Jakarta-Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Selasa, 28 Juli 2026. Mata uang Garuda ditutup melemah 26,5 poin atau 0,15 persen ke level Rp17.962 per dolar Amerika Serikat (AS). Pelemahan ini terjadi ketika pelaku pasar global memilih bersikap hati-hati menjelang hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Bank Sentral Amerika Serikat.
Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) masih menunjukkan penguatan tipis ke level 101,54. Kondisi tersebut membuat mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, menghadapi tekanan tambahan di pasar keuangan.
Direktur PT Traze Andalan Futures, Ibrahim Assuaibi, mengatakan sebagian besar pelaku pasar memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan. Probabilitasnya diperkirakan mencapai sekitar 62 persen. Meski demikian, investor tetap menunggu pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, yang dinilai akan memberikan sinyal arah kebijakan moneter beberapa bulan mendatang.
Selain faktor global, sentimen domestik turut memengaruhi pergerakan rupiah. Pengunduran diri Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia memunculkan kekhawatiran mengenai proses transisi kepemimpinan bank sentral. Pasar berharap pemerintah segera menunjuk gubernur definitif agar kepercayaan investor tetap terjaga.
Analis menilai kepemimpinan baru Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga kredibilitas kebijakan moneter. Di tengah tekanan nilai tukar, arus keluar modal asing, serta ketidakpastian ekonomi global, stabilitas bank sentral menjadi perhatian utama investor.
Di pasar komoditas, harga minyak dunia yang sempat melonjak akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga masih menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Kenaikan harga energi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global sehingga mempersempit ruang bagi bank sentral untuk menurunkan suku bunga.
Untuk perdagangan Rabu, 29 Juli 2026, rupiah diperkirakan masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah. Proyeksi pergerakan berada pada kisaran Rp17.960 hingga Rp18.020 per dolar AS, tergantung hasil rapat FOMC dan respons pasar terhadap pernyataan pejabat The Fed.
Bagi masyarakat, pelemahan rupiah dapat berdampak pada harga barang impor, biaya perjalanan luar negeri, hingga nilai investasi berbasis dolar AS. Karena itu, keputusan The Fed pekan ini menjadi salah satu agenda ekonomi global yang paling dinantikan.
FAQ
Mengapa rupiah melemah hari ini?
Rupiah melemah karena investor menunggu keputusan suku bunga The Fed, menguatnya dolar AS, serta adanya sentimen domestik terkait transisi kepemimpinan Bank Indonesia.
Berapa kurs rupiah terhadap dolar AS pada 28 Juli 2026?
Rupiah ditutup di level Rp17.962 per dolar AS, melemah 26,5 poin atau 0,15 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.
Apa itu FOMC?
FOMC (Federal Open Market Committee) adalah komite di Bank Sentral Amerika Serikat yang menentukan kebijakan suku bunga acuan dan arah kebijakan moneter.
Apakah rupiah masih bisa melemah?
Analis memperkirakan rupiah masih berpotensi bergerak di kisaran Rp17.960 hingga Rp18.020 per dolar AS pada perdagangan berikutnya, bergantung pada hasil FOMC dan sentimen global.
Apa dampak pelemahan rupiah bagi masyarakat?
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan harga barang impor, biaya pendidikan dan perjalanan ke luar negeri, serta memengaruhi harga produk yang menggunakan bahan baku impor. (Tim)
Editor : Fanda Yosephta









