Jakarta-Bank Indonesia (BI) menyatakan kebijakan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) pada Mei hingga Juni 2026 mulai menunjukkan hasil positif. Langkah tersebut dinilai berhasil menjaga stabilitas sistem keuangan, menarik aliran modal asing, sekaligus meredam tekanan inflasi di tengah gejolak ekonomi global.
Penjabat Sementara (Pjs) Gubernur BI, Destry Damayanti, menjelaskan kebijakan pengetatan moneter diambil sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian global. Saat itu, ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed), lonjakan harga minyak dunia, serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah menjadi tantangan utama bagi perekonomian Indonesia.
Menurut Destry, kenaikan BI Rate membuat aset berdenominasi rupiah menjadi lebih menarik bagi investor. Dampaknya mulai terlihat pada kuartal II 2026, ketika aliran modal asing ke instrumen Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai sekitar US$9 miliar, sehingga memperkuat cadangan devisa nasional.
Di sisi lain, fungsi intermediasi perbankan tetap berjalan baik. Pertumbuhan kredit hingga Juni 2026 masih berada di atas 12 persen, menunjukkan aktivitas pembiayaan kepada dunia usaha tetap kuat meskipun suku bunga acuan dinaikkan.
Bank Indonesia juga mencatat perkembangan positif pada inflasi. Inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) turun dari level di atas 5 persen menjadi sekitar 2,5 persen. Sementara itu, inflasi inti tetap terjaga di kisaran 2,76 persen, menandakan permintaan domestik masih stabil tanpa memicu tekanan harga berlebihan.
Secara keseluruhan, inflasi tahunan Indonesia pada Juli 2026 tercatat sebesar 2,88 persen. Angka tersebut menunjukkan tren penurunan dibanding bulan sebelumnya dan masih berada dalam kisaran sasaran Bank Indonesia bersama pemerintah. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa stabilitas harga mulai pulih.
Masuknya modal asing serta inflasi yang lebih terkendali ikut membantu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. BI menilai pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir semakin terkendali, sehingga risiko gejolak di pasar keuangan dapat ditekan di tengah ketidakpastian global.
Ke depan, Bank Indonesia menegaskan akan tetap mengedepankan kebijakan yang berorientasi pada stabilitas ekonomi. Di tengah dinamika global yang masih tinggi, BI optimistis kombinasi kebijakan moneter, pengendalian inflasi, dan koordinasi dengan pemerintah mampu menjaga kepercayaan investor sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi nasional.
FAQ
Apakah BI benar-benar menaikkan suku bunga 100 bps?
Ya. Kenaikan dilakukan secara akumulatif pada Mei dan Juni 2026.
Berapa modal asing yang masuk?
Sekitar US$9 miliar ke instrumen SBN dan SRBI pada kuartal II 2026.
Bagaimana kondisi inflasi Indonesia?
Inflasi tahunan Juli 2026 tercatat 2,88 persen, sementara inflasi inti berada di level 2,76 persen. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta








