikan tersebut merupakan langkah terakhir, pasar dapat merespons lebih positif karena ketidakpastian kebijakan berkurang.

Skenario paling agresif bagi pasar adalah jika The Fed menaikkan suku bunga sekaligus memberikan sinyal bahwa kenaikan tambahan masih diperlukan.

Dalam kondisi tersebut, investor perlu mewaspadai kombinasi dolar AS menguat, yield Treasury tinggi, rupiah tertekan dan volatilitas IHSG meningkat.

Kesimpulan

The Fed kini berada di persimpangan penting. Data inflasi AS yang lebih kuat dan lonjakan harga minyak telah mengubah ekspektasi pasar secara drastis.

Mayoritas ekonom yang disurvei Reuters kini memperkirakan kenaikan 25 bps ke 3,75%–4,00% pada September. Namun, keputusan tersebut belum resmi dan baru akan diketahui setelah FOMC menyelesaikan pertemuannya pada 16 September 2026.

Bagi investor Indonesia, perhatian tidak cukup hanya pada keputusan The Fed. Rupiah, IHSG, harga emas, yield obligasi dan aliran modal asing berpotensi ikut bergerak berdasarkan bagaimana The Fed mengomunikasikan arah kebijakan setelah September.

Dengan kata lain, 25 bps bukan satu-satunya angka yang harus diperhatikan. Pesan The Fed mengenai suku bunga berikutnya justru bisa menjadi penggerak utama pasar keuangan global. (*)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Besok 1 November 2026, Apakah Harga BBM Naik? Ini Daftar
Bank Mandiri Beri Kredit Rp40 Triliun kepada Perusahaan Haji Isam
Dolar AS Tembus Rp18.150, Ini Dampaknya bagi Harga Emas, BBM, dan Daya Beli Masyarakat
Harga BBM Hari Ini 29 Oktober 2026 di Jambi, Sumbar, Riau dan Sumut, Pertamax Tembus Rp16.650
Harga Emas Antam Hari Ini 29 Oktober 2026 Turun Rp11.000, Buyback Ikut Melemah
IHSG Dibuka Menguat ke 5.286, Saham GOTO dan BUMI Naik, The Fed Jadi Sorotan
Harga Emas Pegadaian Hari Ini 29 Oktober 2026: Antam Rp2,6 Juta, Cek Tabel UBS dan Galeri 24
The Fed Tahan Suku Bunga di 4%, Rupiah Tertekan dan Investor Menanti Keputusan Berikutnya
Berita ini 33 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 21:00 WIB

Besok 1 November 2026, Apakah Harga BBM Naik? Ini Daftar

Jumat, 30 Oktober 2026 - 11:25 WIB

Bank Mandiri Beri Kredit Rp40 Triliun kepada Perusahaan Haji Isam

Kamis, 29 Oktober 2026 - 16:56 WIB

Dolar AS Tembus Rp18.150, Ini Dampaknya bagi Harga Emas, BBM, dan Daya Beli Masyarakat

Kamis, 29 Oktober 2026 - 11:00 WIB

Harga BBM Hari Ini 29 Oktober 2026 di Jambi, Sumbar, Riau dan Sumut, Pertamax Tembus Rp16.650

Kamis, 29 Oktober 2026 - 10:07 WIB

Harga Emas Antam Hari Ini 29 Oktober 2026 Turun Rp11.000, Buyback Ikut Melemah

Berita Terbaru

Bisnis

Besok 1 November 2026, Apakah Harga BBM Naik? Ini Daftar

Sabtu, 31 Okt 2026 - 21:00 WIB