DPR Resmi Sahkan UU PFII, Indonesia Bidik Investasi Rp500 Triliun dan Siap Saingi Singapura hingga Dubai

Avatar photo

- Jurnalis

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oplus_131072

Oplus_131072

JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) resmi mengesahkan Rancangan Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) menjadi undang-undang dalam rapat paripurna yang digelar Selasa (21/7/2026). Kehadiran regulasi baru ini menjadi langkah besar pemerintah untuk membangun pusat keuangan bertaraf internasional yang diharapkan mampu menarik investasi asing hingga ratusan triliun rupiah.

Pemerintah menilai Indonesia memiliki potensi ekonomi terbesar di Asia Tenggara, tetapi belum memiliki kawasan keuangan global yang mampu bersaing dengan pusat finansial dunia seperti Singapura, Hong Kong, maupun Dubai. Melalui UU PFII, pemerintah ingin menciptakan ekosistem investasi yang lebih kompetitif sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pasar keuangan internasional.

Pengesahan dilakukan setelah seluruh fraksi DPR menyetujui hasil pembahasan bersama pemerintah di Komisi XI. Ketua DPR Puan Maharani kemudian meminta persetujuan seluruh anggota dewan sebelum mengetok palu pengesahan. Dengan demikian, Indonesia resmi memiliki dasar hukum untuk membentuk kawasan pusat finansial internasional pertama.

UU PFII mengatur pembentukan otoritas khusus yang bertanggung jawab mengelola kawasan tersebut. Otoritas ini memiliki kewenangan memberikan pelayanan investasi, mengurus perizinan terpadu, serta memastikan seluruh aktivitas bisnis berjalan sesuai standar internasional. Langkah ini diharapkan memangkas birokrasi yang selama ini menjadi tantangan bagi investor global.

Salah satu daya tarik utama PFII adalah pemberian berbagai insentif fiskal. Pemerintah menyiapkan fasilitas berupa keringanan Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN), Pajak Penjualan atas Barang Mewah (PPnBM), hingga bea masuk. Dalam pembahasan di DPR, bahkan muncul usulan pemberian insentif pajak hingga 100 persen selama maksimal 50 tahun bagi investasi yang memenuhi ketentuan.

Baca Juga :  Harga Emas di Pegadaian Hari Ini Kamis 21 Mei 2026: Antam, UBS dan Galeri24 Kompak Jadi Buruan

Selain insentif perpajakan, pemerintah juga menjanjikan kepastian hukum melalui mekanisme penyelesaian sengketa yang lebih modern. Kawasan PFII dirancang memiliki pengadilan khusus dengan pendekatan hukum yang mengikuti praktik internasional sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor global.

Meski memiliki otoritas kawasan tersendiri, pengawasan sektor keuangan tetap berada di bawah kewenangan Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), dan lembaga terkait lainnya. Pemerintah menegaskan stabilitas sistem keuangan nasional tetap menjadi prioritas utama dalam pelaksanaan UU tersebut.

Kementerian Keuangan memperkirakan pembentukan PFII berpotensi mendatangkan investasi baru sebesar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun dalam beberapa tahun mendatang. Dana tersebut diharapkan mampu memperkuat pembiayaan proyek strategis nasional, memperluas lapangan kerja, meningkatkan likuiditas pasar keuangan, serta mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia secara berkelanjutan.

Selain menarik investor asing, keberadaan PFII juga diproyeksikan mempercepat inovasi sektor jasa keuangan, termasuk pengembangan instrumen investasi baru, pembiayaan infrastruktur, manajemen aset, hingga layanan keuangan digital. Dengan ekosistem yang semakin modern, Indonesia diharapkan menjadi salah satu pusat keuangan paling berpengaruh di kawasan Asia.

Namun demikian, sejumlah ekonom mengingatkan bahwa keberhasilan PFII tidak hanya bergantung pada insentif pajak. Kepastian regulasi, kualitas sumber daya manusia, infrastruktur digital, stabilitas politik, serta penegakan hukum yang konsisten akan menjadi faktor penentu daya saing Indonesia dalam menghadapi persaingan global.

Baca Juga :  Tax Planning Moves That Could Save Thousands of Dollars This Year

Apabila implementasi berjalan sesuai rencana, UU PFII dapat menjadi salah satu reformasi ekonomi terbesar dalam beberapa dekade terakhir. Kehadirannya diharapkan mampu membawa Indonesia memasuki babak baru sebagai tujuan utama investasi internasional sekaligus memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional.

FAQ

Apa itu UU PFII?
UU PFII adalah Undang-Undang tentang Pusat Finansial Internasional Indonesia yang menjadi dasar hukum pembentukan kawasan keuangan bertaraf internasional.

Apa tujuan pembentukan PFII?
Menarik investasi global, memperdalam pasar keuangan nasional, meningkatkan daya saing Indonesia, serta memperluas akses pembiayaan.

Berapa potensi investasi yang diperkirakan masuk?
Pemerintah memperkirakan investasi yang masuk melalui PFII dapat mencapai sekitar Rp300 triliun hingga Rp500 triliun.

Apa saja insentif yang ditawarkan?
Meliputi insentif Pajak Penghasilan (PPh), PPN, PPnBM, bea masuk, kemudahan perizinan, dan berbagai fasilitas investasi lainnya sesuai ketentuan.

Apakah BI dan OJK tetap mengawasi sektor keuangan?
Ya. Pengawasan tetap dilakukan oleh Bank Indonesia, OJK, LPS, dan regulator terkait sesuai kewenangan masing-masing.

Siapa yang paling diuntungkan dengan hadirnya PFII?
Investor domestik dan asing, pelaku industri keuangan, perusahaan global, serta sektor ekonomi yang membutuhkan pembiayaan jangka panjang. (Tim)

Editor : Fanda Yosephta

Berita Terkait

Defisit APBN Semester I 2026 Capai Rp196,5 Triliun, Apa Dampaknya bagi Ekonomi, Pajak, dan Investasi?
Bunga Deposito Bank Digital Terbaru Juli 2026: Krom Bank dan Allo Bank Tawarkan Hingga 8%, Simak Daftar Lengkapnya
Harga Pertamax Berpotensi Turun Agustus 2026? Bahlil Buka Peluang, Ini Syarat dan Perkiraan Dampaknya
Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu Utama
Harga Emas Antam Terbaru Selasa, 21 Juli 2026: Berikut Daftar Harga di Pegadaian
Best High-Yield Savings Accounts 2026: Top Accounts Offering Up to 4.50% APY
Daftar Bunga Deposito Terbaru 20 Juli 2026: BRI, BNI, dan Bank Mandiri, Mana yang Memberikan Imbal Hasil Terbaik?
IHSG Ditutup Menguat 0,91% ke 6.231, Saham BNBR, TLKM, dan BBRI Pimpin Reli Bursa
Berita ini 12 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 21 Juli 2026 - 18:51 WIB

Defisit APBN Semester I 2026 Capai Rp196,5 Triliun, Apa Dampaknya bagi Ekonomi, Pajak, dan Investasi?

Selasa, 21 Juli 2026 - 17:04 WIB

Bunga Deposito Bank Digital Terbaru Juli 2026: Krom Bank dan Allo Bank Tawarkan Hingga 8%, Simak Daftar Lengkapnya

Selasa, 21 Juli 2026 - 15:00 WIB

DPR Resmi Sahkan UU PFII, Indonesia Bidik Investasi Rp500 Triliun dan Siap Saingi Singapura hingga Dubai

Selasa, 21 Juli 2026 - 10:33 WIB

Harga Pertamax Berpotensi Turun Agustus 2026? Bahlil Buka Peluang, Ini Syarat dan Perkiraan Dampaknya

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:20 WIB

Rupiah Hari Ini Diproyeksi Melemah ke Rp18.000 per Dolar AS, Konflik AS-Iran Jadi Pemicu Utama

Berita Terbaru